AveSticker

Sengkolo: Petaka Satu Suro, Antara Tumbal, Teror, dan Pengorbanan Seorang Ibu

Feb 03 202618 Dilihat

https://www.mvpworld.com/mvp-press-releases-id/gala-premiere-film-sengkolo-petaka-satu-suro-angkat-kisah-teror-dan-pengorbanan

Produksi: MVP Pictures
Pemain: Aulia Sarah, Agla Artalidia, Dimas Aditya, Cindy Nirmala, Ence Bagus, Burhan, Annisa Hertami, Miqdad Addausy, Sharon Jovian, Diaz Ardiawan, Aurora Gendhis, Isma Imung, Manasye Kritisuryatmojo, Lisa Raminten, Febry Rency Setiawan
Sutradara: Deni Saputra
Tahun: 2026

Film Sengkolo: Petaka Satu Suro merupakan sekuel dari film horor Sengkolo: Malam Satu Suro yang dirilis pada tahun 2024. Deni Saputra sebagai sang sutradara mampu menyajikan film horror yang menyita perhatian, jumpscare, nuansa horror yang terus menerus. Film ini terinsiprasi dari pengalaman pribadi Rebecca M. Bath, yang mengaku kerap mengalami gangguan mistis saat hamil.

Kisah dimulai di Desa Sukowati terletak pada pesisir pantai Pulau Jawa. Aulia Sarah memerankan Rahayu seorang ibu dan bidan terkenal di desa yang juga sangat mencintai suami dan anaknya. Dimas Aditya sebagai Cipto seorang bapak yang bekerja nelayan pekerja keras dan impian menjadi keluarga yang awet sampai maut memisahkan. Mereka tinggal pada sebuah rumah kecil sederhana bersama adik kandungnya Rahayu yakni Ratih yang diperankan oleh Cindy Nirmala. Rahayu, bekerja pada sebuah cafe remang-remang, namun tidak jujur dan bilang bekerja di tempat salon.

Cekcok dalam rumah sering terjadi, antara Rahayu dan Ratih. Sang kakak menginginkan yang terbaik bagi sang adik, namun Ratih tidak pernah mendengarkan. Termasuk ketika Ratih dekat dengan seorang pria bernama Jaka, hingga akhirnya Ratih memilih pergi dari rumah dan mengikuti Jaka ke kota untuk bekerja.

Sebagai seorang bidan, Rahayu dmemiliki sahabat bernama Marni. Mereka bekerja dengan kompak dan memberikan pelayanan terbaik pada setiap warga. Mereka telah membantu banyak warga desa dalam proses melahirkan.

Berbeda dengan Rahayu, Marni mempunyai seorang suami bernama Yudi yang sering melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun hal itu tidak membuat Marni berkurang rasa cintanya. Faktanya, Marni belum bisa memberikan keturunan. Hal tersebut yang membuat sang suami tidak betah dirumah dan memilih keluar untuk pesta dan foya foya bersama teman-temannya.

Suatu pagi, setelah sarapan pagi Cipto berpamitan seperti biasa kepada istri akan melaut dan mengajak anaknya. Sebagai seorang istri, Rahayu mengantarkan sampai pada bibir pantai tempat berlabuhnya perahu. Tidak ada keanehan dalam diri Rahayu ketika sang suami dan anak berpamitan.

Seminggu kemudian, Rahayu mendapat kabar dari warga bahwa terjadi gelombang laut sehingga terjadi kecelakan menimpa perahu para nelayan, Nahas, sang suami dan anak meninggal. Sontak Rahayu bergegas menuju pantai untuk melihat kebenaran berita tersebut. Melihat jasad suami dan anaknya sudah bernyawa lagi Rahayu pun menangis sejadi-jadinya. Rahayu merasakan kepedihan mendalam setelah kehilangan keluarga, suami dan anak, juga adiknya yang telah pergi dari rumah.

Suatu malam ketika Rahayu dan Marni akan menolong warga yang melahirkan dalam kondisi hujan deras, mereka terpeleset dan jatuh. Kecelakaan tersebut mengakibatkan ketuban rahayu pecah dan terpaksa melahirkan di tempat dengan dibantu Marni. Sayangnya, anak yang baru lahir ternyata meninggal. Setelahnya, Rahayu menuju ke rumah Nyai Badriyah-seorang dukun terkenal di desa. Ia menyampaikan agar anaknya bisa hidup kembali, apapun caranya.

Nyai Badriyah menyarankan untuk melakukan ritual Lindu Jiwo tentang pertukaran jiwa antara yang hidup dan yang mati. Rahayu mengiyakan, namun ada syarat yang harus dilakukan mengganti dengan tumbal janin bayi. Sesajen setiap malam jumat harus dilakukan oleh Rahayu hingga malam satu suro. Dan akhirnya ritual pun dilakukan hingga anaknya bisa hidup kembali yang kemudian diberi nama Utari.

Kebahagian diselimuti kekhawatiran hinggap dalam diri Rahayu. Setiap malam jumat ia kerasukan sosok yang menuntut untuk mencari tumbal janin-yang artinya Rahayu harus membunuh orang. Sampai pada malam jumat kelima, yakni pada satu suro. Rahayu yang sudah tidak kuat lantaran dihantui rasa bersalah karena membunuh banyak orang meminta tolong kepada seorang ustadz di desa untuk dirukyah. Rukyah tersebut berhasil, namun Rahayu dan Utari akhirnya meninggal.

Film ini memberikan pesan bahwa setiap kejadian yang ada meskipun itu pahit harus tetap berusaha mengikhlaskan. Jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama, seperti ritual tumbal dan sejenisnya. Masih ada Tuhan sebagai tempat untuk mengadu dan memanjatkan doa. Larangan agar tidak bertindak salah dalam mengambil sebuah tindakan perlu terus dilakukan. Tidak ada kata terlambat, Tuhan Maha Pemaaf bagi hamba yang ingin bertaubat kembali ke jalan yang lurus.

Share to

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Topik Terkait

Resensi Film Esok Tanpa Ibu

by Feb 01 2026

Produksi: BASE Entertainment dan Beacon Film, Pemain: Ringgo Agus Rahman, Dian Sastro Wardoyo, Ali F...

Pemberontakan Pangeran Magora (Angling D...

by Jan 30 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Gugurnya Patih Kalamurka (Angling Dharma...

by Jan 28 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Alas Roban: Teror Jalan Pantura dan Peng...

by Jan 27 2026

Produksi: Unlimited Production Pemain: Pemain Utama: Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Taskya Namya, Im...

Penculikan Putra Mahkota (Angling Dharma...

by Jan 26 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

The Manipulated (2025): Ketika Hidup Ora...

by Jan 23 2026

Kalau kamu suka drakor yang gelap, bikin emosi naik turun, dan isinya bukan cinta-cintaan doang, The...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top