AveSticker

Bukan Janji yang Ditunggu untuk Mengatasi Kemacetan Ibu Kota

Sep 29 2010474 Dilihat

Pertumbuhan kendaraan bermotor di Ibu Kota Jakarta 11 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan kurang dari 1 persen per tahun (beritajakarta. com). Dengan jumlah penduduk mencapai 12 juta jiwa, kepadatan Jakarta menuai banyak masalah semisal kemacetan, banjir dll.

Sedangkan tahun ini, pertambahan kendaraan di Jakarta sekitar 1.117 kendaraan per hari, terdiri dari 220 mobil dan 897 sepeda motor. Total kebutuhan perjalanan di Jakarta sebanyak 20,7 juta perjalanan per hari. Kemudian total jumlah kendaraan bermotor yang melintasi jalan di Jakarta sekitar 5,8 juta terdiri dari kendaraan pribadi sebanyak 5,7 juta unit (98,5%) dan angkutan umum 88.477 unit (1,5%) ( beritajakarta. com). Pertumbuhan kendaraan bermotor “dituding” sebagai penyebab kemacetan yang terjadi di Jakarta.

tua dijalan

Menurut Darmaningtyas, pengamat transportasi, pemimpin Jakarta harus berani mengambil resiko untuk mengatasi kemacetan. Jakarta diprediksi tahun 2014 akan lumpuh total. Pembangunan infrastruktur dan kemauan pemimpin untuk melayani masyarakat menjadi prioritas pekerjaan pemerintah. Artinya pemerintah membangun sistem transportasi massa terpadu terlebih dahulu dengan meningkatkan pelayanan prima. Masyarakat akan bergerak dari kendaraan pribadi ke angkutan umum jika pelayanan memadai, menyangkut keamanan, kenyamanan dan ketepatan waktu. Penulis kira meskipun akan menghabiskan dana APBD yang tidak sedikit kalau itu untuk kepentingan masyarakat tidak akan keberatan.

***

Pemerintah Jakarta di era Sutioso atau bang YOS telah membuat blue print pembangunan tranportasi terpadu yakni bus way, mono rel dan water way. Pembangunan tersebut seharusnya dilakukan bersamaan namun karena beberapa hal dan yang realistis ialah bus way, maka didahulukan meskipun menelan anggaran besar. Namun penerusnya kurang tegas, apakah latar belakang mempengaruhi gaya kepemimpinan, penulis juga kurang tahu.

Pembangunan transportasi terpadu untuk merealisasikan kalaupun pemerintah Jakarta “benar-benar” tidak sanggup, meminta bantuan pemerintah pusat yang juga ikut andil membuat kemacetan. Wakil presiden siap membantu dengan membangun mass rapid transit (MRT). Wacana pembatasan kendaraan pribadi sangat kencang untuk mengatasi kemacetan, tidak adil jika penggantinya dengan kriteria yang telah disebutkan. Karena masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi karena nyaman, aman dan cepat. Pemerintah Jakarta dan pemerintah pusat menyediakan infrastruktur dengan pelayanan prima, maka masyarakat akan dengan sendirinya menggunakan transportasi umum. Selain itu juga transportasi terpadu harus menyentuh tetangga Jakarta seperti bogor, banten, Tangerang, Bekasi dll. Hal itu perlu karena kendaraan dari tetangga yang masuk ke Jakarta tidak sedikit.

***

bus raksasa

Pemerintah Indonesia untuk mengatasi kemacetan belajarlah ke China. kemacetan juga menjadi permasalahan disana, namun bedanya dengan kita China mencari pemecahan permasalahan dengan aksi. China akan membuat bus raksasa untuk mengatasi kemacetan dan polusi. Menurut China Hush, Bus canggih ini akan menggunakan energi kombinasi dari listrik dan energi matahari. Bus yang mirip terowongan ini bisa berjalan dengan kecepatan sampai 60 kilometer per jam dan mengangkut 1.200 hingga 1.400 penumpang  (ruangberita.com).

Perbandingan bus way yang bisa menampung 210.000 penumpang per hari. Bus raksasa dengan daya tampung lebih dari 1.000 orang sekali jalan, jika jam operasinya sama dengan bus way maka bisa mengangkut lebih dari 2 juta orang per hari. Sedangkan orang yang membutuhkan transportasi mencapai 6 sampai 7 juta. Dalam pengoperasiannya jalur bus way memakan jalur yang ada atau butuh melakukan pelebaran jalur, sedangkan bus raksasa tidak perlu karena bus ini akan mengangkangi kendaraan yang ada di jalan raya. Namun dibutuhkan juga angkutan pengumpan, karena tidak semua wilayah terjangkau oleh bus way atau bus raksasa nantinya. Namun tidak cukup berhenti sampai disitu, kerjasama para stakeholder untuk mewujudkan kebijakan yang telah disusun bersama.

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang, tinggal di Jakarta

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top