Judul: Traffic (It Took 150 Minutes to Save a Life and Create History)
Sutradara: Rajesh Pillai
Pemain: Manoj Bajpayee, Jimmy Shergill, Divya Dutta, Manoj Bajpayee, Prasenjit Chatterjee, dan Parambrata Chatterjee
Produksi: Fox Star Studios
Rilis: 6 Juni 2016 (Indonesia)

Apa cara yang kamu tempuh untuk memperbaiki diri? Apa yang harus kamu kerjakan ketika sesuatu yang tidak mungkin dipaksakan menjadi mungkin? Apa pula yang harus kamu lakukan jika pada akhirnya hidup dan matimu atau orang di sekitarmu ditentukan oleh banyak orang? Dan bagaimana kamu memperjuangkan orang yang kamu sayangi jika selang beberapa waktu kamu dipaksa mengikhlaskannya?

Empat pertanyaan di atas adalah rangkaian cerita yang disajikan dengan apik di film Traffic (It Took 150 Minutes to Save a Life and Create History). Film Traffic yang termaktub dalam resensi ini bukanlah film Traffic yang diperankan oleh Benicio Del Toro. Namun, film ini berasal dari Negeri Hindustan yang baru saja rilis di Indonesia awal Juni lalu.

Terdapat beberapa latar cerita di film ini. Beberapa konflik yang melanda tiap pemeran tersebut kemudian menjadi satu lingkaran masalah yang menjadi kandungan intisari cerita film ini. Lewat sebuah benang merah, mereka dikumpulkan untuk menyelesaikan masalah dan terhubung satu sama lain.

Pengenalan Karakter dan Konflik yang Meliputinya

Ramdas Godbole (Manoj Bajpayee) adalah seorang polisi lalu lintas yang baru saja mendapat masalah. Ia terkena kasus penyuapan. Namanya menjadi buah bibir dan banyak dicemooh oleh masyarakat.

Gurbir Singh (Jimmy Shergil) adalah atasannya. Ia adalah komisaris polisi lalu lintas. Selama ini, ia dikenal dengan karakter jujur dan tegasnya. Bahkan, jika bukan karena menteri, Godbole sudah ia keluarkan dari kepolisian.

Sementara itu, Abel Fernandes (Parambrata Chatterjee) adalah seorang dokter ahli bedah terkemuka. Kehidupannya ia lalui dengan bahagia bersama seorang istri manja yang sangat ia sayangi. Profesinya sebagai dokter pun cukup terpandang di rekan sejawat dan masyarakat.

Ada pula seorang pemuda bernama Rehan Ali yang diperankan oleh Vishal Singh. Ia berencana mengikuti wawancara reporter dalam suatu perusahaan media. Dengan dibonceng temannya, ia berangkat beserta doa dari kedua orang tuanya.

Seorang artis papan atas bernama Dev Kapoor (Prosenjit Chatterjee) adalah artis yang sombong dan egois. Untuk segala karirnya, ia bahkan jarang memberikan perhatian kepada anak dan istrinya, Maya (Divya Dutta).

Jalan Cerita

Pasca kasus penyuapan yang menimpanya, Godbole berkeinginan untuk memperbaiki namanya agar tidak dianggap buruk berlarut-larut oleh Mumbai. Ia siap melakukan apa saja demi mengembalikan nama baiknya. Setelah mendapat “bantuan” dari seorang menteri, ia kembali diperbolehkan mengenakan seragamnya.

Di hari yang sama, Rehan Ali sedang berangkat menuju tempat wawancara. Tanpa mengenakan helm, ia berbahagia dengan penuh harap menuju tempat wawancara. Nahas, di tengah jalan ia tertabrak mobil. Kepalanya membentur aspal jalan dan mengeluarkan banyak darah.

Selang beberapa waktu, Abel Fernandes yang sedang berada di jalan mengetahui insiden tersebut. Bersama temannya, ia berniat menolong Rehan. Namun, Rehan yang mengalami benturan hebat akhirnya mengalami koma di rumah sakit.

Sementara itu di Pune, putri dari Dev Kapoor dan Maya tengah tergeletak di rumah sakit karena penyakit jantung. Satu-satunya cara menyelamatkan putrinya adalah dengan transplantasi hati. Dan tentu saja harus menemukan donor yang mau dan cocok dengan jantung anaknya.

