Heri Setiyono • Feb 03 2026 • 54 Dilihat

Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tempat itu berupa sebuah tegalan teramat luas. Di situ Begawan Ramabargawa pernah mengamuk dan membunuh kesatria tak terhingga banyaknya. Dan tujuh telaga berair darah yakni Telaga Sapta Pancaka tercipta. Aura Kurusetra angker dan beraroma amis. Hawa pembunuhan pekat terasa, seolah-olah terguyur dendam para kesatria yang dibunuh Ramabargawa.
Sebelum Panca Saptaka tercipta, di Kurusetra, atas perintah ayahnya, Ramabargawa membunuh ibunya sendiri yang dicurigai telah berselingkuh.
Ia membunuh ibunya dengan kesadaran yang luluh lantak. Pilihan itu lebih pahit dari Simalakama. Kalau ia tidak membunuh ibunya, ia sendiri yang akan ditikam ayahnya. Seperti kedua kakaknya yang enggan melakukan perintah itu, lalu dihukum mati ayahnya. Padahal, ibunya pasti akan mati juga, dibunuh oleh seorang suami yang menganggap pengkhianatan adalah sesuatu yang tak bisa dimaafkan.
Ah, benarkah pengkhianatan tak dapat dimaafkan, keluh Ramabargawa dalam gelisah. Lantas, bagaimana dengan pengkhianatan yang hendak dilakukannya terhadap seseorang yang telah mengantarnya pada kehidupan? Yang hendak dikhianatinya adalah jerih payah seorang Ibu, yang tiada bandingannya di semesta.
Akankah pengkhianatan selalu layak, dan harus, dibalas dengan pengkhianatan pula?
Tapi tubuh perempuan lemah tersimpuh itu, tak urung jua, merasakan keganasan kapak sakti Ramabargawa. Menghunjam, menyisakan sejumput kering kegetiran yang bertahan lama. Bahkan, selama-lamanya. Meski Ramabargawa sendiri tak tahu, apakah ia melakukannya karena bakti kepada ayahnya ataukah karena menuruti rasa takutnya terhadap kematian yang dijanjikan ayahnya bila ia menolak perintah itu.
Batin Ramabargawa pun tergoncang dahsyat. Siapa yang tidak akan bergemuruh jiwanya demi mendengar jerit ibu kandung yang berlumuran darah? Tak terkecuali Ramabargawa muda, betapapun kenyangnya ia melakukan olah batin dengan tapabrata. Apalagi ketika disadarinya bahwa darah tersebut berasal dari kapak yang sedang digenggamnya sendiri.
Ramabargawa memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin itu dengan hati yang lantak oleh sesal. Sesal itu terus bertahan, dan membuatnya gelap hati dan mata. Ia tidak lagi menghargai sesuatu yang hidup. Tanpa sesal, dibunuhnya setiap kesatria yang melewati tempat ia merenungi kematian ibundanya.
Maka bukit itupun kemudian penuh dengan simbah darah. Tak ada kesatria yang sanggup menahan luapan kemarahannya. Dan ketika akhirnya Ramabargawa terbebaskan dari dendam kesumat, tewas diterjang panah Ramawijaya, lautan darah Telaga Sapta Pancaka itupun mengering. Jadilah Kurusetra, tempat yang sejak awal dicadangkan para dewata untuk berlangsungnya Perang Bharatayuda.
Itu terjadi jauh sebelumnya, di masa Ramayana. Saat Wisnu masih menitis kepada Ramawijaya. Ketika predikat angkara murka masih disandangkan kepada Prabu Rahwana. Dan pusaka Panah Guawijaya milik sang Rama menghabisi Rahwana yang tergila-gila dengan kecantikan Dewi Shinta.
*** *** ***
Sekarang, di sebuah ujung di tegalan itu, di puncak sebuah bukit, Arjuna tengah sendiri termenung. Nuraninya merasakan kepedihan yang amat sangat ketika menyaksikan perang dahsyat yang sedang berlangsung di padang itu. Perang besar yang telah tertulis dalam suratan takdir ribuan tahun sebelum generasi Bharata ada, kini tengah berlangsung di depan matanya. Hatinya miris, dan matanya termangu melihat kekejaman manusia terhadap sesamanya.
Takdir, ah, mengapa harus sekejam ini? Mengapa suratan yang digoreskan oleh tangan Sang Maha Welas Asih harus terterjemahkan dalam bentuk penderitaan? Mengapa justru Sang Mahaadil menghendaki sesuatu yang dirasakan sebagai ketidakadilan oleh kehidupan yang Dia ciptakan sendirian?
