Perempuan hampir tak pernah lepas dari diskriminasi dan ekploitasi. Proses ini menjalar di setiap sisi kehidupan dalam rentang waktu yang sudah sangat panjang.

Secara garis besar eksploitasi terhadap perempuan terbagi menjadi dua kategori. Pertama, eksploitasi perempuan secara fisik. Menjadikan fisik perempuan untuk dikuras tenaganya. Kedua, eksploitasi tubuh perempuan. Dalam kategori ini, tubuh perempuan dijadikan sebagai komoditi yang bisa dijual dan bisa mendapatkan keuntungan. Tak jarang kita jumpai tubuh perempuan dijadikan alat untuk melariskan dagangan. Rokok misalnya, tentu dengan mudah anda jumpai SPG (sales promotion girl) berwajah cantik dengan balutan pakaian seksi yang berjalan menawarkan produknya di tengah kerumunan pria.

Membincang soal SPG rokok, ada satu kisah menarik tentang eksploitasi perempuan di masa silam. SPG rokok yang cantiknya centar membahenol tak cukup dikaji dari sudut pandang gender saja. Kajian historis juga dapat berperan penting untuk membantu pemahaman kenapa rokok identik dengan SPG yang hemmmm hahayyy.

Syahdan, seorang perempuan bernama Roro Mendut. Ia adalah gadis seserahan dari kadipaten Pati untuk kerajaan mataram. Berbeda dengan gadis-gadis lain, Roro mendut adalah sosok perempuan yang sangat aktif dan teguh dalam memegang prinsipnya.

Perawakan cantik, cerdas dan aktif yang dimilikinya ternyata menarik perhatian Tumenggung Wiraguna. Tumenggung ini kemudian berusaha menjadikan Roro mendut sebagai selir. Perempuan cantik ini menolaknya. Ia tak mau pasrah dalam ketertundukan pada kekuasaan.

Mendengar penolakan Roro mendut, Wiraguna merasa terhina. Martabat dan kehormatannya sebagai panglima perang kerajaan Mataram yang juga menguasai Kadipaten Pati diruntuhkan hanya oleh seorang perempuan biasa. Atas alasan itu Wiraguna menekan Roro mendut dengan memberlakukan pajak yang sangat tinggi terhadapnya.

Berbekal kecantikan dan kecerdasannya Mendut tidaklah kekurangan akal untuk menangkal tekanan Wiraguna. Mendut menjual rokok yang telah ia hisap dulu sebelum dijual. Para lelaki rela membeli rokok Mendut dengan harga mahal. Sudah barang tentu pesona dan sugesti rokok bekas hisapan Mendut lah yang menjadi alasannya. Banyak lelaki dengan suka rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli rokok Mendut. Hasil penjualan rokok tersebut dipakainya untuk membayar pajak tinggi yang ditetapkan oleh Wiraguna.

Wiraguna semakin tak bisa mengendalikan amarahnya. Ia kembali menaikkan pajak . Namun lagi-lagi Mendut sanggup membayar pajak itu. Hingga akhirnya Mendut melarikan diri dengan pria yang dicintainya yakni Pranacitra. Mengetahui hal itu Wiraguna yang kalap dengan tak segan-segan mencarinya sampai ketemu dan membunuh Pranacitra. Mendut yang mengetahui kekasihnya mati dibunuh panglima perang Mataram itu akhirnya bunuh diri untuk menemani kekasih tercintanya di alam baka.

Kembali ke topik mengenai eksploitasi perempuan, dari kisah ini bisa kita ambil kesimpulan yang cukup menarik. Dengan prinsip kuat Mendut mampu melawan eksploitasi dan penindasan dari Wiraguna. Penindasan dalam bentuk pajak yang tinggi dapat ia atasi. Prinsip pula lah yang menyebabkan Mendut terhindar dari hasrat lelaki yang berniat mempersuntingnya menjadi selir.

Mendut memang sosok kuat dengan prinsip tak mau tunduk atas nama gender maupun kekuasaan. Tapi ia juga menginspirasi eksploitasi tubuh perempuan di era kapitalisme modern. Karena Mendut, SPG menjadi alat yang ampuh dalam menaklukkan pembeli rokok yang mayoritasnya adalah laki-laki penyuka gadis seksi.

Akhirul kalam, semoga amal ibadah Mendut diterima di sisi Sang Hyang Widi. Salah khilaf dan luput-nya diampuni oleh Gusti Sangkan Paraning Dumadi.

Sumber gambar: http://ciricara.com/2014/01/28/cara-aman-jadi-seorang-spg/