Luar biasa! Kata itu ada dalam hati ketika film “Avatar” selesai diputar. Seperti muncul rasa “lega” dan “plong” bagian dari sensasi yang saya rasakan sepanjang satu setengah jam menikmati film besutan James Cameron ini. Saya seperti tidak mau begitu saja beranjak dari tempat duduk sebelum mengatakan kekagumanku atas film fiksi ilmiah ini pada teman disampingku.

“Super spektakuler dan great movie” gumamku sekali lagi dalam hati, bukan saja dari sisi pemanfaatan tehnologi hingga special effect dalam film ini begitu sempurna, namun pesan moral yang ada juga berbobot, meski sebagian pengamat mengatakan cerita dalam film ini klise.

Menurut saya, pantas saja kalau sebagian besar kritikus film menganggap Avatar adalah sebuah maha karya dari James Cameron. Special effect yang digunakan benar-benar menjadikan film ini sebuah pintu revolusi bagi penggabungan antara film 3D (tiga dimensi) dengan film biasa memang nyaris sempurna.

Keindahan dan “kesangaran” planet Pandora yang dihuni oleh Na’vi, mahluk biru berkulit licin dengan bentuk atletis, tekstur wajah mirip harimau, dan berekor tergambar dengan sangat sempurna. Bahkan keindahan hutan dan tumbuhan serta keganasan hewan-hewan penghuninya sulit untuk dilukiskan apabila anda tidak menikmati filmnya secara langsung.

Dulu, sebelum saya menonton film ini, Jurasic Park I-III karya Steven Spielberg dan Lord of The Rings karya Peter Jackson saya anggap sebagai dua film yang luar biasa dalam memvisualisasikan imajinasi sutradaranya. Namun, ketika menonton “Avatar”, takhenti-hentinya saya katakan film ini spektakuler. Saya hampir tidak percaya ketika James Cameron dengan jujur bercerita bahwa ide dan imajinasi tentang film ini muncul jauh sebelum dia masuk dalam hingar bingar Hollywood, yaitu ketika dia menjadi seorang sopir truck. James Cameron memang luar biasa, he is the man!

Di awal kisah, beberapa prajurit bayaran diterbangkan ke planet Pandora termasuk Jack Sully (Sam Worthington) untuk bergabung dalam program Avatar. Jack yang mantan marinir dengan kaki lumpuh akibat perang terpilih menjadi salah satu operator Avatar. Avatar adalah mahluk ciptaan manusia yang dibuat dari penggabungan gen manusia dan Na’vi.

Dengan alat berteknologi tinggi, Jack harus masuk ke dalam sebuah kapsul canggih, melalui kapsul itulah dia secara otomatis mengendalikan Avatar. Ketika Avatar ini berfungsi, maka akal dan pikiran Jack akan berpindah pada tubuhnya yang lain yang berwarna biru dengan tinggi dua kali lipat manusia biasa, sementara tubuhnya yang asli akan tetap berada dalam kapsul.

Ketika diterjunkan ke hutan belantara planet Pandora yang ganas sekaligus indah, Jack mendapat masalah. Akibat berusaha menghindari makhluk ganas yang mirip dinosaurus, dia terlepas dari kelompoknya. Beruntung, ketika dia takkuasa menghindari serangan sekelompok mahluk mirip harimau bertubuh hitam mengkilat seperti besi, dia ditolong oleh Na’vi cantik dan seksi bernama Neytiri (Zoe Saldana) yang kemdian menjadi kekasihnya.

Jack yang sejatinya mengemban misi untuk mengumpulkan informasi tentang kehidupan Na’vi demi kelancaran proyek manusia untuk menguasai sumber mineral di Pandora, menjadi sadar bahwa apa yang dia dan temannya lakukan adalah tidak benar.

Kehidupan Na’vi yang selama ini tentram dan menyatu dengan alam mereka yang indah, hancur luluh lantak oleh serangan kekuatan militer manusia yang serakah. Dan pada akhirnya, Jack membela dan memimpin para Na’vi untuk mempertahankan planet mereka dari kekuasaan manusia.

Hal lain yang menjadikan Avatar berbeda dengan film-film fiksi ilmiah sebelumnya yang bertemakan “alien” atau mahluk luara ngkasa adalah posisi manusia yang biasanya menjadi objek serangan alien berubah menjadi subjek. Seperti dalam Independence Day karya Roland Emmerich, War of the World karya Steven Spielberg, dan Transformer karya Michael Bay menceritakan bumi diserbu oleh mahluk asing “alien” dengan bentuknya yang bermacam-macam dan dengan kekuatan persenjataan maupun kemajuan tehnologi mereka yang luar biasa.

Dalam Avatar, kondisi itu terbalik, manusia lah yang menjadi “alien” bagi Na’vi. Manusia datang untuk melakukan kolonialisasi dan eksploitasi mineral yang ada di planet Pandora. Demi keberhasilan tujuannya itu, manusia taksegan melakukan perbuatan yang kejam. Inilah sesuatu yang membuat film ini tidak hanya luarbiasa dari sisi penggunaan tehnology namun pesan moral di dalamnya sangat luarbiasa.

Tidak sia-sia James Cameron menyiapkan film ini selama 4 tahun sebelumnya. Bahkan, demi suksesnya Avatar, studio film 20th Century Fox rela menggelontorkan dana US$400juta. Tentunya, para pemegang saham salah satu perusahan film terbesar di dunia itu selalu tersenyum, sebab hanya dalam waktu dua minggu, Avatar telah meraup US$2Milliar.

Bagi saya, film ini telah membawa saya bertamasya ke luar dari bumi yang “sumpek” untuk menikmati hutan di planet Pandora yang lebat, penuh dengan warna warni bunga yang indah, dan kerlap-kerlip sinar tumbuhan serta hewan yang terpancar tatkala malam telah tiba.

Namun, film ini juga membawa saya pada bayangan masa lampau ketika bangsa kolonial datang dan mengekploitasi habis-habisan hasil bumi maupun hutan di Nusantara, melakukan kekerasan fisik maupun mental terhadap bangsa pribumi yang sebelumnya hidup tenang, tentram dan bersahabat dengan alam.

Semoga ada sutradara sekelas James Cameron di Indonesia! Amien.

2 COMMENTS

  1. melalui kaca mata eksistensialisme, film tersebut ingin membut kita melihat diri sendiri, bahwa kita ini adalah makhlukh familiar sekaligus asing..

  2. Sayang, untuk saat ini sutradara di Indonesia hanya membuat film sekelas sinetron. Saya tdk bisa membedakan mana film layar lebar mana sinetron. Akting para aktornya jauh dibawah standar. Terkesan dibuat2, tidak alami. Holywood movie is always the best, baik dari akting, teknologi dsb. Mudah2n Sutradara2/aktor2 di Indonesia bisa belajar banyak dari Duni perfilman Holywood