AveSticker

Sound Horeg “Medan Tempur Kelas Sosial dan Ekspresi Identitas”

Jan 15 2026204 Dilihat

Lebih dari Sekadar Getaran

Fenomena Sound Horeg sangat identik bahkan seolah sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Jawa Timur, Khususnya wilayah Malang Selatan. Menurut Kamus Bahasa Jawa-Indonesia, Horeg sendiri berarti “Bergetar” atau “berguncang”. Makna ini mengacu pada efek dentuman bass yang sangat kuat sampai mampu menggetarkan kaca rumah bahkan dada pendengarnya. Sound Horeg sendiri mencakup rangkaian sound system dalam skala besar. Selain diletakkan di samping panggung, Sound Horeg lebih banyak di tempatkan di atas kendaraan terbuka hingga bisa dipakai keliling karnaval.

Jauh sebelum ramai diperbincangkan, penggunaan sound system dalam skala besar biasa digunakan masyarakat di desa-desa saat mereka menggelar hajatan, seperti nikahan atau sunatan. Bagi penyelenggara hajatan, ada kebanggaan tersendiri jika suara music dari hajatannya dapat terdengar hingga ke desa tetangga sebagai simbol status sosial. Dari kelas hajatan, perjalanan Sound Horeg kemudian (diperkiraan mulai tahun 2014an) mulai naik ke atas truk dan berkeliling untuk meramaikan event-event tingkat desa, seperti karnaval agustusan sampai karnaval suroan.

Dari Suara Keras ke Tontonan Spektakuler

Seiring waktu dan ledakan media sosial, Sound Horeg yang awalnya hanya dikenal oleh mereka yang hidup di desa kini juga semakin dikenal oleh publik luas (nasional). Selain semakin dikenal luas publik, Sound Horeg sendiri terus berkembang dan bertransformasi menjadi hiburan/tontonan yang selalu dinanti oleh masyarakat. Jika awalnya, Sound Horeg hanya mengandalkan suara musik keras dengan mengandalkan jumlah subwoofer (bisa mencapai puluhan speaker dalam satu truk) dan inovasi audio melalui modifikasi frekuensi bass agar menghasilkan getaran “horeg” yang khas.

Kini, Sound Horeg identik dengan lampu strobe, LED strip, lighting panggung otomatis. Bahkan pada beberapa kasus, pertunjukan Sound Horeg menghadirkan music Disc Jockey (DJ) lengkap dengan penarinya yang tampil di atas truk yang disulap menjadi panggung. Getaran bass berpadu dengan cahaya dan koreografi, menciptakan pengalaman hiburan yang total dan imersif.

Namun, popularitas ini juga membawa konsekuensi. Sound Horeg menuai pro dan kontra. Ada yang menikmati sebagai hiburan rakyat yang murah dan meriah, tapi ada pula yang merasa terganggu oleh kebisingan, isu moral, hingga kemacetan. Polemik ini memuncak ketika MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram terhadap Sound Horeg.

Benturan Estetika: Kelas Dominan Vs Kelas Bawah

Jika ditarik lebih dalam, Sound Horeg sebenarnya adalah produk budaya kelas bawah. Ia lahir dari kelompok masyarakat yang tak punya akses ke hiburan eksklusif seperti klub malam atau festival besar di kota. Maka jalan raya, lapangan desa, dan alun-alun pun “diklaim” sebagai ruang hiburan bersama.

Lewat Sound Horeg, jalan raya, lapangan desa, dan bahkan alun-alun disulap menjadi “lantai dansa massal” dan truk berisikan sound system besar menjadi simbol “hiburan eksklusif berjalan” yang bisa diakses siapa saja tanpa tiket yang mahal. Dari realitas ini, kita menjadi tahu siapa yang “terganggu”. Umumnya mereka yang terganggu adalah warga kelas menengah yang tinggal atau melewati lokasi festival, bisa pula aparat negara yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban, atau bahkan elit moral yang menganggap Sound Horeg sebagai produk maksiat.

Pro-Kontra Sound Horeg sejatinya adalah perwujudan dari benturan praktik budaya. Yakni, antara budaya populer yang dimiliki kelas bawah dengan standar “ketertiban” yang dimiliki kelas elit. Ketegangan antara standar ketertiban formal (versi negara/elit) dengan praktik budaya populer (versi rakyat) terjadi karena standar nilai yang berbeda.

Bagi sebagian kelas dominan (menengah-atas dan intelektual), Sound Horeg dianggap pemborosan dan gangguan ketertiban. Namun bagi warga akar rumput, ia adalah sumber kegembiraan dan penguat solidaritas sosial.Hal yang sama berlaku soal penggunaan ruang publik. Bagi kelas dominan, jalan harus tertib dan fungsional. Tapi bagi kelas bawah, jalan dan lapangan adalah ruang milik bersama, tempat mereka mengekspresikan kebahagiaan karena tak punya akses ke ruang hiburan privat dan mewah.

Sound Horeg dan Perlawanan Simbolik

Dalam pandangan, fenomenda Sound Horeg membuktikan bahwa selera (taste) bukanlah sesuatu yang netral, melainkan senjata sosiologis untuk membedakan “siapa yang beradab” dan “siapa yang tidak”. Selain itu, pergunjingan yang terjadi hanyalah cara kelompok dominan melakukan “penertiban” terhadap ekspresi kelas bawah yang dianggap menyimpang. Padahal, bagi kelas bawah Sound Horeg adalah upaya mereka untuk “didengarkan” di tengah narasi pembangunan yang seringkali meminggirkan mereka.

