AveSticker

TENTANG KHIDR (‘Alaika as-salam, yaa Nabi)

Jan 25 202671 Dilihat

Sosok Khidr dalam sejarah spiritualitas Islam memang sangat unik. Kisah-kisah mengenainya termaktub dalam kitab-kitab yang mengajarkan aspek spiritual yang tidak formal dalam Islam. Yang paling populer kisah tentang Khidr adalah pembelajaran yang dilakukannya kepada Musa (‘alaihim as-salam).

Konon, suatu ketika Musa (‘alaihi as-salam) bermunajat kepada Allah. Dia merasa ‘sendirian’ sebagai makhluk cerdas. (Karena alasan ini, banyak orang yang menganggapnya ‘sombong’ kala itu). Dia ingin dipertemukan dengan manusia lain yang bisa mengimbanginya berdialog dan berdiskusi tentang kekuasaan Allah. Lantas Allah mengutus Musa untuk mencari seseorang yang dapat ditemuinya di dekat laut (Laut Merah). Kepadanya, Musa harus menimba ilmu. Dengan patuh, Musa pun melakukan perjalanan.

Maka, bertemulah Musa dengan Khidr. Musa kemudian meminta berguru kepada Khidr, sebagaimana perintah yang datang kepadanya. Tapi, Khidr menolak. Khidr menganggap Musa tidak cocok berguru kepadanya. Musa memaksa, sehingga akhirnya Khidr menerima permintaan Musa dengan satu syarat: Musa tidak boleh protes terhadap apapun yang akan dia jumpai bersama Khidr. Sebuah syarat yang lantas diterima Musa.

Maka, dimulailah perjalanan legendaris Musa dan Khidr.

Suatu ketika, mereka sampai di sebuah pelabuhan dan perkampungan nelayan. Tak disangka oleh Musa, Khidr melubangi perahu-perahu nelayan di pantai itu. Musa sesungguhnya keberatan dengan tindakan Khidr tersebut. Tapi, karena dia ingat janjinya untuk tidak protes, dia diam.

Di tempat berikutnya, perjalanan mereka sampai di sebuah rumah roboh. Melihat rumah itu, Khidr mengajak Musa memperbaiki rumah tersebut. Ini pekerjaan yang sia-sia, demikian pikir Musa. Tapi, karena dia ingat janjinya, dia diam saja dan membantu Khidr memperbaiki rumah roboh tersebut.

Di perjalanan selanjutnya, mereka menemui seorang anak kecil yang belum baligh. Sekonyong-konyong, tanpa bisa Musa mencegahnya, Khidr membunuh sang anak. Wah ini sudah keterlaluan, pikir Musa. Maka proteslah Musa kepada Khidr.

“Wahai seseorang yang aku disuruh Allah mengikutimu, engkau sudah keterlaluan benar. Sebelum-sebelumnya, ketika engkau melubangi perahu dan memperbaiki rumah reyot, aku masih bisa bersabar untuk tidak protes. Tapi, sekarang kau bunuh anak ini. Aku tidak terima…”, ujar Musa geram.

Apa respon Khidr?

“Wahai nabi dari kalangan Bani Israil, bukankah sudah kukatakan padamu bahwa engkau tidak akan kuat untuk mengikutiku? Terbukti, bukan? Sekarang, semuanya selesai. Kita berpisah sekarang. Tapi, hendak kujelaskan apa-apa yang telah kulakukan bersamamu.”

“Kenapa kulubangi perahu-perahu bagus di pantai kemarin lusa? Di negara ini, baru saja berkuasa seorang raja yang sangat aniaya. Dia akan merampas segala harta benda rakyatnya yang dia ingini. Aku merusak perahu-perahu nelayan agar perahu-perahu mereka tidak diambil oleh sang raja. Sebab, jika perahu mereka diambil raja, lantas dengan apa mereka mencari makan? Dan sang raja pasti tidak akan berminat untuk mengambil perahu-perahu yang telah rusak tadi, yang kalaupun sudah diperbaiki, menjadi tidak bagus lagi.”

“Kedua, kau bertanya tentang alasan memperbaiki rumah yang sudah reyot. Sesungguhnya rumah tersebut milik seorang anak yatim piatu yang miskin yang saleh, yang tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah tersebut. Makanya, rumah tersebut dibiarkannya saja. Kedua orang tuanya meninggal sebelum sempat mengatakan padanya bahwa ada harta warisan yang dipendam di bawah rumah itu. Setelah rumah tersebut kita perbaiki, dia akan tinggali rumahnya tersebut dan akan menemukan harta benda warisan orang tuanya.”

“Sedangkan si anak yang baru saja kubunuh adalah seorang anak dari kedua orang tua yang sangat saleh. Tapi, ketika besar nanti, si anak ini akan memalingkan kesalehan kedua orang tuanya. Maka, dia sebaiknya mati sebelum menjadi besar agar kesalehan orang tuanya tidak terusik. Si anak pun mati dalam keadaan belum memiliki dosa.”

