Fallah, anak kecil yang usianya belum genap berumur 5 tahun terlihat sedang jalan kaki bersama teman-temannya. Ia baru saja pulang dari sekolah. Guru-gurunya di Taman Kanak-kanak mengatakan bahwa Fallah adalah anak yang paling cerdas diantara teman-teman sebangkunya. Ia sudah mahir membaca dan menyebutkan angka sampai bilangan 20an.

Benar saja, Fallah memang lebih enerjik jika melihat aktivitas dan tingkah laku kesehariannya. Saat berumur 3 tahun, ibunya mengira Fallah terkena syndrom hyperaktif. Ia lebih cekatan jika dibandingkan dengan anak-anak seumurannya, ia juga memiliki pengertian yang lebih dewasa. Namun, agaknya kedua orang tuanya bisa bernafas lega karena Fallah adalah anak yang cerdas, bukan hyperaktif. Bagaimanapun, Fallah tetaplah anak kecil yang lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain.

Sesampainya dirumah, Fallah tak lupa mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya. Oleh ibunya, Fallah dididik untuk senantiasa menjadi calon pemimpin. Baik sebagai laki-laki, maupun menjadi pemuda harapan pemudi dan bangsa.

Fallah : Bunda, kapan mulai puasa?
Bunda : Masih beberapa hari lagi sayang. Kenapa tohh?
Fallah : Nanti kalau sudah waktunya puasa bilangi Fallah yaa, Bunda. Fallah mau puasa juga.

Mendengar ucapan putranya, sang ibu hampir saja menitikkan air mata. Ia tak menyangka putranya yang masih bau kencur itu sudah mengerti dan ingin menjalankan puasa.

Bunda : Iya, Sayang. Nanti bunda kasih tau. Memangnya Fallah kuat puasa gak makan gak minum seharian?
Fallah : Kuatlaahhh. Kan Fallah anaknya ayah. Jadi pasti kuat, Bunda.

Ibunya terdiam, beberapa detik kemudian memeluk Fallah dengan erat. Melihat hal tersebut, Fallah tidak mau banyak komentar. Ia lebih memilih untuk menikmati hangatnya pelukan kasih sayang sang ibu. Ibunya kemudian cepat-cepat lari ke dapur menyiapkan makanan untuk Fallah. Tidak terasa air matanya menetas dan menjatuhi pipinya. Air mata surga untuk seorang putra yang begitu dewasa bahkan sebelum layak dikatakan anak-anak.