Selanjutnya, Sound Horeg dapat pula dilihat sebagai perlawanan simbolik atau cara hadir secara fisik kelas bawah. Di tengah maraknya pembangunan properti mewah atau kafe-kafe estetik yang eksklusif, Sound Horeg menembus batas-batas tembok tersebut. Suara yang menggetarkan kaca rumah orang kaya maupun orang miskin tanpa pandang bulu dianggap sebagai bentuk “demokratisasi ruang” secara paksa. Getarannya adalah pesan: “Kami ada, dan kami punya kekuatan.”

Representasi Identitas dan Solidaritas

Bagi kelas bawah, pertunjukan Sound Horeg tidak hanya soal pamer alat, melainkan simbol identitas komunal dan simbol modernitas. Sound Horeg bagi kalangan muda desa adalah cara mereka menunjukan eksistensi dan kebanggaan atas “kemampuan” mereka. Penggunaan audio-visual yang komplek dianggap sebagai bentuk kemajuan teknologi di tingkat akar rumput, sebuah simbol modernitas. Dimana “modifikasi budaya” dilakukan melalui transformasi alat musik tradisional (gamelan) menjadi audio digital.

Melalui pertunjukan tersebut, kita bisa melihat berbagai dimensi identitas yang termanifestasi dalam budaya Sound Horeg, diantaranya.

Maskulinitas, penggunaan sound system besar, mesin diesel (genset), ornament visual dan truk yang besar adalah simbol dari keperkasaan.

Teknologi, adalah cara kelas bawah menunjukkan bahwa mereka mampu menguasai teknik audio dan visual yang rumit dan kompleks.

Kelas Sosial. Pertunjukan Sound Horeg umumnya akan menampilkan atau menggunakan music DJ/Remix, ini adalah antitesis dari musik “elegant” kelompok atas.

Ekonomi. Pertunjukan Sound Horeg adalah simbol keberhasilan ekonomi desa melalui investasi alat senilai ratusan bahkan milyaran rupiah dan kemampuan menyelenggarakan kegiatan massal yang tidak sedikit modalnya.

Selain identitas komunal dan simbol modernitas, pertunjukkan Sound Horeg juga menjadi simbol solidaritas kelas bawah. Melalui pertunjukan Sound Horeg, solidaritas kolektif hadir mewarnai setiap tahapannya. Seperti, latihan menari hingga berminggu-minggu, memindahkan genset raksasa, menata puluhan speaker box dalam truk, menata koreografi, hingga mengawal truk di jalan dilakukan secara sukarela oleh para pemuda desa. Ini adalah bentuk baru dari gotong royong tradisional yang bertransformasi ke dalam budaya populer.

Fakta bahwa Sound Horeg sering kali lahir dari sistem iuran warga (swadaya). Dalam banyak acara karnaval atau hajatan desa, dana untuk menyewa Sound Horeg seringkali berasal dari swadaya masyarakat. Hal ini menunjukkan adanya kesepakatan kolektif bahwa hiburan ini adalah milik bersama. Bahkan dalam beberapa kasus, pertunjukan sound horeg dilakukan kelas bawah untuk menggalang dana guna mempercepat pembangunan sarana umum (masjid).

“Gotong Royong dalam format baru” Mungkin itulah ungkapan yang dapat penulis sampaikan untuk menggambarkan solidaritas tersebut.

Sisi lain yang muncul dari pertunjukan Sound Horeg adalah terciptanya ruang pertemuan lintas generasi di mana sekat-sekat sosial melebur. Selain pertunjukan Sound Horeg, ajang seperti “Cek Sound” menjadi ruang pertemuan sosial di mana pengetahuan teknis (merakit box, mengatur crossover) dibagikan secara terbuka. Melalui ajang ini pula, terjadi interaksi sosial secara bersamaan antara pedagang kaki lima, pemuda desa, hingga orang tua berkumpul di satu titik. Suara bass yang menggetarkan dada menciptakan sensasi fisik yang dirasakan bersama, menciptakan perasaan “senasib sepenanggungan” dalam keriuhan.

Bagi penggemar, fenomena ini melahirkan komunitas “pecinta horeg” (biasanya disebut Horegers atau Sound Mania). Mereka rela melakukan perjalanan antara daerah demi melihat performa perangkat idola mereka. Serta, memunculkan solidaritas digital. Penggemar Sound Horeg akan melakukan pembelaan satu sama lainnya di media sosial ketika ada kritik dari “orang kota” atau pihak otoritas. Serangan terhadap satu unit sound sering kali dianggap sebagai serangan terhadap seluruh komunitas pecinta sound.

Pada akhirnya, Sound Horeg adalah cara masyarakat kelas bawah menunjukan dan merayakan “keberadaan” mereka. Sound Horeg adalah perpaduan antara teknologi, seni instalasi, dan kekuatan komunal yang memberikan pesan kebersamaan, kebanggaan daerah, desa tidak lagi tertinggal, serta upaya mempertahankan kedaulatan budaya di ruang publik.

Share to

Anak Adam yang Tidak Perfeksionis, Hanya Alergi pada Ketidakseriusan

Topik Terkait

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Makan Bergizi Gratis dan Logika Kebijaka...

by Feb 11 2026

Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Muraqabah di Era Digital: Esensi Pengawa...

by Feb 10 2026

Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top