Munculnya fenomena radikalisme di negeri ini mau tidak mau mengantarkannya pada ruang diskusi publik. Lebih lanjut, perdebatan ini kemudian dikaitkan dengan beberapa kasus terorisme. Dan secara terstruktur tindak terorisme kemudian diidentikkan dengan Islam.

Aksi teror di negeri ini sebenarnya tak lepas dari akar sejarah yang sudah lama berlangsung. Sebelum kasus Bom Bali dan bom-bom lainnya, benih-benih radikalisme agama telah muncul. Tercatat pemberontakan dengan cara-cara radikal pernah terjadi di Indonesia. Mulai dari gerakan Kahar Muzakkar, Ibnu hajar, Kartosuwiryo hingga Daud Beureuh.

Menurut Van Bruinesen, munculnya istilah Islam radikal dapat di lacak dari munculnya Darul Islam. Hal tersebut juga tidak terlepas dari kebiasaan Masyumi yang kerap membangun jaringan transnasional dengan beberapa gerakan-gerakan di Timur Tengah. Gerakan-gerakan yang dimaksud antara lain adalah Wahabi dari Arab Saudi, Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Hizbut Tahrir dari Yordania.

Selain karena akar sejarah yang sudah ada, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan adanya radikalisme agama. Pertama, faktor pemikiran. Merebaknya dua arus pemikiran besar menyebabkan perbedaan yang kentara diantara keduanya. Pemikiran pertama adalah anggapan bahwa agama merupakan penyebab dari kemunduran umat manusia. Arus pemikiran ini menganggap bila umat ingin maju dan unggul dalam mengejar ketertinggalannya sebisa dan sesegera mungkin harus melepaskan baju keagamaan. Pemikiran ini memang terjadi karena sekularisme yang semakin marak. Sedangkan, pemikiran kedua adalah merupakan antitesa dari pemikikran yang pertama-yang merefleksikan pertentangan terhadap realitas yang ada yang sudah tak dapat ditolerir lagi.

Kedua, faktor ekonomi. Liberalisme dan kapitalisme ekonomi berdampak pada kesenjangan yang tajam. Kekuatan ekonomi dan perputaran modal hanya dirasakan oleh para pemodal. Bisa jadi, karena kesenjangan inilah menjadikan orang yang semula baik menjadi seorang yang buas dan hilang akal. Ketiga adalah faktor politik. Stabilitas politik suatu negara adalah dambaan setiap warganya. Jika stabilitas politik kacau, maka lambat laun akan menimbulkan tindakan skeptis dan tak percaya lagi pada pemerintahan.

Keempat adalah faktor sosial. Banyaknya saling simpang pendapat diantara masyarakat tak jarang berbuah konflik. Dari konflik yang ada kemudian menjadikan seseorang dengan mudah mengambil tindakan anarkis. Kelima adalah faktor pendidikan. Pendidikan memang bukanlah faktor yang langsung menyebabkan adanya tindakan radikalisme. Akan tetapi, pendidikan yang salah (terutama pendidikan agama) akan mengakibatkan benih-benih sikap radikal dan anarkis. Keenam adalah faktor psikologi. Kebanyakan para pelaku teror dan tindakan anarkis adalah mereka yang mempunyai masa lalu suram.

Hampir semua orang sepenuhnya sadar jika agama sebenarnya menjunjung tinggi perdamaian. Islam sendiri juga tidak membenarkan adanya teror, apalagi mengatasnamakan agama. Andai ada, Islam memberikan syarat-syarat tertentu ketika sedang dalam track jihad fi sabilillah. Berikut adalah uraian dari salah satu ulama muslim (Prof. Dr. Syeikh Ali Jumuah) tentang syarat dan etika tersebut diatas:

  1. Cara dan tujuannya jelas dan mulia
  2. Perang atau pertempuran hanya di perbolehkan dengan pasukan yang memerangi, bukan masyarakat sipil.
  3. Perang harus dihentikan bila pihak lawan telah menyerah dan memilih damai.
  4. Melindungi tawanan perang dan memberlakukannya secara manusiawi.
  5. Memilihara lingkungan, antara lain tidak membunuh binatang tanpa alasan, membakar pohon, merusak tanaman, mencemari air dan sumur, merusak rumah dan bangunan
  6. Menjaga hak beragama para agamawan dan pendeta dengan tidak melukai.

Pelanggaran syarat dan etika perang dalam Islam tersebutlah yang hari ini jarang dipahami secara mendalam. Pemahaman tekstual dan awur-awuran pada akhirnya akan menjadi landasan jihad yang keliru. Untuk itu, perlu upaya perenungan dan pemahaman lebih rinci makna jihad itu sendiri. Pun begitu dengan batasan-batasan makna radikal secara kontekstual.

 

Sumber gambar: http://cpps.ugm.ac.id/images/content_anti-radik1368777889.jpg