Jangan sampai melupakan sejarah, kiranya tepat semboyan dari Soekarno ini senantiasa kita gelorakan dalam memahami jati diri bangsa. Bagi umat muslim pun selayaknya mempelajari sejarah pengembaraan dakwah para syuhada’ terdahulu. Budaya ziarah ke makam para syuhada’ dan waliyullah bisa sekaligus dimanfaatkan untuk mempelajari sejarah perjuangannya. Sehingga, akan member manfaat lebih menghayati ajaran Islam sesungguhnya. Bagaimana Islam diajarkan dengan nilai-nilai dakwah yang sesuai dengan nalar piker umat, yaitu perlahan tapi pasti. Dengan demikian Islam bisa berkembang dinamis dan diterima dengan penuh kesadaran sesuai dengan watak Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Di sisi lain, nilai spirit Islam dalam memberikan pencerahan tidak dipahami sebagai agama-ansich yang kini kerap dijadikan sebagai pengkotakan golongan manusia. Melainkan ajaran hidup untuk memenuhi ketaqwaan umat kepada tuhannya.

Spirit Islam bisa dipelajari salah satunya dari keteladanan perjuangan Syeikh Jumadil Kubro yang sarat ketulusan dalam berdakwah. Selain kita bisa melestarikan ajarannya, dan kemudian mengemasnya sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. Tidak berlebihan, bila keberadaannya menjadi referensi sejarah, keilmuan, dan nilai moral yang begitu penting bagi pembinaan dan pendidikangenerasi dari zaman ke zaman.

Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.

Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang  hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.

Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.

Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.

18 COMMENTS

  1. mantaf!, saya ngefans deh sama syeikh jumadil kubro. pelan tapi pasti, itulah hisup yang harus kita segani…

  2. :::Syaikh Jumad al Kubra, terlahir dia awal abad ke-16 di BuKares Eropa,berbadan tinggi besar, mata coklat bening, hidung mancung bengkok spt petruk, kulit sangat putih, rambut dan jenggot berwarna coklat kemerahan spt bulu singa

    Putra dari Syaikh Kassah Al Ferghani bin Syaikh Jamaludin Hussein..Mursyid Tarekat Kubrawwiyah yg ber Ba’iat kpd Syaikh Sayyid abdullah Barzisyabadi ( adik tiri Syaikh Ibrahim as-Samarkandy atau ayah Raden Ali Rahmatullah )

    Ibu beliau adalah putri saudagar di BUlgaria,kota Kozhak di hulu sungai Wolga yg bermuara ke laut Kaspia

    :::Syaikh Jumad al Kubra, sejak umur 9 tahun diasuh Syaikh Sayyid abdullah Barzisyabadi dan diganti namanya dari TARAS menjadi ” Jumad al Kubra ”

    bermula dari tugas guru ruhani nya Syaikh Sayyid abdullah Barzisyabadi utk menyampaikan pesan kepada seorang MUJADDID, hingga 30 tahun berkeliling dunia, baru bertemu dgn yg dicari sewaktu mendarat di pelabuhan Surabaya yg waktu itu adipatinya/ walikotanya Raden Kusen

    Shang MUjaddid adalah San-Ali/ Syaikh Abdul Jalil/ Syaikh jabarantas? Syaikh lemah Abang / syaikh siti Jenar yg membimbing beliau sesuai pesan Syaikh Sayyid abdullah Barzisyabad ( 30 thn sbelumnya )i utk ikut berjuang

    1.membantu membuat Pembaharuan TOTAL agidah,tauhid dan pranata sosial saat itu.

    2.termasuk penyebaran islam utk yg kedua kalinya yg gagal dilakukan Oleh Syaikh Al-subakir Al- Farizi dari Iran ( dikalangan musafir ALAS PURWO dipanggil Mbah BAkir )

    3. ikut membantu mewujudkan KONSEP PONDOK PESANTREN yg pertama kali di bhumi Jawa gagasan Syaikh Siti Jenar.
    krn sistem pengajaran agama islam saat itu hanya boleh untuk kalangan kraton / bangsawan

