Very Yudha • Jan 30 2026 • 8 Dilihat

Produksi: Genta Buana Pitaloka
Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meilia, Jill Carissa, Yuni Sulistyowati, Chairil J.M, Fitria Anwar, Irman F.R Heryana Lilis Sugandha, Anika Hakim, Choky Andriano, Rizal Muhaimin, Lyra Virna
Sutradara: Dasri Yacob
Tahun: 2000
Bagian cerita ini menyoroti dua jalur konflik yang saling berkelindan: kebangkitan kekuatan gelap Syudawirat dan tragedi perebutan kekuasaan di Kadipaten Girisadersya. Keduanya sama-sama menampilkan bagaimana ambisi yang tak terkendali mampu menghancurkan tatanan moral dan kemanusiaan.
Pelarian Syudawirat dan Lokahita membawa mereka ke Padepokan Jagad Saksana. Di tempat ini, Syudawirat menunjukkan wajah aslinya sebagai pewaris ajaran hitam Durgandhini. Guru padepokan, Mpu Krodanala, mengenali asal-usul Syudawirat dan menyadari bahaya yang mengancam. Namun kesadaran itu datang terlambat. Dengan kebiadaban tanpa ampun, Syudawirat membunuh seluruh murid serta sang guru, menandai runtuhnya Padepokan Jagad Saksana. Keesokan harinya, ia menobatkan diri sebagai guru tunggal, menjadikan padepokan tersebut simbol kekuasaan yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan.
Sementara itu, alur cerita beralih ke Malwapati, menghadirkan nuansa yang lebih reflektif. Ratri Pramudita, murid Padepokan Kepinis Putih, menemui Suliwa untuk mengucapkan terima kasih atas jasanya menyadarkan Arum Kemangi. Sebelumnya, Arum dikuasai dendam dan hampir membunuh Batik Madrim akibat kematian ayahnya. Pertemuan ini menegaskan bahwa kebijaksanaan dan welas asih masih menjadi kekuatan penyeimbang di tengah konflik yang meluas.
Ratri kemudian mengajak Suliwa menghadap ke Padepokan Kepinis Putih untuk bertemu Mpu Ayusha dan Mpu Gangsa. Namun ketenangan padepokan terusik oleh kehadiran Pangeran Magora, putra Adipati Guwenda dari Kadipaten Girisadersya. Magora berusaha menghasut murid-murid padepokan agar memberontak kepada sang ayah. Ketika rencananya ditolak, kemarahan Magora kian menjadi, menegaskan wataknya yang ugal-ugalan dan haus kekuasaan.
Tragedi mencapai puncaknya saat Adipati Guwenda mengumumkan bahwa penerus kepemimpinan Kadipaten Girisadersya adalah Pangeran Halemu, adik kandung Magora. Keputusan ini memicu amarah membabi buta. Dalam pertemuan empat mata, Magora menghunus keris dan membunuh ayahnya sendiri. Peristiwa tersebut disaksikan oleh sang permaisuri dan Pangeran Halemu, yang kemudian memilih melarikan diri demi keselamatan.
Setelah kematian sang adipati, Magora dengan cepat menobatkan diri sebagai penguasa baru. Kekuasaan dijalankan secara sewenang-wenang: pejabat lama disingkirkan dan digantikan oleh orang-orang berlatar belakang kriminal. Cerita ini menegaskan pesan moral yang kuat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan kehancuran. Seorang pemimpin sejati seharusnya mengutamakan kesejahteraan rakyat, menahan nafsu pribadi, serta bijak memilih orang-orang yang mengelola roda pemerintahan.
Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...
Produksi: Unlimited Production Pemain: Pemain Utama: Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Taskya Namya, Im...
Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...
Kalau kamu suka drakor yang gelap, bikin emosi naik turun, dan isinya bukan cinta-cintaan doang, The...
Sejak detik pertama, Agak Laen: Menyala Pantiku! mengajak kita masuk ke dunia yang terlihat riang, t...
Di banyak negara, keadilan sering dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari ruang sidang, pasal hukum...

Belum ada komentar.