Teruntuk semuanya. Kami begitu berbangga akhirnya mampu berujar mengenai apa yang kami rasakan dahulu.

Kami Generasi 90an adalah generasi pinilih dari Tuhan. Generasi yang begitu berbahagia karena masa kecil kami begitu indah. Kami adalah saksi perubahan zaman, dari zaman sinar rembulan menuju zaman listrik. Dari orde baru menuju reformasi.

Masa kecil kami begitu beragam, kami menikmati permainan gobak sodor, nekeran, hingga lompat tali. Di era kami, menunggu bulan purnama untuk bermain petak umpet di malam hari adalah penantian terbaik yang pernah kami lakukan. Beda dengan generasi sekarang, yang begitu mengagungkan penantian kedatangan atau pertemuan dengan seseorang.

Berlari ke tempat tertinggi, lantas berlari untuk menunggunya turun via google
Berlari ke tempat tertinggi untuk melepaskannya via google

Kami tak pernah malu mendongak ke atas sembari berteriak minta uang setiap ada pesawat lewat. Beda dengan anak zaman sekarang. Jangankan bermain di hamparan tanah di bawah langit biru, berkumpul untuk saling ejek-ejekan saja mungkin jarang. Anak zaman sekarang lebih sibuk bermain di dalam rumah, dengan Playstation atau Gadget di tangan mereka. Itulah mengapa generasi 90an lebih terbuka dan pengertian. Tidak seperti generasi sekarang yang mudah tersinggung hanya karena ejekan seorang teman.

Gelembung yang dihasilkan menandakan perjuangan yang dilakukan via google
Besar gelembung sama dengan usaha yang dikeluarkan via google

Di era kami memang belum mengenal Pizza atau Hamburger. Namun, kami begitu berbahagia menikmati Fujimie, Boyki dan Es Lilin. Kami adalah saksi hidup dilegalkannya merokok bagi anak di bawah umur. Permen rokok yang dibuat persis seperti Rokok Marlboro dengan rasa manis di dalamnya. Kami juga merasakan uniknya permen coklat berbentuk payung yang hari ini hampir mengalami kepunahan. Di era kami juga muncul permen bernama Sugus, yang warna-warni seperti pelangi. Sekarang mana ada?

Masih ingat dengan jajanan ini?
Masih ingat dengan jajanan ini?

Dahulu, Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu. Kini tak lebih dari waktu yang jemu. Meski televisi masih menjadi barang langka. Kami adalah saksi dahsyatnya kisah cinta Bibi Lung dan Yoko. Kami juga begitu berbahagia tiap hari disuguhi pendekar bernama Sun Go Kong. Dan di generasi kami-lah, muncul banyak penguasa baru macam Dewa Judi dan Manusia Millenium. Dan kami, adalah saksi dahsyatnya kekuatan Inspektur Vijay yang senantiasa menumpas penjahat bernama Tuan Takur.

Entah mengapa pink selalu lebih cantik daripada kuning via google
Entah mengapa pink selalu lebih cantik daripada kuning via google

Meski terkadang melihat televisi dengan mata ditutup tangan atau bantal, kami tak lantas melewatkan kengerian wajah Suzana. Kami pun begitu menggilai sinetron maha panjang berjudul Tersanjung, meski dengan karakter Indah yang berganti sekian generasi. Berbeda dengan generasi sekarang, sinetron muncul dengan karakter yang aneh. Dari situ, setidaknya, kami sadar akan pergeseran zaman. Jika dahulu hewan seolah ingin menjadi manusia seperti Pendekar Ular Putih. Sekarang malah manusia ingin berubah menjadi hewan macam Ganteng-Ganteng Serigala.

Di kamar kami banyak terpampang poster Pedro dan Ana, yang menjadi trendsetter lewat Telenovela Amigos X Siempre. Ya. Kami adalah generasi yang menunjukkan kekaguman pada seseorang dengan membeli poster, bukan menyimpannya di laptop atau Handphone. Karena bagi kami poster lebih mengena, daripada sekedar dulinan di dunia maya.

Dia adalah Si Poltak dari Medan, bukan politisi Pemerintahan
Si Poltak dari Medan, bukan politisi Pemerintahan Via Google

Kami adalah generasi yang senantiasa membawa kaset kemana-mana. Kami selalu berbahagia ketika ke suatu tempat dan di tangan kami ada Walkman, meski tak secanggih Iphone atau Ipad. Bagi kami, mendengarkan musik bisa dilakukan dengan mengirim atensi ke stasiun radio. Bukan merengek meminta uang untuk beli paketan, lantas mendengarkan lagu di Youtube atau Soundcloud.

Generasi kami memang tak segaul generasi sekarang. Tidak ada kosakata “keless”, “baper”, “maacih”, atau juga “btw”. Namun, kami punya “gile lu, Ndro”, “survei membuktikan!” atau “dengan kekuatan bulan akan menghukummu” yang hingga hari ini masyhur dan tetap enak didengar.

Jika kamu tau bagaimana cara melafalkannya via google
Jika kamu tau bagaimana cara melafalkannya via google

Kami juga belum mengenal Facebook, Instagram atau BBM yang kini begitu dibanggakan. Tapi kami begitu berbahagia karena kami adalah generasi yang hampir semuanya pernah menghasilkan karya, meskipun dalam bentuk surat cinta. Setidaknya, kami juga tau bahwa takdir Tuhan tentang jodoh memang benar. Kami adalah bukti bahwa cinta ayah dan ibu kami akhirnya bersatu meskipun dipisahkan ruang dan waktu.

Beda anak zaman dahulu dan sekarang via google
Beda anak zaman dahulu dan sekarang via google

Begitulah kami, Generasi 90an. Yang dibentuk dengan perjuangan dan penuh kebebasan. Kami adalah generasi yang melewati masa kecil dengan linangan keringat, bukan dengan duduk manis di bawah guyuran sejuknya suhu pendingin ruangan.

Salam manis dari kami, Generasi 90an. Yang selalu berharap zaman tak pernah lebih buruk dari apa yang pernah kami rasakan.