Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang istimewa (sayyidu asy syuhur) bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan ini merupakan bulan, dimana untuk pertama kalinya kalam ilahi tersampaikan kepada Muhammad SAW sekaligus menjadi pertanda lahirnya  Islam, agama Ibrahimiyah yang terakhir. Di bulan ini pula anugerah lailat al Qodr secara acak disusupkan oleh Tuhan untuk melengkapi berbagai rahmat, kemuliaan dan barokah yang dicurahkanNya di bulan ini. Saking istimewanya bulan ini, sampai sampai Muhammad berani menjamin, jika ada orang yang “sekedar senang” saat tibanya bulan ini, maka api neraka enggan menyentuh tubuhnya. Karena itulah, sebagian kaum muslim memanfaatkan betul kesempatan ini khususnya di hari-hari terakhir dengan beriktikaf di Masjid.

Bagi sebagian pegiat i’tikaf (riyadhah), pilihan masjid menjadi pertimbangan khusus. Masjid-masjid tua dan bernuansa keramat sering menjadi tujuan utama untuk beriktikaf. Di kawasan Madiun bagian selatan, selain Masjid Agung Baitul Hakim yang berhadapan dengan alun-alun Kota Madiun, ada tiga masjid yang dianggap keramat. Ketiga masjid tersebut adalah Masjid  Nur Hidayatullah (Kelurahan Kuncen, Kota Madiun), Masjid  Donopuro (Kelurahan Taman, Kota madiun) dan Masjid Agung Sewulan (Desa Sewulan, Kabupaten Madiun). Ketiga masjid tua tersebut setidaknya memiliki dua kesamaan, yakni sama-sama memiliki bangunan dengan prototipe Masjid Demak dan sama-sama “memiliki” areal makam tua.

Masjid Sewulan yang berada sekitar 6 km arah selatan dari Kota Madiun merupakan masjid yang didirikan oleh Raden Mas Bagus Harun (Kiai Ageng Basyariyah). Masjid yang juga sering disebut dengan Masjid Basyariyah ini didirikan pada tahun 1740 M/1160 H. Masjid kecil ini awalnya hanyalah masjid dengan bangunan sederhana. Kemudian pada tahun 1921, Masjid yang berada di Desa Sewulan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun ini direnovasi dan “diresmikan” pertama kalinya oleh KH Qolyubi Bin Ilyas, Penghulu Surabaya yang juga salah satu keturunan dari Kiai Ageng Basyariyah. Selanjutnya Masjid ini juga mengalami sedikit renovasi pada bagian serambi (gote’an) utara dan selatan di  akhir kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karena merupakan situs bersejarah dan banyak dikunjungi para peziarah, kawasan Masjid ini “dilirik” oleh Badan Purbakala Mojokerto dan dijadikan sebagai salah satu cagar budaya. Badan purbakala tersebut bersama-sama dengan pengurus takmir dan warga sekitar juga membuat lahan parkir baru seluas 860 meter persegi yang hingga tulisan ini diturunkan kini masih dalam tahap finishing.

Kasawan Desa Sewulan dan sekitarnya dulunya adalah tanah perdikan (tanah pemberian raja yang bebas pajak) yang diberikan oleh Sultan Mataram kepada Kiai Ageng Basyariyah. Nama “sewulan” diambil dari kata sewu wulan (seribu bulan). Nama ini ada kisahnya yang sarat dengan tirakat dan karomah yang diangugerahkan Allah kepada Kiai Ageng Basyariyah.

Konon, Kiai Ageng Basyariyah dianugerahi songsong (payung) sakti oleh Raja Mataram yang dipergunakan untuk memilih tanah perdikan bagi Kiai Ageng Basyariyah dan anak turunnya. Awalnya, Kiai Ageng Basyariyah melarung payung tersebut di sebuah sungai di kawasan Bang Pluwang, Nglengkong, Sukorejo, Ponorogo. Namun atas titah gurunya (Kiai Hasan Besari), Kiai Ageng Basyariyah disuruh mencari kembali payung tersebut ke arah timur. Setelah menemukan tempat dimana payung sakti tersebut muncul, Kiai Ageng Basyariyah disuruh untuk mengembangkan Islam di sana. Selama berbulan-bulan Kiai Ageng Basyariyah mencari payung tersebut hingga tiba bulan Ramadhan. Tepat di malam lailat al Qodr, Kiai Ageng Basyariyah bertemu kembali dengan payung sakti miliknya. Karena ditemukan pada malam lailat al Qodr (yang juga diartikan sebagai malam seribu bulan), Kiai Ageng Basyariah menamai tanah perdikan tersebut dengan nama “Sewulan” dan mulai mendirikan masjid di dan mengajarkan Islam di situ.

