AveSticker

Mengapa yang Lemah (Masih) Selalu Kalah?

Oct 07 2010801 Dilihat

Setiap masuk gerbang kampus, selalu tampak pemandangan yang mengharukan. Para gelandangan tua tuna wisma telah bersimpuh di tepi trotoar jalan masuk. Sementara di sekitar mereka, wajah dengan gaya perlente dan elit diperagakan para mahasiswa, bersiap memasuki gedung perkuliahan yang telah “disulap” seperti istana.

Kontradiktif. Katnya kita mengalami percepatan pertumbuhan ekonomi di atas 6%. Tetapi di saat yang sama para pariferal semakin menonjol di tengah gempita pembangunan

Kesenjangan berubah presepsi seolah menjadi pemandangan yang wajar. Kita semua mulai gelap mata karena terlalu sibuk mengejar mimpi-mimpi diri sendiri. Sementara sebagian orang pintar lain menganggap ini sebagai patologi sosial: penyakit masyarakat yang harus dimusnahkan. Pengemis, orang dan anak jalanan, pengamen, dan semua tunawisma yang berkeliaran di jalan harus ditertibkan.

Nenek pencuri dua biji buah Kakao, dipenajara.

Sering kasus yang menimpa para pariferal seperti mereka membuat kita geleng-geleng kepala. Orang tua miskin mencuri tiga biji kakau, diadili dan dipenjara. Dua orang di Kediri mencuri semangka seharga dua puluh ribu dadili dan dihukum. Masih terkait orang miskin, mencuri buah kapuk lalu diadili, dan dipenjara. Di Bojonegoro, pasanagan suami isteri mencuri setandan pisang karena lapar, ditangkap, diadili dan dipenjara. Baru-baru ini, seorang pencuri ketela dua pohon, diadili dan dihukum satu setengah bulan penjara.

Kasus yang sekarang tidak kalah heboh adalah rencana pemerintah kota Malang membangun mall di pasar Dinoyo. Pasar tradisional dipindahkan ke belakang. Rasanya, pemerintah benar-benar ingin membunuh rakyatnya sendiri yang lemah. Bagaimana mungkin pedagang pasar tradisional yang terbiasa dengan pakaian apa adanya bahkan cenderung kotor, disandingkan dengan para wanita SPG mall yang cantik-cantik dan bersih-bersih? Pemerintah seolah ingin mengusir secara pelan-pelan pedagang dengan menempatkan mereka di belakang, karena tidak mungkin secara langsung.

Pemerintah sepertinya harus banyak belajar dan membuka mata selebar-lebarnya. Atau memang propaganda dan trendsetter gaya hidup hedonis, konsumtis, elitis dan individual dari berbagai media telah menutup telinga dan mata hati kita hingga menghalalkan semua kekuatan dan kekuasaan untuk berbuat semena-mena. (baca juga artikel ini: Ironi Kekuatan Uang dan Modal Sosial). Sepertinya kesadaran kita pada dunia transedent bersifat hiprokit: butuh Tuhan saat susah, tetapi tidak perduli dengan kesusahan orang lain.

Gatot kaca sang pembela kaum lemah. Kapan turun ke Indonesia lagi?

Perjuangan memang sering memakan waktu dan pengorbanan yang panjang. Tidak jaranag satu-satu persatu para pahlawan atau aktivis yang membela mereka mengalami anomali perasaan, atau bahkan terbunuh. Pada saat seperti ini rasanya kita rindu Muhammad yang dengan gagah melawan penindasan dan diskriminasi pada perempuan di semenanjung Arabia, kita rindu Gus Dur yang dengan lantang membelakaum minoritas, atau Gatotkaca yang selalu tampil di depan dengan bintang kejora di dadanya sebagai simbol kebenaran. Atau, perjuangan kebenaran dan pembelaan kaum lemah kini beralih hanya pada dunia fiktif di film-film saja?

Gbr.http://gagasize.blogspot.com/2010/04/raden-gatotkaca.html

Gbr.http://www.pikiran-rakyat.com/node/101809

Gbr. http://widasarisaraswati.blogspot.com/2010/08/kesenjangan-sosial-semakin.html

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

  • FIVBRI STAY COOL and LIKE A ZOMBIE says:

    YANG KAYA BERKUASA DAN YANG MISKIN TERANIYAYA…
    YANG KUAT MERAJALELA DAN YANG LEMAH MENDERITA…
    YANG PINTAR MEMBODOHI DAN YANG BODOH DI BODOHI…

    APA KITA AKAN SELALU MENGIKUTI HUKUM RIMBA…?

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top