Rumah Sebelah Mushola
Rumah di Samping Mushola. Kamis Legi, D’Wiga Regency, saat hujan deras di siang hari.

Deras tetes demi tetes buih hujan membasahi tanah yang kita pijak dirumah ini. Ehh… Bukan lagi tanah, tapi paving yang tersusun agak rapi dengan dendangan “mana mungkin selimut tetangga hangati tubuhku dengan keindahan” yang terdengar menggema dari aula tempat kita bercengkrama, berdiskusi, rapat dan berdoa. Gambaran imajinasi yang linier antara menghitung tetes air hujan yang jatuh berbanding dengan kemegahan indahnya selimut tetangga.

Sebagian dari mereka sibuk merapikan bangunan dengan alat pertukangan, sebagian lain sibuk di kamar dengan apa yang mereka sebut “cerita nabi-nabi”. Ada yang asik bercengkrama memutar otak dipadukan dengan ketikan lirih di keyboard laptopnya, ada pula yang asik memelototi tayangan yang disediakan oleh website tertentu. dan seseorang diantaranya entah bingung atau kenapa tidak jelas apa yang sedang dilakukan, hanya sesekali manggut-manggut dan melontarkan satu dua bait pengalan lagu yang dia tahu.

Indah nian rumah ini, yang dulu semua nyawa harus siaga ketika hujan, kini megah beda dengan rumah yang ada meja billyard dan pohon mangganya. Indahnya rumah ini yang ketika hujan semua bisa beraktifitas seperti biasa, beda seperti rumah dulu yang kita kenal saat hujan turun semua mata berbaris siaga memantau apakah air bah akan menggenangi lantai atau tidak, ada juga yang pobhia bahwa kamar yang ditempatinya akan roboh seketika saat hujan turun lebat. Itulah sedikit penggalan kata tentang rumah kita.

Semua tangan pasti berjasa dengan rumah baru megah nan indah ini. Mulai dari keringat baik panas ataupun dingin, darah yang mengucur baik yang mengucur karena tergores material bangunan ataupun darah yang memang waktunya keluar karena sudah jatuh tempo tanggalnya (hehehe), materi yang sudah disumbangkan baik materiil ataupun material (bangunan), doa yang istiqomah dilantunkan meskipun yang melantunkan pun kadang tidak istiqomah (hehehe).

Alhamdulillah kini rumah kita sudah cantik. Para pemuda dan pemudi bisa mengagendakan diskusi hingga resepsi pernikahannya disini. Para tetua pun bebas untuk menggojlok dan digojok, hingga di-bully untuk traktiran dalam rangka ulang tahunnya yang entah sudah tiga kali dalam setahun diisukan berulang-ulang. Ada pula yang merasa sungkan ketika sesepuh bermobil singa jingkrak merah datang pagi buta dan membersihkan piring, gelas, sendok dan seadanya di dapur yang belum berbentuk dapur. Sebagian lain (seperti saya) merasa nyaman memejamkan mata dan terninabobokkan dengan suara “gemblodak” yang dihasilkan dari ritual pensucian dapur yang dilakukan oleh sesepuh “pesoet merah”.

Itulah deskripsi ngawur tentang gubug perjuangan-d’Wiga pojok samping mushola. Semoga filoshofi air hujan(yang sesungguhnya/bukan yang ditulis diatas) bisa menginspirasi kita 🙂

1 COMMENT

  1. Buat acara nobar, bedah film, baca puisi, dan lainnya juga menarik kayaknya. Yuuk manfaatkan rumah ini untuk berkativitas lebih banyak lagi. Syukur-syukur kalau rumah ini bisa memunculkan beragam karya intelektual kreatif. Itulah sebenarnya mimpi pemilik Peugeot itu.

    Chayoo