Lewat informasi dari dokter, Dev dan Maya mengetahui bahwa di Pune terdapat seorang pemuda yang tengah terbaring koma. Pemuda tersebut tidak lain adalah Rehan. Menurut dokter, jantung pemuda tersebut cocok untuk dijadikan transplantasi. Apalagi, kondisi pemuda tersebut sudah tidak mungkin lagi diselamatkan.

Maya kemudian menelepon ibu Rehan untuk meminta bantuan. Dua orang ibu tengah berbicara dengan hati mereka lewat telpon. Awalnya, Ibu Rehan tidak menghendaki. Namun, akhirnya ia luluh dan ikhlas agar jantung anaknya digunakan untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Kesepakatan dengan keikhlasan sebagai landasan tersebut kemudian membawa Gurbir Singh. Ia diperintahkan oleh salah satu pejabat tinggi untuk melaksanakan misi membawa jantung Rehan. Dari Mumbai menuju Pune.

Masalah semakin meruncing ketika waktu sudah dirasa tidak memungkinkan. Tepat ketika pukul 02.08, Gurbir memutuskan untuk melaksanakan misi tersebut. Ia hanya diberi waktu 150 menit untuk menempuh jarak160 kilometer dari Mumbai ke Pune. Apalagi, lalu lintas Mumbai pada jam tersebut sedang sibuk-sibuknya.

Godbole kemudian mengajukan diri untuk menjalankan misi tersebut. Dengan harapan memperbaiki nama dan menolong orang, ia bersedia menanggung semua risiko yang ada.  Misi pun dijalankan.

Sebuah mobil berisi Godbole, teman Rehan dan dr. Abel melaju dengan misi berbahaya. Mereka dipaksa mengejar waktu untuk mengantarkan jantung Rehan dari Mumbai menuju Pune. Di tengah hujan dan berbagai rintangan yang melanda, sebuah fakta mencengangkan terungkap. Abel ternyata baru saja membunuh temannya. Ia kalap dan menabrak temannya karena kasus perselingkuhan yang dilakukan bersama dengan istrinya.

Detik-detik menegangkan semakin memanas ketika Gurbir Singh membatalkan misi tersebut di tengah jalan. Godbole tidak dapat menerimanya. Ia tetap melanjutkan misi tersebut. bersama sang kriminil, Abel, ia tetap melanjutkan perjalanan.

Pada akhirnya, tepat pukul 05.30, ia sampai di rumah sakit tempat dimana anak Dev dan Maya dirawat. Mereka dengan segenap harapan dan usaha melaju dengan penuh percaya diri. Mission complete!

Pelajaran dari Film Traffic

Kembali ke paragraf pembuka di atas. tengok empat pertanyaan awal untuk mengantarkan isi dari pesan film Traffic.

Godbole mengambil peranan agar namanya kembali menjadi baik. Ia bersama dr. Abel menempuh perjalanan berbahaya untuk menyelamatkan nyawa. Mereka berdua adalah orang yang baru saja melakukan kesalahan. Namun, mereka percaya jika kesempatan itu selalu ada.

Gurbir Singh yang awalnya tidak percaya mengakhiri misi dengan senyuman. Ia tersadar jika pada akhirnya harapan itu selalu ada jika ikhtiar dilakukan dengan segenap daya dan upaya. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini jika kepercayaan dan kesungguhan diletakkan di tempat tertinggi.

Sementara Dev pada akhirnya dituntut untuk belajar memperbaiki diri terhadap perhatian dan kasih sayang yang selama ini banyak ia hilangkan untuk anaknya. Ia yang egois dan hanya fokus pada karir akhirnya tersadar. Tentu saja. Terkadang kesadaran muncul ketika kita dititik terendah. Sebagaimana yang dialami Dev.

Dan lihatlah betapa legowonya orang tua Rehan. Meski putranya belum meninggal, sebagai wali mereka bersedia mendonorkan jantung putra semata wayangnya untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang bahkan mereka tidak pernah melihatnya. Beberapa saat mereka begitu bahagia melihat putranya, beberapa saat kemudian mereka dipaksa menangis melihat anaknya tak berdaya di rumah sakit, dan tidak berselang lama mereka dipaksa mengikhlaskan putranya.

Pada akhirnya, film ini menjadi akumulasi betapa sebuah harapan dan usaha dapat memperbaiki keadaan. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mewujudkan harapan dan keinginan. Sembari itu, biarkan Tuhan melaksanakan kehendakNya.