Barangkali memang buku ini tidak seterkenal Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) dan bukan titik tolak penanda awal realisme magis yang dipopulerkan si penulis, Gabriel Garcia Marquez. Novel ini juga tidak banyak disebutkan sebagai salah satu jalan Marquez menggondol Nobel Sastra pada 8 Desember 1982, tepat tiga puluh tiga tahun lalu pada hari ini. Novel ini adalah hasil cerita ulang dari fakta, atau lebih tepatnya tragedi, yang terjadi pada Luis Alejandro Velasco, yang dalam pengantarnya di buku ini Marquez menjelaskan bahwa tokoh utamanya adalah seorang pelaut yang selamat dari terjangan badai setelah terombang-ambing di tengah lautan selama 10 hari tanpa makan dan minum senormal di daratan.

Jika dalam Seratus Tahun Kesunyian terlihat banyaknya tokoh sehingga kadang beberapa pembacanya yang saya temui mengaku sulit menghafal nama-nama tokoh itu, dalam novel ini tak sebanyak itu dan cenderung mudah mengingatnya, meski tak begitu akrab rasanya para pembaca di sini, di Indonesia, terhadap nama-nama mereka. Namun, tulisan ini tidak hendak memperbandingkan novel ini dengan karya monumental Marquez yang banyak mempengaruhi gaya menulis para novelis pasca-Marquez. Meski demikian, saya tetap menilai Marquez konsekuen membawa realisme magis di dalam novel ini sebagaimana Seratus Tahun Kesunyian menampilkannya. Novel ini tetap menggabungkan cerita magis dengan sejarah sosial yang berlangsung.

Awal Mula Tragedi

Tragedi yang dialami Luis Alejandro Velasco bermula semenjak kapal perusak di mana ia bertugas diterjang badai pada 28 Februari 1955 yang sedang berlayar dari Mobile, Alabama, Amerika Serikat, menuju Cartagena, Kolombia. Luis Alejandro Velasco adalah seorang angkatan laut yang bertugas mengoperasikan kapal Caldas pada era berkuasanya Jenderal Gustavo Rojas Pinilla, seorang pemimpin diktator Kolombia waktu itu. Mulanya, buku ini adalah cerita bersambung yang diterbitkan di El Espectador, media di mana Marquez bekerja, secara berkala sehingga menaikkan oplah penerbitan media cetak itu secara signifikan. Cerita-cerita itu dikisahkan ulang oleh Luis Alejandro Velasco kepada Marquez untuk dituliskan dan diterbitkan. Dalam versi bahasa Indonesia yang saya baca, buku ini adalah terjemahan dari The Story of a Shipwrecked Sailor yang diterbitkan LKiS pada 2002.

Yang magis di dalam Caldas adalah pandangan hidup seorang Luis Alejandro Velasco pada saat ia mengalami kesunyian lautan selama sepuluh hari. Hari pertama hingga keempat, ia belum mengalami sekarat meski beberapa kali kesal mengapa ia tidak mati saja bersama teman-temannya saat badai menerjang. Mengapa hanya ia yang bisa menggapai sisi perahu penyelamat saat Caldas tenggelam. Di tengah lautan yang sunyi dan buas itu, ia tidak tahu pasti apakah harus mempertahankan hidupnya atau tidak. Saat siang ia dihantam panas, ketika malam menjelang di ujung senja ia mengamati gerak hiu yang mengincarnya. Saat malam menyelimuti, gelapnya lebih pekat dari gelap daratan.

Di perahu penyelamat itu ia hanya sendirian. Kadang ia membayangkan sepatu dan ikat pinggang kulitnya nikmat untuk dimakan. Dengan tiga dayung yang ia miliki, ia merasa aman dari gangguan hiu yang kadang mengancam perahunya yang berwarna putih. Menurutnya, mata hiu itu miopi, sehingga cenderung mendekat pada yang mengkilat saja. Dan perahu kecil penyelamat itu mengkilap saat maghrib tiba, saat di mana hiu berkeliaran di permukaan air.

