AveSticker

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

Feb 09 202676 Dilihat

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan

Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (31/12) dipenuhi oleh pijaran kembang api yang silih-berganti menyemarakkan langit, sehingga hampir sebagaian besar warga tidak tidur untuk menyambut pergantian tahun tersebut. Padahal keesokan harinya tepat pada 1 Januari. Mereka masih dihadapkan dengan ritual adat, yang akan berlangsung hingga malam hari.

“Apa bisa esok kegiatan puncak adat berlangsung meriah, dan diikuti oleh semua orang. Semoga saja,” pikir saya sendiri, sembari mencoba memejamkan mata.

Siang itu, ramai kendaraan roda dua dan roda empat memasuki desa Miau Baru dengan arah tujuan menuju lapangan bola di samping lamin adat. Kedatangan warga untuk menyaksikan pawai keliling kampung yang digelar oleh masyarakat adak dayak Kayan.

 

Mereka tidak saja berasal dari desa-desa lain di Kongbeng namun juga dari Muara Wahau, Telen, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Ibukota Provinsi Kaltim yakni Samarinda. Suara tawa hingga tangis anak kecil bersatu padu dengan suara sampek yang menengung nyaring dari TOA alias pengeras suara yang terpasang di tiang-tiang tinggi di tiap RT, yang terus mengumumkan beberapa kegiatan yang dilaksanakan pada puncak acara adat.

Pawai adat atau arak-arakkan sendiri merupakan istilah yang dipergunakan untuk peristiwa kesenian yang bermula pada suatu tempat menuju tempat lain bahkan kembali pada titik semula. Seperti halnya pawai adat yang dilakukan oleh warga dayak kayan, dimana kegiatan ini merupakan konsumsi publik yang melibatkan partisipasi orang banyak baik itu anak kecil hingga orang tua, pria dan wanita dengan berbagai kostum dan cara eksentrik untuk memeriahkan gelaran adat itu sendiri.

Balan Lawai Tetua warga dayak kayan mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak sekedar ramai-ramai atau senang-senang belaka. Karena pawai adat mempunyai makna komplek, yang timbul dari kesadaran ataupun bawah sadar masyarakat adat.

Sehingga simbol-simbol yang dimunculkan beragam, tetapi konsep utamanya jelas tentang perjalanan hidup nenek moyang yang digeneralkan dalam baju adat dayak. Tetapi jelas yang muncul dari beragam perilaku peserta pawai mulai dari sekedar senang-senang, turut bergembira, menunjukkan kemakmuran, perjalanan keluarga atau historis asal-muasal, bahkan sekarang peserta juga memunculkan sindirian kritis pada keadaan sosial.

“Makna sejati dari pawai adat keliling kampung tentu mengisahkan bagaimana saat nenek moyang melakukan perjalanan menuju daerah baru, setelah sebelumnya meninggalkan daerah asal dengan maksud mengubah kehidupan menjadi lebih baik dan sejahtera. Maka keliling kampung tidak sekedar menunjukkan diri pada khalayak ramai, juga merenungi kembali semangat awal dimana kita anak-cucu berpijak sekarang ini,” terang Mantan Kepala Desa Miau Baru ini.

Dalam kesempatan yang ada, para pengunjung selain dapat melihat pawai adat. Juga dapat melihat berbagai kegiatan lainnya yang dilakukan masyarakat setempat. Mulai dari lomba sumpit, menari, lomba perahu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan untuk melihat kegiatan masyarakat adat dari dekat, bisa langsung mendatangi kampung tersebut.

Seperti halnya yang diungkap oleh Muhammad salah-satu pengunjung acara tersebut. Ia merasa amat senang dapat melihat langsung acara yang digelar oleh masyarakat adat dayak Kayan, selain itu banyak informasi yang selama ini baginya tidak terungkap ke publik dapat kemudian diketahuinya secara langsung.

“Kegiatan ini keren sekali, bagaimana tidak! Jika acara yang berlangsung dikemas secara bersamaan dengan liburan natal dan tahun baru. Tidak percuma untuk berkunjung ke lokasi wisata adat di Miau Baru Kongbeng. Banyak informasi baru yang saya dapatkan dibandingkan berbagai kegiatan sejenis di tempat-tempat lain, seperti Loksado Kalimantan Selatan. Tinggal bagaimana pemerintah mengemas konsep pariwisata yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri ini. Untuk penginapan dan transportasi, juga mudah didapatkan di lokasi ini,” jelas Muhammad.

Kaki-kaki manusia mulai bergerak menuju sebuah lapangan voly yang dirubah menjadi arena menyumpit. Waktu seluruh kawasan tersebut dipenuhi manusia, tidak terlihat siapa yang akan menjadi peserta menyumpit. Saat panitia memanggil para nama-nama peserta satu persatu, barulah muncul peserta dengan sumpit andalannya.

Peserta diharuskan membawa enam buah anak sumpit, yang mana dua anak sumpit pertama dipergunakan untuk uji coba. Empat buah sisanya dipergunakan langsung untuk ditembakkan ke sasaran dan mendapatkan poin yang serupa pada ajang memanah.

Pertandingan tidak saja diikuti oleh masyarakat adat dayak Kayan, juga diikuti oleh para penonton yang hadir dari berbagai kecamatan dan daerah di Kaltim. Karena setelah pemilik sumpit melaksanakan kewajibannya sebagai peserta lomba, sumpit dapat dipergunakan oleh pihak lain agar dapat merasakan sensasi ketika mempergunakan sumpit.

“Orang dayak tidak bisa lepas dari mandau dan sumpit, dua alat pertahanan dan juga penyerangan di masa lalu saat masa perburuan masih dilakukan oleh nenek moyang. Hingga sekarang juga masih dipertahankan, tetapi fungsinya tidak sekejam masa lampau yang memang dipergunakan untuk berperang,” ungkap Lehang Kuang, salah seorang peserta.

Mandau sendiri adalah perlambang laki-laki dewasa yang harus bertanggung jawab pada keluarga, sehingga ia dapat mengayomi dan juga melindungi. Sumpit sendiri sebagai perlambang kecerdasan intelegensi, karena tidak semua orang mampu mempergunakannya dengan sempurna.

Ibarat penyerangan secara halus alias sembunyi-sembunyi, anak sumpit yang dilepaskan telah dibaluri racun yang mematikan jika terkena musuh atau hewan buruan pada titik vital tubuh. Namun para wisatawan jangan takut dengan hal tersebut, karena warga adat dayak Kayan sangatlah bersahabat lagi menghormati para tamu undangan yang datang ke desa mereka.

Inilah salah-satu lokasi wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan, tidak perlu jauh ke luar Kaltim jika di pedalaman banyak destinasi luar biasa untuk dikunjungi lagi dinikmati. (SELESAI)

 

 

 

 

Share to

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Topik Terkait

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

by Feb 07 2026

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (1)  

by Feb 05 2026

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Kurusetra Dan Penyaksian Pembalasan

by Feb 03 2026

Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tem...

Dapat Orang Mana?

by Feb 02 2026

“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go ...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (3)

by Jan 30 2026

Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top