Indonesia. . . tet tet tet tet teettt. . . . Indonesia. .tet tet tet tet teeettttt. . .

Bapak-bapak pejabat yang terhormat, saya mohon maaf jikalau tulisan ini akhirnya muncul dan diupload. Cuma pengen curhat dan berkomentar aja sih, Pak. Lagian bapak-bapak juga gak usah bingung dengan isi tulisan ini. Kan selama ini juga bapak-bapak gak pernah ngurus masalah yang beginian.

Sebagai seorang yang memiliki hobi dan kegilaan dalam sepak bola, agaknya saya cukup tercengang dengan kondisi persepakbolaan yang sedang terjadi. Tapi, saya juga sadar bahwa meskipun saya dan beberapa oknum tersebut tercengang wal miris juga tidak akan berimbas apapun. Masalah ini-kan sudah lama ya, Pak? Sejak Jamannya Pak Nurdin sampai hari ini dibawah komando Yang Mulia La Nyalla.

Saya masih ingat dengan pelajaran yang diberikan oleh guru Geografi dahulu. Pak Guru bilang bahwa jumlah kepala yang ada di Indonesia pada tahun 2002 hampir menyentuh angka 200 juta nyawa. Tapi, itukan 2002 ya, Pak. Sekarang pasti angka tersebut tidak banyak berubah, kan ada program unggulan dua anak cukup.

Nahh, setelah mendapatkan info tersebut. Sampai hari ini otak saya selalu berputar dan bertanya “Masak ya nyari 11 orang untuk mengharumkan nama Indonesia saja tidak bisa?”. Lha wong Negara ini lebarnya aja meh 10 kali lipat Negaranya Simbok ELizabeth. Kok ya nyari 11 orang saja masya’allah angele megilan.

Agaknya kita memang gak bisa move on dari Jasmerahnya Bung Karno. “Berikan aku sepuluh pemuda. Maka akan ku guncangkan dunia”. Padahal, di sepak bola bermain dengan 10 pemain adalah sebuah kerugian. Namun, saya juga tidak mau menyalahkan Bung Karno. Bagaimanapun, beliau adalah Bapak Proklamator dan ayah dari Maha Ratu Megawati.

Bapak-bapak pejabat yang insya’allah akan menjadi penghuni Surga Firdaus. Saya sangat menghargai dan apresiasi kepada bapak-bapak atas semua kerja keras dan usaha yang telah dilakukan. Mulai dari memberikan kerjaan bagi Evan Dimas Dkk untuk kejar setoran Tur Nusantara. Sampai pada usaha Bapak JK menggandeng Bank Qatar untuk penyelenggaraan kompetisi sepak bola kita. Semoga kita diberikan syafa’at di akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.

Khususon kepada Pak Menpora. Saya sangat salut dengan keputusan yang bapak ambil. Bapak tak ubahnya oase ditengah-tengah gurun sahara, Pak (apalagi suhu di Timur Tengah saat ini mencapai 44 derajat Celsius). Gak usah bingung dengan para haters, Pak. Namanya haters, mereka diciptakan untuk mengkritik dan mem-bully orang lain. Maju terus, Pak Nahrowi!

Teruntuk bapak Presiden, saya juga mengucapkan terima kasih atas komentar rapopo-nya. Komentar tersebut mengisyaratkan bahwa bapak adalah presiden yang qona’ah dan ikhlas atas apapun yang terjadi dengan Negara ini. Bapak memang cerminan masyarakat kita yang senantiasa pasrah dan nerimo terhadap semua hal. Semoga proyek tol lautnya segara terwujud dan bisa mempertemukan Spongebob dengan Woody Woodpacker.

Dan untuk kita semua, para hadirin pembaca dan yang belum sempat membaca. Semoga kita diberikan kesabaran dan keikhlasan sebagaimana kita menunggu munculnya kata ikhlas dalam surat Al-Ikhlas. Semoga kita juga termasuk dalam umat yang diberkahi dan diridhoi Allah SWT.

Sebelum  menutup tulisan, saya haturkan beribu hormat kepada Coach Indra Syafri yang sudah memberikan segenap upaya terhadap kemajuan persepakbolaan tanah air. Mungkin bapak bisa melatih di Negara lain yang punya visi dan misi yang sama dengan Bapak. Dan untuk Coach Aji Santoso, saya salut dengan keberanian bapak atas semua hal yang terjadi. Di Negara ini, tidak banyak makhluk bermental baja seperti bapak. Dibantai berulang kali, namun tetap teguh hingga lupa untuk mundur.

Sebagai penutup, saya berikan pantun untuk dijadikan sedikit renungan hasil njiplak tweetnya Dik Helbaz. “Karena hanya Sepak Bola dan Musik, yang bisa menyatukan Negara yang sedang terusik”.