Heri Setiyono • Jan 23 2026 • 164 Dilihat

Aku ingat, beberapa saat setelah memiliki laptop seken baru, Rian kutanya, “Di mana kau simpan file-file ubluk?” Entah karena tidak mau ngaku atau karena euforia punya laptop, jawabannya saat itu di luar dugaan. “Laptop ini tidak untuk nyimpan file ubluk”, kata dia. Terdengar seperti nadzar, yang juga merupakan sebuah jawaban lain dari: ‘File ubluk kusimpan di HP saja’. Entah benar entah tidak.
Tapi pada kurun waktu itu, Rian memang mengaku sedang bad mood dengan Miyabi. Mengapa demikian? Tak lain karena ia juga termakan isu bahwa Miyabi sudah mati karena AIDS. Mungkin dia serasa melihat hantu pocong tatkala melihat Miyabi berlaga. Atau mungkin dia takut tertular AIDS sebab dia tidak tahu bahwa virus HIV/AIDS tidak bisa menular melalui media player dalam laptop.
Dan, titik balik kehidupan laptop Rian, berawal dari santernya kabar mengenai rencana pembuatan film ‘Penculikan Miyabi’. Rian, mengaku gembira mendengar kabar itu. Kegembiraan tulus dari seorang pecinta terhadap sang pujaan syahwatnya. Yang demi menikmati aksi sang diva, Rian rela membujang bertahun-tahun lamanya. (Karena ia berjanji untuk tidak melihat film bokep lagi setelah menikah. Mungkin, setelah menikah, ia berencana menjadi produser sekaligus aktor bokep, kali ya?)
Maka Rian pun mendefinisikan sendiri makna bersyukur terhadap masih hidupnya Miyabi. Yakni, dengan kembali mendownload film-film aksi Miyabi. Tetapi, mungkin saking gembiranya, ia lupa dengan nadzarnya untuk tidak menyimpan file-file itu di hard disk laptop. Mungkin juga, karena memori HP-nya sudah penuh dengan foto-foto Sang Pesona Jingga ketika mereka berdua bertamasya di Taman Ria Kenjeran.
Dan riwayat download di laptop Rian penuh dengan film Miyabi. Sebuah ekspresi syukur yang kemudian ditiru oleh Karebet, Najib dan juga Samsud. Hanya saja, level ilmu hakikat mereka bertiga memang masih jauh di bawah Rian. Sehingga, jika Rian mampu mendownload ratusan hingga ribuan megabytes dengan diam-diam menghanyutkan, Karebet, Samsud dan Najib justru saling mengabarkan dan menjelek-jelekkan. Walhasil, jika digabung pun, hasil pengumpulan mereka bertiga pun masih kalah jauh dengan pencapaian Rian. Sekali lagi, nyata bahwa ilmu dan pengalaman memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan besaran kuantitas.
Tapi, agaknya Rian lupa bahwa laptop juga punya perasaan. Mungkin karena gak kuat ngempet rasa sambat, sang laptop pun jatuh sakit. Kalau dulu, sakitnya sang laptop hanya sesekali, sejak Rian rajin download Miyabi, sang laptop hanya sakit sekali tapi langsung sangat parah. Padahal, sang majikan, sedang banyak kerjaan. ‘Rian sedang jadi PIMPRO’, demikian ledek Kang Fadil.
Jadilah, Rian harus merenungi laptopnya yang sedang opname sekarang. Memang, semoga saja, si laptop cepat baikan. Tapi, untuk itu, kayaknya Rian tidak perlu bikin nadzar-nadzar lagi. Mungkin sekedar tumpengan, mudah-mudahan saja, bisa membuat sang laptop cepat sembuh dan tidak sakit-sakitan lagi seterusnya.
Cepet sembuh Lepi (mungkin nama itu pantas buat laptopnya Rian)! Aku ingin dengar koplo-koplo darimu lagi…
Mojolangu
Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...
Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...
Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Belum ada komentar.