AveSticker

Idul Fitri, Mampukah Kita Dapati Hati yang Benar-Benar “Baru”?

Sep 13 2010740 Dilihat

Semangat membersihkan semua kerak dosa kemanusiaan masih kuat di hati, menggerakkan semangat saya dan keluarga hari ini untuk melanjutkan silaturrohim di hari kedua ini. Akan tetapi separoh jalan saja cobaan mulai datang. Kali ini kendaraan sederhana ini tiba-tiba saja remnya tidak berfungsi. Satu-satunya bengkel sepeda motor yang buka di lebaran ini ada di desa Karangkates. Dan benar. Akan tetapi saya dan ibu harus menunggu teramat lama.

Hampir dua jam akhirnya motor ini mendapat sentuhan mekanik yang bergerak cepat. Setengah jam kemudian kami meluncur ke Sumberpucung, sowan salah satu kyai ternama di sana.

Sempat saya bergumam dalam hati, mentang-mentang saya paling tidak dikenalnya di ruangan ini, seolah saya dicuekin. Saat ada kesempatan untuk berpamitan, sayapun segera mengundurkan diri, permisi meninggalkan rumah kyai kharismatik itu.

Setelah hampir setengah hari, sayapun pulang dengan ibu, kembali ke rumah. Rasa kantuk yang mendera membuatku tertidur pulas. Tiba-tiba saja ada tamu, seorang anak muda sederhana datang. Dengan setengah hati, saya ajak ngobrol ala kadarnya. Tidak ada kesan hormat bagi saya, karena kebetulan tamu yang datang adalah salah satu dari anak-anak muda marginal di kampung, dipandang sebelah mata, hanya bekerja sebagai tukang angkat di pasar, dari keluarga kurang mampu, dan seabrek identitas orang-orang pariferal yang kurang beruntung. Pendeknya, dia bukan ibrah yang tepat untuk anak desa yang sukses.

Selepas anak muda itu pergi, tiba-tiba hati ini mengalami goncangan yang hebat. Begitu mudahkah kita berubah? Begitumudahnya kita menjadi angkuh dan sombong di hari fitri ini? Bukankah kita hari ini masih disuguhkan mekanisme kultur sosial yang menggerakkan semangat kita melakukan integrasi sosial seluas-luasnya? Ini belum bicara tentang toleransi dan seabrek nilai multi kultur perbedaan manusia yang ada, tanpa terasa hati ini sudah begitu mudah mengabaikan penghormatan yang tinggi pada nilai-nilai luhur sesama manusia itu sendiri!

Fikiran ini kemudian terbayang hadis nabi yang ditegur oleh Alloh SWT saat Rosululloh mencuekin Hasan Basri yang buta. Istighfar pun saya lantunkan berulang. Ya Muqollibulquluub. Meski Kau janjikan suasana yang fitri dan penyucian hati, rasanya teramat susah buat kami untuk mengembalikan hati ini kembali pada fitrah yang benar-benar suci. Begitu banyakkah kerak noda dan dosa yang sudah kami perbuat, hingga membekas begini dalam?

Allohuakbar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top