AveSticker

Jejak-jejak Sang Proklamator (Soekarno Kecil)

Jun 13 20151.483 Dilihat

Tidak terasa Bulan Juni kembali tiba.  Jikalau semua orang sibuk dengan Jakarta Fair, ingatanku di Bulan Juni selalu dan hanya untuk Bung Karno. Bung Karno, sosok sakti yang lahir dengan nama Kusno di Surabaya, 6 Juni 1901. Ia terlahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Nyoman Rai yang sama-sama keturunan ningrat. Raden Soekemi Sosrodiharjo keturunan Kerajaan Mataram yang juga konon katanya masih keturunan Sunan Kalijaga. Sedangkan, Ida Nyoman Rai adalah keturunan Kerajaan Singaraja.

Semasa kecilnya, Bung karno dibesarkan di Blitar, Jawa Timur. Ia diasuh oleh rewang keluarga bernama Sarinah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sarinah-lah yang menempa dan mengasah mental Soekarno kecil. Saat masa kecilnya tersebut, ada mitos yang menyebutkan bahwa air ludahnya bisa menyembuhkan penyakit.

Menginjak remaja, ketika berumur 14 tahun Soekarno sudah mulai menunjukkan kenakalan dan keberaniannya. Sebagai laki-laki ia tergolong istimewa di masa tersebut, ia berani memacari putri-putri orang Belanda yang notabene merupakan penjajah di Nusantara. Dari beberapa sumber yang dihimpun oleh penulis, gadis Belanda yang pernah dikencani adalah Rika Meelhuysen yang juga katanya gadis pertama yang diciumnya. Suatu ketika, tatkala kedua pasangan tersebut sedang memadu kasih menggunakan sepeda ontel. Tiba-tiba, mereka kepergok oleh Sang Bapak, Raden Soekemi. Namun, Raden Soekemi tidak marah sedikitpun. Oleh Bapaknya, Soekarno malah diminta untuk sering bergaul dengan orang Belanda agar Bahasa Belandanya semakin bagus.

Selain Rika, ada juga Paulina Gobee, Laura, serta Mien Hessels yang masuk dalam daftar wanita Belanda yang pernah menjalin hubungan dengannya. Diantara sekian banyak wanita, Mien adalah sosok yang benar-benar membuat Soekarno kasmaran. Karena saking cintanya, ia nekat melamar Mien dan menemui sang ayah, Tuan Hessels. Namun, bukannya mendapat sambutan yang baik, malah cacian yang didapatkannya.

Sejak saat itu, Soekarno semakin menaruh dendam yang amat membara kepada orang-orang Belanda. Cacian tersebut ia gunakan sebagai pelecut semangat untuk membasmi kolonialisme di Nusantara. Soekarno merasa terbakar semangatnya untuk membawa kaum pribumi bisa sejajar dengan bangsa lain.

(Bersambung . . . . )

Share to

Penulis lepas. Lepas pantai. :)

Topik Terkait

Santri yang Memilih Jalan Sunyi – ...

by Mar 11 2026

Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Amitabh Bachchan: Suara, Waktu, dan Jeja...

by Jan 31 2026

Nama Amitabh Bachchan bukan sekadar milik dunia perfilman India. Ia telah menjadi bagian dari ingata...

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka &#...

by Jan 30 2026

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (1) ...

by Jan 25 2026

Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top