Judul: Limitless

Sutradara: Neil Burger

Pemain: Bradley Cooper, Abbie Cornish, Robert De Niro

Produksi: Virgin Produced Rogue

Tahun: 2011

Eddie Mora adalah seorang penulis yang frustasi di bawah tekanan penerbit yang mengontraknya untuk segera menyelesaikan proyek menulis novel. Ia pesimis bisa menyelesaikan novelnya sebagaimana batas deadline yang telah ditentukan antara penerbit dan dirinya. Lindy, seorang cewek cantik semampai yang ternyata adalah pacar Eddie, selalu membantunya secara material dan psikis, mendorongnya untuk menyelesaikan novel itu, dan beberapa mengajaknya ngobrol untuk sekedar menggali imajinasi yang sekiranya dibutuhkan dalam novelnya nanti. Tak bergeming. Eddi tetaplah ia yang lebih terlihat sebagai pemalas daripada seorang penulis sastra. Barangkali stereotip inilah yang menggelembung di dunia kita, di mana siapapun yang dekat dengan sastra selalu tak terurus hidupnya.

Di tengah kegamangan untuk terus bertahan di pekerjaannya sebagai seorang penulis, Eddie bertemu dengan bekas adik iparnya, Vernon, dan menawarinya setablet pil kecil yang awalnya ia tak sudi menggunakannya. Singkat cerita, akibat pil itu, NZT-48 namanya, kecerdasannya meningkat hingga 100 persen yang awalnya, menurut fakta yang diungkapkan para neurosaintis, hanya di bawah 30 persen. Film ini mengilustrasikan tiga hal penting dalam kaitan antara manusia dengan teknologi pengobatan modern. Pertama, pengaruh NZT-48. Kedua, hubungan antara Eddie dan Lindy. Ketiga, mengenai masa depan teknologi medis.

Pertama, pengaruh NZT-48 sebagai obat untuk memaksimalkan kemampuan otak. Para ekspert dan peneliti tentang kinerja otak mengatakan bahwa kemampuan otak sangat relatif. Ada yang mengatakan hanya 10 persen dari total keseluruhan kemampuan otak, ada pula yang menyebutkan bahwa bisa mencapai 25 persen. Perbedaan ini secara tersirat menunjukkan bagaimana kemampuan otak sangat beragam ketiga bekerja. Dalam film Limitless ini, NZT-48 justru mampu meningkatkan kinerja otak semaksimal mungkin dan dapat me-recalling memori lama yang tersimpan untuk diungkapkan kembali saat dibutuhkan. Sayangnya, pil kecil ini tidak mampu membuat kemampuan itu permanen. Ia hanya mempengaruhi otak pada batas waktu tertentu.

NZT-48 yang dikonsumsi Eddie mengandung semacam zat adiktif yang membuatnya ketagihan untuk terus memakainya di saat pengaruh pilnya sudah mulai melemah. Inilah mengapa Eddie mencari Vernon di kemudian hari dari pertemuan singkatnya untuk mendapatkan pil itu. Tidak hanya Eddie ternyata, banyak orang termasuk mantan istrinya juga terpengaruh obat ini. Bahkan pengusaha kelas atas yang pernah bertransaksi dengan perusahaan di mana Eddie bekerja dalam kendali pil juga mengkonsumsi pil luar biasa ini. Ketagihan, ternyata, bukan hanya unsur adiktif yang dikandung obat tertentu, tapi apa pengaruhnya pada orang yang mengkonsumsinya.

Kedua, hubungan antara Eddie dan Lindy yang pasang surut akibat dari perubahan pada hidup Eddie yang tak wajar. Setelah mengonsumsi NZT-48, Eddie mendadak berubah. Perubahan pertama yang terjadi padanya sangat sederhana sekali, yaitu membersihkan apartemen yang ia tinggali. Dari sanalah novel Eddie mampu diselesaikan. Ia merasa sangat senang dengan keadaannya dan tak merasa terbebani dengan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Pelajaran penting dari ilustrasi ini adalah dorongan untuk melakukan hal-hal positif di tempat yang bersih.

Namun, perubahan yang direaksi oleh pil ini temporer sekali. Perebutan untuk mendapatkan sisa pil pasca Vernon meninggal, hingga kenyataan yang diketahui Lindy belakangan, menyebabkan Lindy nyaris berpaling dari kehidupan Eddie yang mulai sejahtera. Saat itu, Eddie telah bekerja di sebuah perusahaan sebagai analis kebijakan bisnis setelah sebelumnya ia jadi analis di bursa efek dan keuangan. Keadaan ini tak sepenuhnya membuat Lindy senang. Justru ia heran dan terkejut saat tahu apa yang dikonsumsi pacarnya.

Ketiga, mengenai teknologi medis masa depan yang terpikir dalam benak Eddie. Pil yang Eddie miliki tak diproduksi lagi karena Vernon si peracik telah dibunuh akibat dari perebutan mendapatkan pil. Eddie yang saat itu terlanjut pintar dan cerdas akhirnya berpikir ke masa depan, di mana pil ini dapat ia konsumsi terus menerus dan memaksimalkan durasi pengaruhnya. Masa depan teknologi medis modern tertanam dengan sendirinya dalam imajinasi Eddie berkesuaian dengan kebutuhannya sendiri pada hasil rekayasa teknologi medis itu. Laboratorium mampu mengubah itu dan menjadikannya tetap instan. Tentu ada berpikir mengapa obat tradisional untuk menyembuhkan batuk saja kini sudah dikapsulkan agar mudah dikonsumsi dan dicerna, tanpa mengelakkan efek samping yang dikandung.

Dengan banyak modal dari kecerdasan hingga kekayaan yang dimiliki, Eddie secara bertahap merangsek ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai kepala negara bagian di AS. Apakah politisi memang benar-benar harus secerdas dan sekaya Eddie di bawah pengaruh NZT-48? Mungkin iya. Tapi di Indonesia, kita cuma perlu agar para politisi itu lebih bermoral, jujur dan sayang rakyat.