Tak perlu waktu lama bagi Rhoma Irama dan Soneta untuk merajai dunia hiburan Indonesia. Tiga tahun setelah peluncuran album perdananya, Soneta sudah mencapai puncak kesuksesan pada aras pementasan. Kesuksesan tersebut akhirnya menarik para produser untuk menyeret Rhoma Irama menuju layar perfilman.

Adalah “Oma Irama Penasaran,” sebuah judul film yang menjadi penanda awal masuknya dangdut dalam latar perfilman. Film ini merupakan karya ke dua A. Haris sebagai Seorang Sutradara. Sebelumnya, ia adalah seorang aktor yang telah malang melintang di dunia perfilman baik di Indonesia maupun Malaysia. Latar belakang A. Haris yang juga seorang pencipta lagu melayu, menjadikannya cocok bekerja sama dengan Rhoma Irama. Rhoma terobsesi untuk memodernkan musik Melayu sedangkan Haris berkehendak untuk melakukan hal yang sama pada perfilman Melayu.

Oma Irama Penasaran bercerita tentang kisah cinta sepasang anak muda desa yang terhalang oleh restu ayah sang gadis. Pak Mamat (Hamied Arif), ayah Ani (Yeti Octavia) yang seorang mandor perkebunan tak merestui hubungan anak gadisnya dengan Oma. Dia berpikir bahwa Oma adalah anak muda yang pemalas karena pekerjaan sehari-harinya hanyalah bernyanyi. Tak hanya pemalas, ayah Ani juga menganggapnya sebagai orang kampungan, miskin lagi rendahan.

Setelah mendapatkan hinaan dari ayah Ani, Oma bertekad untuk meninggalkan desanya. Ia bersikeras untuk meniti karier sebagai penyanyi. Berbekal doa restu ibu dan gadis yang ia cintai, Oma akhirnya pergi ke Jakarta. Di kota metropolitan itu harapan Oma terbentur oleh kenyataan. Kerasnya kehidupan Ibukota tak henti-henti menderanya. Setelah ditolak oleh perusahaan rekaman, kalung pemberian dari Ani direbut oleh tiga orang preman. Oma terkapar setelah terjadi baku hantam di antara mereka.

Beruntung lah Oma, di saat ia pingsan, sekelompok Waria menolongnya. Susi, salah satu di antara mereka adalah Waria yang terkenal. Ia kemudian membawa Oma hingga ia bernyanyi di Jakarta Fair. Dalam sebuah penampilannya, seorang pimpinan perusahaan rekaman melihat kemampuan Oma. Ia kemudian menawari Oma untuk bekerja sama. Oma kemudian berhasil menjadi penyanyi yang terkenal.

Cerita masih berlanjut. Pada gilirannya, kabar keberhasilan Oma sampai juga hingga ke desanya. Suatu malam Ani melihat Oma tampil di TV. Ia menceritakan pada ayah ibunya bahwa Oma telah sukses. Ayah Ani yang sudah telanjur benci pada Oma, tak mempercayai apa yang disampaikan oleh anaknya. Ia justru memarahi Ani karena masih berharap bisa bersatu dengan Oma.

Kekesalan Ani pada sikap sang ayah membuatnya minggat ke Jakarta untuk menemui Oma. Di saat yang sama, Oma justru pulang ke desa. Ia tak pulang ke rumah ibunya. Ia ingin menunjukkan kesuksesannya kepada keluarga Ani. Itulah kenapa rumah Ani yang dituju pertama kali. Singkat cerita, Oma kembali ke Jakarta untuk mencari Ani. Pun demikian dengan ayah dan ibu Ani. Dalam ketidaksengajaan, mereka bertemu di belakang panggung seusai Oma tampil. Akhir cerita, Ayah Ani meminta maaf dan merestui hubungan mereka.

Jika diminta berkomentar terhadap film ini, saya bersepakat dengan pandangan William H. Frederick. Bahwa film ini tak menyumbangkan sesuatu yang benar-benar baru bagi dunia perfilman Indonesia. Pada tahun 1960, telah ada film berjudul Tjita-Tjita Ajah yang bercerita tentang pemuda miskin yang jatuh cinta pada gadis anak orang berada. Ada pula Pengantin Remaja (1971) yang bercerita tentang kisah cinta berseberangan antara orang desa dan kota, kaya-miskin dan modern-kampungan. Meski demikian, film ini layak untuk diacungi jempol karena beberapa alasan.

Pertama, Oma Irama Penasaran adalah film Indonesia pertama yang menggabungkan antara realita dan fiksi. Rhoma Irama membintangi film dengan memerankan dirinya sendiri. Meski bukan sebuah film biografi, film ini mampu mengaburkan batas antara kisah nyata dan fiksi. Para penggemar Rhoma Irama yang saat itu berada di desa-desa termotivasi untuk menjadi sukses. Terlebih saat melihat film yang menceritakan perjalanan menuju kesuksesan yang dibintangi idolanya itu.

Kedua, film ini memberikan pesan moral yang mendalam. Bahwa status sosial yang tinggi tak selalu menunjukkan luhurnya kepribadian. Ayah Ani yang seorang mandor, pemimpin, disegani dan tergolong orang berkelas ternyata tak menunjukkan sikap sebagai pemimpin yang baik. Bahkan sebagai pemimpin keluarga sekalipun. Ia justru menunjukkan sikap arogan pada anak dan istri dan Rhoma yang tak lain adalah anak dari mantan atasannya. Berbeda dengan ibunya Rhoma, seorang janda miskin yang justru mampu mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang.

Para waria juga sangat menarik untuk diulas. Mereka yang biasa dipandang sebelah mata justru memiliki moralitas yang luar biasa baiknya. Mereka menjadi kunci kesuksesan sang super star.

Akhir kata, film ini layak untuk diapresiasi. Ia turut menyumbang dalam upaya membangkitkan gairah perfilman Indonesia. Karena film ini pula, Rhoma Irama akhirnya disejajarkan dengan para bintang yang lebih dulu beraksi di layar lebar semacam Christine Hakim, Rano Karno dan Roy Marteen. Tak diragukan lagi, film ini juga mengangkat harkat derajat dan martabat dangdut hingga menjadi musik nasional di masa sekarang.

Sumber gambar: http://revi.us/lain-kali-ikuti-himbauan-sang-raja-dangdut/