Judul: Inside Out
Sutradara: Pete Docter dan Ronnie Del Carmen
Pemeran/Pengisi Suara: Amy Poehler, Phyllis Smith, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Kaitlyn Dias, Kyle MacLachlan, Diane Lane
Produksi: Pixar Animation Studios
Rilis: 19 Agustus 2015 (Indonesia)

Seorang bayi mungil ditimang-timang kedua orang tuanya. Kebahagiaan bagi sepasang suami-istri itu serasa begitu sempurna mengingat ia adalah anak pertama dari buah cinta mereka. Sambutan-sambutan penuh kasih sayang pun terucap dari mulut pasangan itu yang dapat diketeemukan ‘apa yang ada’ dibalik kedua bola matanya atau di dalam kepala lebih tepatnya. Proses itu (penyimpanan ucapan), terjadi tidak lama setelah si bayi perempuan dibukakan matanya oleh, ya itu tadi, apa yang ada di dalam kepalanya.

Ya, di dalam kepala Riley, nama bayi itu ternyata ada–katakanlah-seorang gadis kecil. Gadis inilah yang kelak ‘berperan besar’ dalam pertumbuhan Riley. Gadis bernama Joy yang berwajah ceria. Begitu Joy yang juga energik ini membuat Riley kecil tersenyum, yang teknisnya mirip dengan seorang pengendali alat atau sebut saja remote control, dan tiba-tiba saja muncul Sadness. Warnanya biru dan sedikit gemuk. Gadis yang terlihat begitu murung dan lemas ini lalu membuat Riley kecil, yang sebelumnya tersenyum pertama kali kepada orang tuanya, menangis secara mendadak. Dialah kebalikan dari si ceria dan energik, Joy.

Eits, Tapi tunggu dulu, film ini bukan hanya menyajikan pertunjukkan mereka berdua saja. Masih ada tiga karakter lagi yang sudah barang tentu membuat suasana lebih rumit sekaligus hidup. Rumit karena tipikal masing-masing berbeda antara satu sama lain dan hidup karena heterogenitas menjauhkan dari kecenderungan yang monoton. Jadi, selain Joy dan Sadness yang sudah saya sebutkan tadi, ada karakter si Anger, si Disgust dan si Fear. Semua karakter itu memang imajinatif. Akan tetapi, mereka jualah yang menentukan tindakan apa yang akan dilakukan di kehidupan nyata.

Bisa bayangkan apa yang akan terjadi ketika perbedaan yang begitu mencolok bertemu? Sedikit kekacauan iya. Saling berebut kendali juga sangat mungkin sekali. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan, yang bisa jadi buruk dan bisa pula baik, akibat ketidakcocokan. Namun, dengan melihat tingkah Riley kecil, kita akan lebih sering bergumam, “Oh, jadi begini khayalanku waktu umur segitu,” atau “Oh, jadi itu yang terjadi ketika aku sedih,” dan “oh-oh” yang lain sembari diiringi anggukan kepala.

Adakalanya kelima emosi berupa kebahagiaan, kesedihan, rasa takut, jijik, dan juga kemarahan itu berebut tanpa kompromi. Tetapi, ada saatnya juga mereka saling bergantian. Mengisi penyimpana’ Riley, baik yang jangka pendek maupun yang jangka panjang, dan juga memori inti, sesuai dengan peran serta bagian masing-masing. Tengok misalnya bagaimana Joy berusaha keras menjaga Riley agar tetap terlihat bahagia (di depan orang tuanya) atau Sadness yang selalu merasa kacau dan tidak tahu harus berbuat apa–karena kepalang sedih, hingga Fear yang overprotective terhadap segala sesuatu yang mengancam dan membahayakan Riley. Bahkan, ia rela menyusun tumpukan kertas berisi seluruh resiko terburuk di hari pertama Riley masuk sekolah. Semua punya sumbangsih nyata terhadap segala kejadian yang dialami Riley.

Dalam film garapan Pete Docter yang dibantu Ronnie Del Carmen ini, kita diajak menyelami alam pikiran ketiga tokoh, Riley dan kedua orang tuanya. Pada awal hingga pertengahan film, penonton akan lebih banyak disuguhi bagaimana alam pikiran Riley bekerja. Puncaknya adalah pada saat Riley kehilangan Joy dan Sadness karena berusaha menyelamatkan memori inti Riley. Terjadi kepanikan yang luar biasa dimana Riley mengirim respon yang ‘tak sesuai’ dengan apa yang orang lain harapkan. Situasi pelik ini adalah akibat keabsenan dua karakter penyeimbang itu, khususnya Joy. Isi kepala yang dikomandoi oleh ketiga karakter tersisa, yakni Anger, Fear, dan Disgust, tidak bisa berbuat apa-apa selain curiga, sinis, dan tentu saja kehati-hatian.

Ketidakseimbangan di alam pikiran, yang menghasilkan respon negatif di kehidupan nyata dan tentu saja tidak lebih baik daripada Riley juga ditunjukkan oleh ayahnya. Alih-alih kekacauan, yang terjadi justru berlangsung begitu sistematis, masif dan terstruktur. Beban pekerjaan kantor yang menumpuk telah membuat kendali emosi ada di tangan karakter Anger-nya. Sehingga, sikap dari Ayah Riley pun tergantung dari komando yang diberikan oleh Anger-nya itu yang sama sekali tidak mengenal kompromi.

Sedangkan, Ibu Riley sendiri terlihat lebih bersimpati dengan kemurungan yang tergurat di wajah anaknya. Hal ini karena karakter Sadness-lah yang memimpin di alam pikirannya. Terhadap kesedihan buah hatinya itu, ia lebih sensitif ketimbang suaminya yang acuh tak acuh. Bahkan dialah yang meminta suaminya untuk memperhatikan anak semata wayangnya itu.

Film produksi Pixar Animation Studios ini adalah salah satu animasi yang membuat kita (jika anda sekalian berkenan saya wakili) berpikir ulang bahwa film dengan genre macam ini ternyata tidak hanya milik anak-anak. Hemat saya, film ini sedikit memperkuat kecenderungan Hollywood yang, akhir-akhir ini, gemar memproduksi film animasi yang tidak hanya berisi kekonyolan-kekonyolan karakternya semata. Melainkan juga memuat ide-ide yang sifatnya mendasar. Perlu diketahui bahwa film Inside Out ini merupakan pengalaman pribadi sang sutradara atas perubahan yang terjadi pada putrinya ketika menginjak usia 11 tahun.

Dan pada akhirnya, ada semacam ‘kelas psikologi’ gratis yang dapat kita petik untuk dijadikan pelajaran hidup dari kisah Riley ini. Terutama soal apa yang disebut dengan stimulus dan respon sebagaimana yang diungkapkan oleh Edward Lee Thorndike. Keduanya menjadi penting karena keseharian kita-yang tidak luput dari hal-hal baru-yang sangat mungkin menimbulkan law of effect, law of readiness, dan law of excercise.  Dengan begitu, kita dapat terus menjaga agar ‘pulau-pulau’ yang kita bangun sejak kecil tidak runtuh seperti beberapa pulau milik Riley.

Pendeknya, film ini ringan, tetapi tak ringan-ringan amat dan menjadi sedikit lebih bijak bisa dimulai dari memahami keruwetan alam pikiran yang menghibur ini.

 

 

Sumber gambar: http://static.srcdn.com/wp-content/uploads/Inside-Out-Movie-2015-Emotions-Poster.jpg

Oleh: Tofiq Ridlo