Tentu saja, Musa pun terdiam di hadapan ‘operator lapangan’ Allah ini. Musa memang dikenal dengan kecerdasan rasionalitasnya (sebagaimana orang-orang Bani Israil seperti yang diceritakan dalam Qur’an). Tapi, di hadapan ilmu Khidr, dia merasa tidak tahu apa-apa. Dia seketika merasa bahwa rasionalitasnya tidak bisa dipakai untuk dapat mengukur secara mutlak kehendak dan kekuasaan Allah.

Saya tidak tahu jelas, apakah Musa kemudian bisa menguasai ilmu sebagaimana yang dikuasai oleh Khidr. Tapi, setidaknya, Musa akhirnya tahu bahwa memahami dan menjalani peran kenabiannya (dan sebagai kholifah Allah) tidak cukup hanya dengan kecerdasan pikirannya. Buktinya, ketika dihadapkan pada aspek-aspek yang tidak rasional baginya, dia tertunduk.

Itu pertama tentang Khidr. ‘Alaika as-salam, yaa Nabi.

Kedua, di kalangan pengamal tasawuf, Khidr dikenal sebagai penyampai/pengajar ilmu hikmah. Itu tugas kenabian yang diembannya. Dalam menjalankan tugasnya, dia pun dipercaya memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi apapun yang diingininya agar dapat menyampaikan hikmah dan pelajaran spiritual kepada manusia yang disasarnya.

Maka, banyak orang bilang, bersikaplah sopan kepada semua orang, bahkan terhadap pengemis sekalipun. Karena jangan-jangan dia adalah ubahan wujud dari Khidr. (Meski demikian, banyak kalangan dapat segera mengenali sosok Khidr, meski Khidr sedang berada dalam wujud yang paling aneh sekalipun. Tentu saja, karena ‘frekuensi’ mereka sedikit banyak sudah nyambung dengan frekuensi Khidr). Sebab, mendapatkan doa dari Khidr, adalah lebih utama dari segunung harta karun. Demikian juga sebaliknya, mendapatkan marah dan doa azab dari Khidr, bakal sengsara setengah mati.

Entah percaya entah tidak terhadap keyakinan di kalangan tasawuf ini, hikmahnya tentu segera bisa kita ambil. Bahwa siapapun makhluk, tidak peduli mereka adalah sebutir debu sekalipun, atau bahkan secuil bisikan lemah dari hati, harus dihargai. Karena menghargai makhluk, dapat diteruskan menjadi penghargaan terhadap pembuatnya (Sang Khalik).  Bahwa menganiaya makhluk, adalah sama dengan (minimal bisa jadi berarti) melecehkan yang telah membuatnya.

Maka, bisa belajar melalui Khidr adalah sebuah karunia besar. Sehingga, di kalangan pengamal tasawuf, diajarkan untuk mengirimkan Al-Fatihah kepada Khidr jika merasa telah mendapatkan hikmah tertentu. Karena, hadiah dan ucapan terima kasih paling indah adalah Al-Fatihah. Jika kita sering, bahkan selalu, mengirim hadiah dan ucapan terima kasih berupa Al-Fatihah kepada Khidr, apakah Sang Nabi akan berdiam dan tidak meresponnya? Saya yakin tidak. Doa dan fungsinya, saya yakin akan diberikannya kepada kita sebagai balasan.

Dan jika kita sering, bahkan selalu, mengirim hadiah berupa Al-Fatihah kepada seluruh makhluk, apakah mereka semuanya akan berdiam diri ketika kita memiliki hajat tertentu, atau didera kesulitan hidup? Saya yakin tidak akan demikian. Mereka semuanya, yang menerima kiriman hadiah Al-Fatihah, akan berupaya dan bergotong royong untuk membantu kita. Saya yakin, mereka akan melobi Sang Khalik, dalam kapasitas masing-masing, agar kita senantiasa mendapatkan pertolongan, petunjuk, terkabukan hajat dan memperoleh jalan keluar atas semua kesulitan yang sedang dialami.

Bi ridhoillah wa bi syafa’ati Rasulullah, likulli makhluqotillah…lahum al-fatihah….

hesty
Batu, 14 Maret 2010

Share to

Menanam, merawat, menuai

Topik Terkait

Miliaran Cuan dari Dracin

by Jan 29 2026

Drama China banyak mendapatkan banyak penonton di Indonesia, fenomena ini berangkat dari kemudahan a...

AIRA, Nama Anakku

by Jan 26 2026

Pagi itu, Rabu 30 Juni 2010, jam digital di atas jarum speedometer Fitri menunjukkan angka 03:15. Me...

Komika dan Cara Baru Bercerita

by Jan 24 2026

Ada masa ketika tawa diproduksi oleh sistem. Lampu studio menyala, kamera mengarah ke panggung, dan ...

Ramadhan yang kukenal: Belajar Bersama ...

by Jan 23 2026

Sekian puluh tahun silam, di Bulan Ramadhan, kuingat Bapak mengajariku bermain catur untuk pertama k...

LEPI SI LAPTOP BARU RIAN

by Jan 23 2026

Aku ingat, beberapa saat setelah memiliki laptop seken baru, Rian kutanya, “Di mana kau simpan...

CARA MEMANEN BUAH MANGGA

by Jan 23 2026

Menurut beberapa teman, instingku hebat. Alasan mereka, karena aku bisa tahu buah mangga di depan Av...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top