Jawoto Tri Prabowo • Jun 13 2015 • 1.612 Dilihat

Tidak terasa Bulan Juni kembali tiba. Jikalau semua orang sibuk dengan Jakarta Fair, ingatanku di Bulan Juni selalu dan hanya untuk Bung Karno. Bung Karno, sosok sakti yang lahir dengan nama Kusno di Surabaya, 6 Juni 1901. Ia terlahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Nyoman Rai yang sama-sama keturunan ningrat. Raden Soekemi Sosrodiharjo keturunan Kerajaan Mataram yang juga konon katanya masih keturunan Sunan Kalijaga. Sedangkan, Ida Nyoman Rai adalah keturunan Kerajaan Singaraja.
Semasa kecilnya, Bung karno dibesarkan di Blitar, Jawa Timur. Ia diasuh oleh rewang keluarga bernama Sarinah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sarinah-lah yang menempa dan mengasah mental Soekarno kecil. Saat masa kecilnya tersebut, ada mitos yang menyebutkan bahwa air ludahnya bisa menyembuhkan penyakit.
Menginjak remaja, ketika berumur 14 tahun Soekarno sudah mulai menunjukkan kenakalan dan keberaniannya. Sebagai laki-laki ia tergolong istimewa di masa tersebut, ia berani memacari putri-putri orang Belanda yang notabene merupakan penjajah di Nusantara. Dari beberapa sumber yang dihimpun oleh penulis, gadis Belanda yang pernah dikencani adalah Rika Meelhuysen yang juga katanya gadis pertama yang diciumnya. Suatu ketika, tatkala kedua pasangan tersebut sedang memadu kasih menggunakan sepeda ontel. Tiba-tiba, mereka kepergok oleh Sang Bapak, Raden Soekemi. Namun, Raden Soekemi tidak marah sedikitpun. Oleh Bapaknya, Soekarno malah diminta untuk sering bergaul dengan orang Belanda agar Bahasa Belandanya semakin bagus.
Selain Rika, ada juga Paulina Gobee, Laura, serta Mien Hessels yang masuk dalam daftar wanita Belanda yang pernah menjalin hubungan dengannya. Diantara sekian banyak wanita, Mien adalah sosok yang benar-benar membuat Soekarno kasmaran. Karena saking cintanya, ia nekat melamar Mien dan menemui sang ayah, Tuan Hessels. Namun, bukannya mendapat sambutan yang baik, malah cacian yang didapatkannya.
Sejak saat itu, Soekarno semakin menaruh dendam yang amat membara kepada orang-orang Belanda. Cacian tersebut ia gunakan sebagai pelecut semangat untuk membasmi kolonialisme di Nusantara. Soekarno merasa terbakar semangatnya untuk membawa kaum pribumi bisa sejajar dengan bangsa lain.
(Bersambung . . . . )
Ada hari dimana pemimpin harus terdengar seperti sejarah. Kalimatnya panjang, suaranya menggelegar, ...
Tidak mudah bagi anak-anak eksakta (ilmu pasti, red), untuk dapat dianggap mampu memimpin atau mengo...
Menyamakan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo sebenarnya bukan ide yang aneh. Yang aneh justru key...
Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Belum ada komentar.