Redaksi • Apr 15 2026 • 6 Dilihat

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yang kita pegang setiap hari. Muncul di sela-sela waktu luang—di antara scroll, tawa, dan video ringan. Di situlah kita mulai mengenal kandidat, membentuk kesan, bahkan menentukan pilihan. Politik terasa dekat. Tapi ada satu hal yang sering luput: politik tidak berhenti saat kita memilih. Apa yang kita lihat dan putuskan hari ini akan berlanjut dalam kebijakan selama lima tahun ke depan.
Pilpres 2024 memberi gambaran yang cukup jelas tentang perubahan ini. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan jumlah pemilih mencapai sekitar 204 juta orang. Lebih dari separuhnya—sekitar 56%—adalah generasi milenial dan Gen Z (KPU, 2023). Laporan Katadata juga menegaskan bahwa generasi muda kini menjadi pusat gravitasi politik Indonesia (Katadata, 2024). Yang berubah bukan hanya siapa yang memilih, tapi juga bagaimana pilihan itu terbentuk.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, banyak pemilih muda tidak selalu mencari informasi politik secara sengaja. Justru sebaliknya—informasi itu datang sendiri. Muncul di beranda, bercampur dengan hiburan, musik, dan tren yang sedang ramai. Dalam situasi seperti ini, politik tidak lagi sesuatu yang harus dipelajari. Ia lebih sering dialami. Fenomena ini dikenal sebagai incidental exposure—ketika seseorang terpapar informasi politik tanpa sengaja mencarinya (Boulianne, 2020; Fletcher & Nielsen, 2018).
Dari sini, cara kita terlibat dalam politik juga ikut berubah. Tidak selalu lewat diskusi atau debat. Tapi lewat hal-hal yang lebih ringan: membagikan konten, mengikuti tren, memakai simbol, atau sekadar memberi like dan komentar. Politik menyatu dengan cara kita menikmati konten—cepat, santai, dan sering kali tanpa kita sadari. Akibatnya, partisipasi tidak selalu berarti keterlibatan yang dalam. Ia bisa hadir sebagai respons yang cepat dan spontan.
Dari kondisi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perubahan ini datang dari cara kita mengonsumsi informasi, atau justru dibentuk oleh strategi kampanye itu sendiri? Kemungkinan besar, keduanya saling memengaruhi. Cara kita mengakses informasi membuat kampanye berubah. Di sisi lain, kampanye yang semakin emosional dan menarik juga membentuk cara kita memahami politik.
Di sinilah marketing politik menemukan momentumnya. Kampanye tidak lagi hanya bertumpu pada argumen atau program. Ia semakin mengandalkan pengalaman. Konten yang emosional, visual, dan mudah dibagikan jauh lebih cepat menarik perhatian dibanding penjelasan panjang tentang visi atau kebijakan (Klinger & Svensson, 2023). Politik tidak hanya disampaikan, tapi juga dirasakan.
Menariknya, pola ini muncul di banyak kandidat. Simbol yang sederhana, citra personal yang kuat, dan konten yang mudah diikuti menjadi kunci. Ada istilah seperti “slepet” yang cepat menyebar sebagai gaya komunikasi. Ada juga format seperti “Desak Anies” yang membuka ruang interaksi, lalu hidup lagi dalam potongan-potongan konten di media sosial. Batas antara politik dan hiburan pun makin tipis. Kandidat tidak hanya hadir membawa gagasan, tapi juga sebagai figur yang terasa dekat dan menyenangkan.
Dalam lanskap seperti ini, “gemoy” jadi contoh yang menonjol. Ia bukan sekadar istilah spontan, tapi berkembang jadi citra yang konsisten. Penelitian menunjukkan simbol populer di media sosial bisa cepat berubah menjadi strategi komunikasi politik yang efektif (Sumsari et al., 2024). “Gemoy” bekerja dengan cara sederhana. Ia menggeser kesan tegas dan berwibawa—yang sebelumnya melekat—menjadi lebih hangat dan akrab. Kedekatan seperti ini sering lebih mudah diterima daripada argumen yang panjang.
Kalau “gemoy” membentuk citra, maka “Oke Gas” memperluas jangkauannya. Lagu, joget, dan format yang mudah ditiru membuat orang tidak hanya menonton, tapi ikut terlibat—membuat, meniru, dan menyebarkan. Pemilih tidak lagi sekadar audiens. Mereka ikut menjadi bagian dari produksi pesan politik. Studi menunjukkan platform seperti TikTok berperan besar dalam membentuk preferensi politik pemilih muda melalui konten yang partisipatif (Tanuwijaya, 2024). Kampanye pun berubah menjadi pengalaman bersama. Pesan tidak lagi satu arah, tapi berputar lewat partisipasi banyak orang.
