Mega proyek Hambalang dibangun sebagai pusat pendidikan pelatihan dan sekolah olahraga nasional. Lewat perjalanan panjang nan melelahkan, gedung ini belum beranjak dari status mangkrak sustainable. Terhitung pasca kasus korupsi dari zaman Pak Beye hingga hari ini belum tersentuh siapapun.

Berputar ke masa lalu, proyek ini diliputi kabut hitam pasca nama Nazaruddin dan Anas Urbaningrum mencuat ke permukaan. Dana sebesar Rp. 2,5 triliun menjadi saksi bisu gelontoran dana dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Masyarakat gundah-pejabat gaduh-media berisik, gambaran yang terjadi di masa itu.

Tidak bertahan lama, kasus Hambalang tetiba lenyap. Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi mejeng ke gedung Hambalang. Seketika pula Hambalang naik daun.

Dengan sangat sadar, tulisan ini tiada sedikitpun mencoba menggarisbawahi blusukan Jokowi. Gelisah, begitu kiranya mengapa penulis mengulas kembali mega proyek tersebut. Apalagi melihat di posisi bahwa hari ini Hambalang juga menjadi permasalahan lingkungan.

Diawal pembangunan, pemilihan lokasi proyek ini sebenarnya sudah menjadi bahan perbincangan. Pemilihan lokasi pembangunan diatas tanah dengan status rawan longsor sempat disangsikan oleh berbagai pihak. Berbagai penelitian ahli mengemukakan bahwa terdapat patahan di lapisan tanah yang cenderung membahayakan pembangunan gedung.

Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Baru beberapa waktu berdiri, sejumlah tanah di sekitar gedung longsor. Kejadian ini tentu saja membuat Kemenpora di masa itu kebakaran jenggot. Berbagai penyelidikan pun dilakukan, hingga akhirnya merambat pada permasalahan besaran rupiah pembebasan lahan.

Lebihjauh, kebermanfaatan proyek Hambalang sebenarnya sudah diidamkan sebagai salah satu public sphere oleh masyarakat. Selama ini, tanah Hambalang dijadikan sebagai media untuk bertani oleh warga sekitar. Namun, secara sah kepemilikan lahan dipegang oleh Probosutedjo, adik mantan presiden Soeharto. Dengan pembangunan Hambalang sebagai wisma sport center, secara langsung atau tidak langsung akan menjadi salah satu upaya peningkatan ruang terbuka hijau. Kebutuhan iklim organik pada sport center berimbas pada pengelolaan lingkungan yang memenuhi kaidah healthy ecosystem.

Konsepsi macam diatas memang belum terbukti pada pelaksanaan proyek Hambalang. Mengingat belum ada penelitian yang mengkaji secara spesifi. Lha piye? Bangunannya saja belum jadi, apa yang mau diteliti?

Setelah kian lama mangkrak, banyak pihak mengkhawatirkan jika fungsi gedung akan berubah menjadi wisata rohani dunia lain. Sudah menjadi rahasia umum jika masyarakat kita “demen” dengan hal-hal berbau mistis. Apalagi jika Mister Tukul bersama SPG seksinya sudah mengaung.

Pembangunan Hambalang yang kini rencananya akan diteruskan oleh Jokowi seyogyanya memberikan fokus pada keberlanjutan alam sekitar. Baik tanah yang tergolong rawan, pemangkasan lahan pertanian, hingga limbah yang akan dihasilkan nantinya. Perlu kajian khusus pada wilayah sustainable ecosystem, apalagi dengan proyeksi sebagai salah satu kawasan olahraga terbesar di Asia. Perlu pengkhususan dari sekedar upaya pengkhususan.

 

Sumber gambar: http://jurnalpolitik.com/wp-content/uploads/2016/03/hambalang.jpg