    4. membantu merubah / menyamakan/ tatanan sosial GUSTI/ Majikan dengan KAWULO/ hamba/buruh
    karena saat itu seorang Kawulo tdk berhak punya tanah sendiri
    KONSEP MANUNGGALIng GUSTI KAWOLU dalam tataran SYARI’at

  3. Kalau saya tidak salah, ayahandanya Syeikh Jumadil Al Kubro Bernama Syeikh Jalaludin Al Qubro, di makamkan di Tosara kab. Wajo

  4. menurut cerita syeikh jumadil kubro paman dari sunan maulana malik ibrahim yang makamnya di gresik.dan syeich siti jenar adalah seorang tokoh kiasan dari para wali, kenapa bisa sampai syeich jumadil kubro di bimbing syeich siti jenar??????konsepnya MANUNGGALING KAWULO GUSTI

  5. Diberdayakan oleh Terjemahan
    Alunan Sholawat – Gus Dur
    GeoCounter
    Blog Info
    Google PageRank Checker Powered by MyPagerank.Net
    [SEO Monitor by MyPagerank.Net]
    Total Pageviews
    116301
    My Facebook
    Joko Susetya Sastrodimedjo

    Create your badge
    BBM Groups
    Photobucket
    Scan Barcode BBM Groups
    Blog Community

    Visit The Haqqani Fellowship
    Mistikus Cinta. Powered by Blogger.
    My IP
    IP
    Visitor Map
    Sufi Link

    Abuahsan.com
    Doy Sufi Art
    eshaykh.com
    Haqqani Indonesia
    Haqqani Surabaya
    Madadul Haqq
    Naqshbandi Sufi Way
    Nur Muhammad
    Sufi Live
    Sufi Meditation Center
    Sufi Muda
    Sufi Road
    The As-Sunnah Foundation of America
    The Haqqani Fellowship
    The Way of Love Rumi

    Sponsored Link

    BlackBerry Magazine
    Islamic Shop
    Java Tourism Guide
    Klinik Komputer
    PC Store Online

    Mistikus Cinta mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga kita mampu meneladani perjalanan para Awliya Allah.
    Silsilah Sayyid Jumadil Kubro
    Diposting oleh Mistikus Cinta

    Punjer Wali Songo

    Silsilah

    Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udada bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nukh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam.

    I. Sayyid Jumadil Kubro dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah :

    Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
    Maulana Iskha’
    Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum

    II. Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan Binti Raja Kuntoro Chempa mempunyai 2 orang anak :

    Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
    Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) R. Santri

    III. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo Binti Raja Mundiwangi Pajajaran mempunyai 2 orang anak :

    Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
    Dewi Saroh (Istri Sunan Kalijogo)

    IV. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sekardadu Binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama : Raden Paku atau (Sunan Giri)

    V. Sunan Aspadi tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum

    VI. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati Binti Ariyotejo Adipati Tuban mempunyai 5 orang anak :

    Siti Sariáh (Istri Haji Usman) Sunan Manyuran
    Siti Mutmainnah (Istri Sayyid Muhsin)
    Siti Khofsoh (Istri Sayyid Ahmad)
    Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang)
    Raden Qosim (Sunan Drajat)

    VII. Sayyid Ali Rahmatullah juga menikah dengan Dewi Karimah Binti Ki Bang Kuning, mempunyai 2 orang anak :

    Dewi Murtasimah (Istri Raden Patah)
    Dewi Murtasiyah (Istri Sunan Giri)

    VIII. Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) Raden Santri Bin Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno Binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai 3 orang anak :

    Haji Usman (Sunan Manyuran) Mandalika
    Usman Haji (Sunan Ngudung)
    Nyai Gede Tundo (Istri Sunan Kertoyoso)

    IX. Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Bin Maulana Iskhak Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Haisah Binti Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura mempunyai 2 orang anak :

    Raden Abdul Jalil disebut Syeikh Siti Jenar tidak mau beristri
    Dewi Sofiyah (Istri Raden Qosim) Sunan Drajat

    X. Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Raden Rahmad (Sunan Ampel) Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh Binti Raden Jakender (juga mertuanya Syarif Hidayatullah) mempunyai seorang anak bernama : Dewi Rukhilah (Istri Sunan Kudus).