Efeknya terlihat, bukan hanya dari cerita, tapi juga dari angka. Exit Poll Litbang Kompas menunjukkan sekitar 65,9% pemilih usia 17–25 tahun memilih pasangan Prabowo–Gibran (Litbang Kompas, 2024). Ini memberi gambaran bahwa pendekatan berbasis emosi dan pengalaman punya daya tarik kuat di kalangan pemilih muda.
Kedekatan emosional ini bukan kebetulan. Dalam arus informasi yang cepat, emosi sering jadi jalan pintas dalam mengambil keputusan. Apa yang terasa akrab dan menyenangkan lebih mudah dipercaya, bahkan ketika informasi yang lebih mendalam tidak sepenuhnya diakses. Dari pengalaman yang singkat, terbentuk pilihan yang nyata.
Di sinilah persoalannya. Keterlibatan yang tinggi saat kampanye tidak selalu berlanjut setelah pemilu. Banyak partisipasi berhenti di ruang yang ekspresif—membuat konten, mengikuti tren, atau menyebarkan simbol. Namun, tidak semua itu berlanjut menjadi keterlibatan yang lebih dalam terhadap kebijakan.
Fenomena ini tidak harus langsung dianggap sebagai kemunduran demokrasi. Lebih tepat dilihat sebagai perubahan. Politik memang jadi lebih dekat dan inklusif. Tapi cara kita terlibat ikut bergeser—dari pertimbangan yang mendalam ke respons yang cepat.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian publik menjadi sangat berharga. Dan kebijakan berisiko mengikuti apa yang populer, bukan selalu apa yang paling dibutuhkan (Moffitt, 2020). Politik hadir sebagai sesuatu yang mudah dinikmati. Tapi di saat yang sama, ada risiko: partisipasi terasa ramai di permukaan, namun belum tentu dalam keterlibatannya.
Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Pendekatan yang ringan justru membuka jalan bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan politik. Mereka yang sebelumnya jauh, kini mulai ikut terlibat—meski dengan cara yang berbeda. Masalahnya bukan pada trennya. Masalah muncul ketika pengalaman yang cepat dan emosional itu menjadi satu-satunya cara kita memahami politik.
Dalam konteks ini, besarnya jumlah pemilih muda menjadi sangat penting. Ketika lebih dari separuh pemilih berasal dari generasi milenial dan Gen Z, arah demokrasi ke depan sangat bergantung pada bagaimana mereka memaknai keterlibatan politik. Di saat yang sama, marketing politik terus bekerja. Pesan dikemas agar mudah menarik perhatian, menyentuh emosi, dan mengikuti logika algoritma. Akibatnya, apa yang terasa dekat dan menyenangkan sering kali lebih menonjol dibanding apa yang sebenarnya penting.
Karena itu, tantangannya bukan menolak cara baru berpolitik di ruang digital. Justru sebaliknya—bagaimana memperluas ruang keterlibatan itu. Bukan hanya ruang yang viral, tetapi juga ruang untuk refleksi, kritik, dan pengawasan. Sebab politik tidak berhenti di layar. Dan tidak selesai di bilik suara. Pemilu hanyalah pintu awal. Dari situlah arah kebijakan ditentukan, sekaligus diawasi.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang dipilih. Tetapi juga oleh sejauh mana kita ikut mengawal setelahnya. Tanpa itu, politik mudah berubah menjadi sekadar tren di media sosial—dan kita perlahan hanya menjadi target pasar.
Daftar Pustaka
Biodata Penulis
Ahmad Yuzki Arifian Nawafi’ adalah dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Politik di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dengan minat kajian pada media digital dan perilaku pemilih muda
Menulis dan mengajak yang lain untuk menulis adalah cara kami untuk terus belajar. Ada sedikit harapan barangkali apa yang kami sajikan dalam media ini juga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun.
Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...
Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...
Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...
Mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) mungkin terbersit bayangan yang cukup rumit, melelahkan, mahal, ...
Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam yang dianugerahi kekayaan melimpah oleh Allah SWT merupakan kisah i...
Indonesia selalu haus akan arah. Bukan sekadar kemenangan instan. Bukan sekadar trofi yang datang da...

Belum ada komentar.