AveSticker

Kemana Kita Mengubur Barang Bekas?

Mar 06 2012459 Dilihat

HARI masih terlalu pagi untuk beraktivitas di kampus. Hanya ada tukang sapu halaman yang sibuk dengan pekerjaannya. Sang dosen yang menjadwal mengajar pada jam pertama di pagi hari juga belum hadir. Beberapa saat lamanya menunggu, dia datang dengan wacana baru dengan tema desain infrastruktur.

Dalam diskusi pagi itu, dia menekakan bahwa infrastruktur didesain dengan tiga pendekatan: sistem keteknikan, siklus hidup dan sistem secara keseluruhan. Itu sebabnya desain tersebut harus disusun secara terpadu dan komprehensif.

Secara khusus, diskusi yang berjalan selama lima jam dengan sekali istirahat itu membahas tentang siklus hidup infrastruktur. Hal itu penting karena semua hal di dunia punya daur hidup, termasuk barang kreasi manusia. Siklus hidup infrastruktur tersebut secara berurutan diawali oleh konsep gagasan, desain, operasional dan pemeliharaan hingga mati.

Siklus itu secara reflektif juga menggambarkan daur hidup manusia. Dalam sebuah majlis pengajian masjid sekian tahun lalu seorang syekh mengutip Al Ghazali bahwa siklus hidup manusia secara sederhana ada tiga: lahir, menderita dan mati. Menderita karena beberapa kebutuhan dan keinginan di dunia tidak sepenuhnya tercapai.

Sang dosen lebih dalam menilai bahwa negara-negara sedang berkembang saat ini selalu terfokus pada konstruksi yang rapuh dan mengabaikan umur pakai infrastruktur. Selalu saja terjadi kebocoran anggaran dalam setiap proyek infrastruktur. Praktik tersebut akan ada selama ada permintaan dan penawaran penyelewengan anggaran.

Negara-negara berkembang belum memikirkan akhir dari hidup sebuah infrastruktur. Kemana kita akan mengubur mobil, komputer/laptop, bangunan, limbah padat, atau alat elektronik canggih yang lain? Bisa jadi, salah satu gambar mobil toilet yang saya dapatkan ketika lewat di depan Candi Prambanan ketika menuju Solo pekan lalu adalah bentuk kebingungan kita. Hendak kemana kita mengubur barang bekas kita? (*)

Share to

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pernah memimpin Newsletter Simpul Demokrasi. Pegiat peternakan di Jawa Timur

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top