Habibul • Jan 26 2026 • 66 Dilihat

Sepak bola dimasa anak-anak kadang menjadi keasikan sendiri bagi dunia mereka, namun tidak bagi sebagian orang dewasa. Hal itu mengaitkan banyak aspek, dari aspek psikologis dengan sikap fanatisme sampai dengan kejujuran menilai proses dan bisnisnya.
Pada era 2000an awal, gegap gempita warga Gresik sangat bangga atas capaian klub bola kebanggaan menjuarai liga, saat itu nama klub masih bernama PS Petro Kimia Putra. Klub sepak bola asal kota pudak pada 2002 menjadi juara liga.
Saat itu klub dilatih oleh pelatih asal Moldova bernama Serghei Dubrovin dan Imam Supardi sebagai asisten pelatih yang kemudian semakin bagus di level nasional. Bagi pencinta sepak bola nasional mungkin nama tidak asing dengan panggilan Supardi.
Ingatan masa indah kompetisi sepak bola dengan atribut fanatisme Kebo Giras saat itu mungkin menjadi momen sulit saya lupakan. Hal ini menjadi sesuatu yang memengaruhi keputusan saya terkait sepak bola terhadap anak.
Setiap ada keperluan terkait sepak bola, dari versi digital dalam bentuk permainan sampai dengan latihan bersama klub sekolah. Saya hampir sulit menolak, kemudian mencoba mendukung dalam bentuk apapun.
Keputusan dukungan ini termasuk dengan pertimbangan situasi sepak bola lokal, sebagian besar kita sudah tahu bagaimana kebijakan Nagara dan PSSI sebagai induk. Sepak bola dan politik nampaknya sulit dipisahkan pada era ini dan lokal kita. Namun, diluar itu semua kita mengambil langkah sangat sederhana dengan cara mengembalikan lagi nilai filosofis olahraga. Yaitu, sehat, dengan mengembalikan prinsip ini kemudian tidak perlu lagi terlalu risau dengan kondisi eksternal.
Keputusan akhir diambil untuk melibatkan anak dalam sepak bola sekolah. Dilatih oleh guru olah raga. Bertemu di lapangan pada akhir pekan. Beli kostum, sepatu, dan perangkat standar.
Sepak bola ini menjadi pilihan utama kami untuk anak seperti sebuah kelucuan. Karena genetik kami ini petani. Kami tidak ada generasi dunia olah raga sama sekali. Namun, sehat adalah alasan paling dasar yang sedang kami usahakan. Selain itu tentu ada hal lain yaitu kepercayaan diri.
Membangun kepercayaan diri bagi anak menjadi pekerjaan rumah yang berhubungan dengan orang, waktu, dan nafas panjang. Sudah pekerjaan pasti yang harus diatur dengan pengaturan jangka panjang. Teladan dan nasehat saja tidak cukup. Harus ditempa dengan sikap tegas.
Sepak bola menjadi pilihan paling dekat dengan karakteristik diatas. Body charge atau body crash adalah salah satu kondisi biasa dalam sepak bola. Kemenangan sepaket bersama kekalahan selalu hadir di saat yang sama. Setiap hasil membawa dampak, bagi yang menang membawa kebahagiaan dan yang kalah bisa membawa hikmah tentunya, hehehe.
Semua itu menjadi bagian pembelajaran paling nyata bagi anak. Tidak perlu cas-cis-cus untuk menjelaskan. Langsung dirasakan, diolah, kemudian direspon.
Seperti itulah sepak bola, orang tua dan anak.
Diketik saat menunggu anak main sepak bola di lapangan. Salam olah raga, salam sehat!
Konon, pertandingan ketangkasan antar murid-murid Durna akan diakhiri dengan pertunjukan kepandaian ...
Mengangkat Derajat Alam, Manusia, Hingga Mempertahankan Warisan Budaya Dunia Kesadaran melestarikan ...
Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...
Kampung Batu adalah kampung di pedalaman Kalimantan. Sebagaimana kampung-kampung yang ada di nusanta...
Pada gugusan pulau-pulau di Nusantara, agak menjorok kedalam menuju Samudera Pasifik, di sebuah huta...
Rombongan kendaraan roda empat masuk secara beriringan, memenuhi tiap-tiap sudut halaman parkir ruma...

Belum ada komentar.