Yang tardisional menjadi makmum, demikian Edi Purwanto menuliskan situasi tradisional bersanding modernitas (lihat di sini). Edi Purwanto menjelaskan hegemoni modernitas itu pada kehidupan hari ini karena situasi ekonomi, politik atau kepekaan Negara yang minim. Situasi itu menarik penulis untuk mengumpulkan puing-puing tardisionalitas masa lalu yang menghumaniskan anak-anak pada lingkungan sekitar, yakni bermain.

Tidak terbayangkan saat penulis masih anak-anak bahwa situasi bermain saat itu akan sama sekali berbeda lima belas tahun ke depan. Tidak terlintas akan ada remote control yang memudahkan kita untuk menghidupkan TV sambil tidur-tiduran. Saat itu semua serba manual, harus bangkit dan berjalan mendekati televisi untuk membesarkan volume, mangganti chanel, apalagi menghidupkan dan mematikan televisi.

Tetapi saat ini semua sudah berubah. Waktu yang dilewatkan tidak lagi di tanah lapang dan berlarian menguras keringat bersama lagi. Bahasa yang digunakan juga berbeda, bukan bermain, tapi main game, nge-game, playstatation, atau online. Semua permainan itu dari perangkat teknologi yang sangat mudah kita akses hari ini.

Salah satu permainan yang tidak pernah kita jumpai lagi, dan mungkin tidak akan pernah lagi kita temukan adalah Gatrik. Banyak istilah lain untuk memberi nama permainan Gatrik ini seperti Entek, gepok lele, Keladi, Engklek dan lain sebagainya, karena setiap daerah mempunyai nama lokal sendiri. Dimainkan oleh dua orang atau lebih dengan dua bilah kayu (disebut gatrik), masing-masing gatrik pendek dan gatrik panjang. Jika lebih dari dua orang, maka permainan dibentuk menjadi dua kelompok yang berhadapan.

Permainan diawali dengan pembuatan kelompok musuh dan lawan jika diperlukan. Lalu seperti pada umumnya permainan tradisional, yakni suit, atau melemparkan kayu Gatrik pendek ke wok. Siapa yang masuk atau paling dekat deket dengan wok main dulu, sementara kelompok yang lain menjadi penjaga. Wok adalah lubang tanah buatan yang dibentuk untuk menjalankan permainan ini. Pada permainan Gatrik, wok berbentuk garis pendek sekitar 5-10cm. Wok juga dapat digantikan dengan menyusun batu sandaran gatrik pendek (seperti di gambar).

Adat tiga babak permainan. Pertama adalah menyilangkan gatrik pendek di atas wok dan siap dilempar dengan gatrik panjang. Tugas lawan adalah menjaga lemparan gatrik pendek, sebisa mungkin untuk ditangkap agar dia bisa bermain gatrik. Jika tidak bisa menangkap, masih ada satu kesempatan lagi dengan melemparkan gatrik pendek ke gatrik panjang. Bila kena, kelompok penjaga ganti memainkan gatrik.

Bila masih kalah, maka masuk babak kedua. Gatrik panjang dan pendek dipegang oleh pemain gatrik, dan gatrik pendek dipukul keras-keras dengan gatrik panjang. Gatrik pendek akan terlempar dan penjaga bersiap menangkap. Bila tertangkap, ia mendapat nilai yang telah disepakati dan mempunyai peluag untuk bermain gatrik. Bila tidak, ia melemparkan gatrik pendek sebisa mungkin mendekati wok, agar pemain gatrik tidak mempunyai jarak per-gatrik pendek untuk mendapatkan nilai.

Babak terakhir adalah apa yang disebut gepok lele, yakni menaruh gatrik pendek sejajar dengan wok, dipukul bagian ujung hingga terlempar naik, lalu segera dipukul lebih keras lagi ke depan. Penjaga tetap bertugas menangkap gatrik pendek. Bila tidak tertangkap, pemain gatrik tinggal menghitung jarak pukulan yang dihasilkan antara gatrik pendek dengan wok. Jarak yang diukur dengan gatrik pendek itu menjadi nilai pemain yang menentukan kemenangannya bermain gatrik.

Meskipun permainan itu kini hampir tidak mungkin kita jumpai lagi pada anak-anak, akan tetapi ini adalah permainan social yang mendidik anak-anak diwaktu dulu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, pencatatan permainan tradisional ini menghubungkan kita pada wisata imajinasi permainan tradisional yang sudah sekitar lima belas tahun kita lewatkan. Semoga kita mampu memetik hikmahnya dibalik hegemoni modernitas yang ada.

Gambar: http://www.gettyimages.com/detail/88747693/Taxi

3 COMMENTS

  1. hahahh
    masih ingat aku… di rumahku nama permainan ini adalah entek. dalam prosesinya ada yang namanya patel lele namanya. Bukan gepok lele tapi memang seje silet seje anggit seje deso mowo coro. hahah

    ada seabrek permainan anak-anak yang hilang di peredaran. Pada umumnya permainan tradisional ini adalah untuk kohesivitas kelompok. Berbeda dengan permainan modern seperti sekarang ini yang cenderung individualis dan membentuk manusia yang egois dan menang sendiri. Yang saya ingat ada gatheng, gobak sodor, gathengan, nekeran, gedrik, jamuran, tekongan, delikan, cilohong. Ndas sikil (wah ini yang paling seru), dampar dan masih banyak lagi.

    Permainan-permainan ini sangat dekat dengan alam. Dengan permainan-permainan tradisi ini, anak sangat mengenal lingkungan di sekelilingnya. Dalam permainan godongan suatu misal. bagi yang berhasil menang akan menginstruksikan untuk mencari godong (daun) tertentu yang berada di sekitar lokasi permainan atau ingatan-ingatan anak-anak tentang daun yang disebutkan.

    Sampai sekarang saya sudah tidak lagi melihat permainan-permainan ini dimainkan oleh anak-anak, sekalipun di pedesaan.