Pada suatu ketika badai datang lagi, dan ia nyaris terhempas jauh dari perahu kecil yang ia miliki. Setelah itu ia memutuskan menalikan dirinya dengan perahu kecil itu dan membuat kesepakatan bahwa hidup atau mati pun nanti, ia harus mengapung bersamanya. Lapar memaksanya menangkap burung camar kecil untuk dimakan mentah-mentah. Dari penangkapan camar ini, ia telah membantah mitos agung para pelaut bahwa camar adalah teman setia pelaut karena mereka menandai dekatnya pantai ketika kompas dan bintang tak bisa difungsikan untuk menunjukkan arah. Ia memakan camar kecil itu, bahwa setelah itu ia juga sempat menangkap hiu yang melompat ke dalam perahunya. Di saat tak ada apapun yang bisa mematangkan makanan, yang mentah pun bisa dicerna walau memuakkan.

Dari hari pertama hingga kelima ia masih berharap ada perahu atau kapal yang bisa menolongnya. Beberapa kali helikopter mendekat tapi tak benar-benar melihat ia yang telah melambai-lambai baju yang ia kenakan. Di hari kelima dan seterusnya tak berharap pertolongan sama sekali, meski ia tak henti mengharap daratan. Sebenarnya, pada titik ini, Luis Alejandro Velasco tidak sekedar mengharapkan daratan, tapi manusia lain yang bisa ia ajak bicara. Itulah kenapa ia mengalami berkali-kali halusinasi tentang temannya sendiri yang mengajaknya bicara tentang hal-hal yang sudah mereka lalui, kadang ia mengingat pacarnya yang tak bisa bahasa Spanyol di Alabama.

Luis Alejandro Velasco di tengah lautan tidak sekedar membutuhkan makan dan minum, tapi juga (inter)relasi dengan orang lain. ”Ketika aku mendengarnya bicara, aku tiba-tiba sadar bahwa selain rasa haus, lapar, dan putus asa, yang paling menyiksaku adalah kebutuhan untuk menceritakan pada seseorang tentang malapetaka yang telah menimpaku.” (hlm. 107). Pada hari kesepuluh di perahu kecilnya, ia tak bisa benar-benar memastikan apakah daratan yang ia lihat itu halusinasi atau kenyataan. Di tengah hampar permukaan lautan terdapat dalamnya palung kesunyian.

Berharap Terdampar

Pengalaman ini membuat kita paham betapa mengerikannya tak terdampar, apalagi sendirian. Berharap untuk terdampar di bibir pantai mana pun bukanlah harapan kosong yang timbul dari pesimisme, tapi kepasrahan yang bertumpu pada keyakinan bahwa seluas-luas lautan ada tepinya juga. Luis Alejandro Velasco pun menemukan tepi pantai yang ia harapkan, meski susah payah menggapainya dan dalam keadaan lapar.

Ia salah ketika ia mengira terdampar bukan di Kolombia. Dan beruntungnya, ia ditemukan oleh orang-orang baik yang masih sebahasa dengannya. Ia disambut dan diantar ratusan orang setelah melihatnya selamat, sedangkan beberapa hari sebelumnya ia dan teman-temannya dikabarkan meninggal dan hilang ditelan arus badai. Ia yang selamat dari tragedi akan bercerita, meski cerita itu nantinya bercampur fiksi asalkan bisa dijual di media atau dijadikan alat bagi penguasa. Kenyataan inilah yang terjadi padanya.

Bogota ramai karena kedatangannya. Semua orang ingin mendengar ceritanya, meski tragedi telah terjadi dan kisah kepahlawanan menjadi cerita berseri. Tak lama dari riuh tentang kepahlawanan Luis Alejandro Velasco, orang telah lupa. Namun baginya, “Kepahlawanan tidak membiarkan dirinya mati.” Meski ia tak dikenang begitu lama, apa yang terjadi padanya selama sepuluh hari adalah tak terlupa begitu saja.

2 COMMENTS