    XI. Raden Qosim (Sunan Drajat) Bin Raden Rahmad bin sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah Binti Sunan Cirebon mempunyai 3 orang anak :

    Pangeran Trenggono
    Pangeran Sandi
    Dewi Rouyan

    XII. Haji Usman (Sunan Manyuran) Bin Raja Pandhito Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah Binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama : Amir Khasan

    XIII. Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari Binti Tumenggung Wilatikta mempunyai 2 orang anak :

    Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria)
    Amir Haji (Sayyid Ja’far Sodiq) Sunan Kudus

    XIV. Dewi Murtasimah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah Bin Kertawijaya (Brawijaya) mempunyai 5 orang anak :

    Pangeran Purbo
    Pangeran Trenggono
    Raden Bagos Sedokali
    Raden Kenduruhan
    Dewi Ratih

    XV. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen (Sunan Kertoyoso) Madura mempunyai seorang anak bernama : Khalifah Sughro.

    XVI. Siti Mutmainah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Sayyid Muhsin (dari Yaman) beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawinannya mempunyai seorang anak bernama : Amir Khamzah.

    XVII. Siti Khofsoh Binti Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad (Sunan Malaka) beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya tidak mempunyai anak.

    XVIII. Raden Paku (Sunan Giri) Bin Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah Binti Sunan Ampel mempunyai 4 orang anak :

    Raden Prabu
    Raden Milyani
    Raden Kuwo
    Dewi Retnowati

    XIX. Raden Sahid (Sunan Kalijogo) Bin Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro, mempunyai 3 orang anak :

    Raden Said (Sunan Muria)
    Dewi Rukoiyah
    Dewi Sofiyah

    XX. Raden Said (Sunan Muria) Bin Raden Sahid (Sunan Kalijogo) menikah dengan Dewi Sujinah Binti Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama : Pangeran Santri (Sunan Kadilangu).

    XXI. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Bin Usman Haji (sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila Binti Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang anak bernama : Raden Amir Khasan.

    XXII. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (Tuban) menikah dengan Dewi Nawang Arum Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :

    Dewi Sari (Istri Sunan Ngudung)
    Raden Sahid (Sunan Kalijogo)

    XXIII. Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :

    Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati)
    Dewi Hiroh (Istri Sunan Bonang)

    XXIV. Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Chempa mempunyai 3 orang anak :

    Prabu Hadi (Istri Adipati Doyoningrat)
    Lembu Peteng Madura
    Raden Kukur

    Dari istri Ponorogo mempunyai anak :

    Betoro Katong (Ponorogo)
    Ariyodamar (Adipati Palembang)

    Dari istri Chempo yang lain mempunyai anak bernama : Raden Husen (Raden Patah) yang mendirikan kerajaan Islam Demak.

    Dari istri dari Bakilen mempunyai anak bernama : Jaran Panoleh di Sampang Madura

    Sumber :
    1.Punjer Wali Songo – Silsilah Sayyid Jumadil Kubro Penyusun : H. Moch. Cholil Nasiruddin
    2.Silsilah Sayyid Jumadil Kubro wa Usulihi wa Furuíhi, dikutib dari Kitab Tarikh Auliya’ Mustofa Bisri – Rembang
    3.Silsilah Rasulullah dikutib dari keterangan K.H. Mahmud bin Muhtar bin Siddiq Al Khoyyathi PP Salafiyah Darul Ulum Pelumbon Cirebon Jawa Barat.

  6. asslamualaikum……..

    menurut pendapat dan pengetahuan saya ada beberapa hal yang harus diluruskan dari tulisan di atas, tapi memang banyak versi yang berkembang. yang jelas antara Ibrahim Asmarakandi dan Maulana Iskak bukan saudara kandung tapi saudara sepupu. yang saudara kandung adalah Jumadil Qubro (ayah Ibrahim Asmarakandi) dengan Jumadil Kabir (ayah maulana iskak). tapi kami salut dengan upaya teman2 untuk menelusuri para leluhur. selain itu Jumail Qubro hidup dimasa Raja majapahit Brawijaya V/ Kertabhumi, bukan Tribuana Tunggadewi – Hayam Wuruk.
    salam lestari….