Untuk masuk ke kompleks masjid ini,  ada dua jalur yakni jalur utara dan jalur timur.  Jalur utara hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan menerobos kompleks SMA Basyariah. Adapun jalur timur jalannya lebih lebar dan bisa dilalui kendaraan roda empat. Di jalur timur ini terdapat pintu Gapuro dengan kubah mungil di bagian atap tengah. Di bawahnya terdapat tulisan “Sewulan” sebagai pertanda masuk di kawasan Masjid Sewulan. Di bagian dalam gapuro, di sebelah kanan kiri, terdapat papan tulisan yang dibuat oleh Badan Purbakala untuk menjelaskan bahwa kawasan ini di bawah pengelolaan  “negara”.

Setelah masuk ke dalam, di bagian sebelah timur nampak sebuah gapuro lebih kecil (regol) bertuliskan Makam  Kyai Ageng Basyariyah. Di depannya terdapat bangunan yang biasanya dipakai peziarah untuk beristirahat. Menurut  Masrukhan, salah seorang peziarah, bangunan ini adalah bangunan paling baru di kompleks masjid ini. Secara fungsional, bangunan baru tersebut menopang dua serambi Masjid yang juga kerap difungsikan sebagai gotha’an (tempat istirahat sejenak) bagi para peziarah.

Yang menarik dari masjid ini adalah keberadaan kolam tempat bersuci (wudhu dan mandi) bagi jamaah. Masjid pada umumnya, menempatkan areal untuk bersuci di bagian samping atau dalam masjid. Di Masjid Sewulan ini, temapt untuk bersuci di tempatkan tepat bagian depan tengah. Itulah mengapa serambi masjid ini tidak ditempatkan di depan. Kolam ini seakan menyiratkan pesan bahwa untuk beribadah di masjid ini “kesucian” harus didahulukan.

Masjid ini menurut HM Baidhowi, salah seorang sesepuh di Sewulan sarat dengan makna simbolis. Misalnya atap berundak tiga yang menaungi bangunan utama memiliki makna bahwa setelah seseorang  mengaku Islam maka tidaklah cukup hanya dengan bersyariat saja maka sebaiknya di teruskan dengan 3 tingkat yang selanjutnya, yaitu; Thoriqoh, Ma’rifat dan hakekat.  Induk Masjid yang memiliki 4 pintu dan 5 jendela ini juga memiliki makna, yakni pentingnya menguasai babagan howo songo. Sementara 4 tiang masjid yang menyangga  induk masjid menyimbulkan empat madzhab. Artinya, masjid ini sekaligus juga menjadi tempat untuk mengajaran pemahaman sunny.

Secara formal, seperti masjid pada umumnya, Masjid ini dikelola oleh takmir (yang mengurusi masalah administratif) dan imam (pemangku masjid yang berperan sebagai imam utama atau disebut juga sebagai imam rowatib). Berikut estafet kepemimpinan Imam Rowatib Masjid Al-Basyariyyah sejak zaman Kiai Ageng Basyariyah hingga sekarang.

1.        Kyai Ageng Basyariyah (Kyai Ageng Sewulan I)
2.        Kyai Ageng Maklum Ulama(Kyai Ageng Sewulan II)
3.        Kyai Ageng Mustaram I (Kyai Ageng Sewulan III)
4.        Kyai Muh Abror
5.        Kyai ‘Abdul Karim I
6.        Kyai Muh Na’im Sudomo
7.        Kyai ‘Abdul Malik (1942-1948)
8.        Kyai Muh Qomaruddin (1948-1994)
9.        Kyai’Abdul Karim II (1994-2002)
10.    Kyai Ma’sum Chasbulloh (2002- sampai sekarang)

Sumber tertulis :

Drs. HM. Baidowi, Kanjeng Kyai Ageng Basyariyyah, R. Mas Bagus Harun Sewulan Bangsa Harya : Pendiri Perdikan Sewulan-Dagangan- Madiun

15 COMMENTS

  1. Batas antara Tauhid dan Syirik sangat halus ,bahkan kadang kita tidak menyadarinya,mari kita belajar menata hati,kapan kita harus mengambil pelajaran hidup dari seorang yang berilmu dan kapan kita tidak boleh terjebak dalam pengkultusan makhluk.bismillah astaghfirullah.

  2. kancaku akeh neng deso Sewulan kene….. tonggoku oleh bojo yo neng deso iki….. nek pak’ku mbiyen kerep mepehne pacul…. hehehehehe

  3. aduhhh,, dadi wong sewulan 29 tahun tpi baru tau latar belakang dan cerita nya,,, maklum dulu wktu MTS g ada guru yg nyrita’in…!! dadi kangen karo blumbang masjid sewulan..

  4. salam hangat selalu…
    mohon ditampilkan juga daftar silsilah dari KH. Basyariyah (Ky. Bagus Harun ) yang daftarnya terdapat di depan pintu masuk makam Eyang Basyariyah yang mana disebelahnya terdapat daftar silsilah dari KH. abdurrahnman waahid
    Sya tunggu postingannnya