  7. KalAu pengen Jelas masalah nasab dan di akuidan juga otetntik silah kan cari Nasab Alawiyyin,,
    yang jelas dari tulisan ARIF banyak ketidak cocokan,,
    wassalam

  8. mohon maaf sebelum nya
    yang di maksud artikel di atas apakah apaah syeh jumadil qubro yang makam nya di jalan alteri yus sudarso dekat terminal terboyo semarang ,
    timbul pertanyaan mengapa makamnya di situ sedang beliau menghabiskan sisa waktunya di trowulan mojokerto
    saya orang semarag asli jadi setidaknya saya tahu bahwa di jl alteri yos sudarso terdapat makam yang banyak orang menyebut makam ” syeh jumadil qubro ”

    mohon penjelasannya

  9. Jikalau kalian tau masih ada Makam Wali Allah lebih tua dari pada Syech Jumadil Qubro yang telah disemayamkan di sekitar makam beliau,
    makamnya tak ada yang mengetahui, bahkan Syech Jumadil Kubro sendiri sangat menghormatinya,

    beliau masih keturunan Nabi yang ke-15. Sungguh kasihan makam beliu tidak diberi kijingan dan kadang diinjak-injak oleh peziarah, belaiu yang sepuh pernah bilang tidak terima jasadnya di injak-injak seperti itu.

  10. Sejarah yang ada di blog ini berbeda dengan yang saya dapati bersumber

    DAFTAR PUSTAKA:

    1. Aburumi Zainal & Zainal ‘Abidin Assegaf, Sejarah dan Silsilah Dari Nabi Muhammad ke Walisongo, Jakarta: Penerbit Yasrim,
    2. As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit.Madawis,

    Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan

    Oleh:

    Shohibul Faroji Azmatkhan

    Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan adalah anak ke-1 dari Al-Imam Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan, dia adalah seorang Raja Ke-4 di Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, naik tahta setelah wafatnya sang ayah, yaitu pada tahun 1310 M.

    NASAB LENGKAP

    Nasab lengkapnya adalah Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi Shohib Bait Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alwi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shodiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Wa Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad.

    JABATAN

    Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra adalah Raja/ Sultan Ke-4 Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, sekaligus muballigh yang bekeliling hingga ke Nusantara.

    NAMA GELAR HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRO

    Sayyid Husain Jamaluddin
    Syekh Maulana Akbar
    Syekh Maulana Jumadil Kubra I
    Syekh Maulana Jumadil Kubra Wajo
    Maulana Jamaluddin Akbar Gujarat
    Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Jumadil Kubra

    NAMA ISTERI HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRO

    Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco), memiliki 1 anak yaitu: Maulana Muhammad Al-Maghribi.
    Puteri Nizamul Muluk dari Delhi (India), memiliki 4 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir), Syaikh Maulana Wali Islam
    Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia), melahirkan 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq
    Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) dari Kelantan Malaysia, melahirkan 3 anak. yaitu ‘Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)
    Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin Diraja Champa, melahirkan 1 anak. yaitu: Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro)
    Puteri Jauhar binti Raja Johor Malaysia, melahirkan 2 anak. yaitu Syarif Muhammad Kebungsuan(Mindanao Filipina) dan Sultan Berkat Zainul Alam

    NAMA ANAK HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRA

    Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan memiliki 15 anak, yaitu:

    Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro)
    Maulana Muhammad Al-Maghribi
    Maulana Muhammad Jumadil Kubra
    Maulana Muhammad ‘Ali Akbar
    Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir)
    Maulana Wali Islam
    Pangeran Pebahar
    Fadhal (Sunan Lembayung)
    Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung)
    Yusuf Shiddiq
    ‘Abdul Malik
    ‘Ali Nurul ‘Alam (bergelar Maulana ‘Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul)
    Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)
    Barakat Zainul ‘Alam
    Muhammad Kebungsuan

    Adapun mana kebenarannya saya mohon bantuan pula untuk sama-sama mengumpulkan data-data yg benar sumbernya.

    Ini penting bagi saya untuk mencari sebenar-benarnya data history sebab saya sedang mencari sebanyak-banyaknya data akurat dan terverifikasi kebenarannya berkenaan dengan Sunan Maulana Al-Magribi yg di makam kan di bukit Parang Tritis, Yogjakarta yang merupakan leluhur dari Istri Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam)yang juga leluhur saya.