Rasa Arjuna tak bisa lari dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ingin rasanya dia melepaskan Pasopati, sang panah saktinya, kepada matahari. Biar semuanya selesai saat itu juga. Biar semuanya merasakan “keselesaian” yang sama saat itu juga. Biar, desis Arjuna, biar beban itu tuntas seketika dengan buyarnya kehidupan di bawah matahari.
Arjuna teringat, perang dahsyat ini ada hanya karena sebuah hak yang mesti direbut di satu sisi, dan harus dipertahankan oleh sisi yang lain. Tapi, kenapa hanya untuk menuntut sebuah hak milik Pandawa atas Hastinapura dan Indraprasta dari tangan Kurawa, jutaan nyawa ternyata harus saling menghilangkan? Batinnya berteriak menggugat.
Apakah leluhurnya dahulu mengumpulkan kekayaan sedemikian banyak hanya untuk menciptakan kerusuhan sepeninggal mereka?
Dia teringat akan tahta Hastinapura yang menjadi musabab peperangan dahsyat ini. Ayahnya, Pandu Dewanata, dulu ditunjuk menjadi raja karena sang pewaris tahta resmi, Destarasta, pakdhe-nya, telah buta sejak lahir. Padahal, sebagai putra sulung, Destarastalah yang sebenarnya paling berhak duduk di tahta itu. Protes Destarasta saat itu menjadi tidak berguna sama sekali. Sebab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang buta yang sejak kecil tidak pernah melihat abu-abunya motif manusia, seluhur apapun mereka, tentang kepemilikan sepenggal kekuasaan.
Dan kemudian Destarasta boleh bernafas lega, meski untuk sejenak. Pandu mati. Kematian Pandu membuat Destarata berkesempatan menduduki kursi tertinggi Hastinapura. Meski hanya berstatus wali bagi anak-anak Pandu. Kesempatan ini adalah peluang baginya untuk mempersiapkan anak-anaknya sendiri agar bisa menjadi raja. Agar anak-anaknya yang akan menjadi penguasa Hastinapura, bukan anak-anak Pandu. Destarata toh juga seperti kebanyakan orang tua-orang tua yang lain, yang menginginkan anak-anaknya menjadi busur dari panah-panah mereka. Menjadikan darah daging sendiri sebagai pelaksana dari impian-impian masa lalu mereka. Impian masa lalu yang entah masih relevan atau tidak untuk tetap dikejar di masa keemasan sang anak.
Arjuna, dan juga saudara-sudaranya yang lain, bukannya tidak menyadari siapa yang sebenarnya paling berhak berkuasa di Hastinapura. Destarata, bukan Pandu ayah mereka. Tapi siapa yang tidak ingin hidup dengan gelimang kekuasaan? Minimal mencicipinya. Apalagi jika kekuasaan itu sejak awal telah dianggap menjadi jatah mereka. Juga harta berlimpah yang secara ajeg terkumpul dari negara-negara jajahan Hastinapura. Semuanya seakan menjadi alasan tepat baginya dan saudara-saudaranya untuk pergi berperang menghadapi Kurawa dan seluruh balatentara mereka, atas nama merebut kembali hak-hak mereka.
Ah, semua orang mempunyai alasan masing-masing.
Tapi, toh Arjuna akhirnya gamang juga. Pengembaraan dan pertapaannya sekian lama telah mengajarkan kepadanya tentang arti kekuasaan, harta dan juga kuasa terhadap harta. Dan sekarang, di tengah-tengah perang, saatnya batin itu berontak. Mengapa ia mesti terlibat dalam perang yang mempertaruhkan nyawa jutaan manusia hanya demi harta?
Atau, haruskah ia mundur? Berlari meninggalkan saudara-saudaranya, dan jutaan balatentara yang telah bersumpah setia kepadanya dan Pandawa. Entah apapun motif sumpah setia itu.
*** *** ***
Adalah kewaskitaan Kresna yang mampu melihat ‘pertempuran’ dalam batin satria panengah Pandawa itu. Bagi Kresna, membimbing Pandawa untuk memilih pilihan di antara dilema dan terbelahnya batin karena sekian pertanyaan-pertanyaan reflektif, adalah salah satu bagian dari tugasnya.
Ajaran sebagaimana terdapat dalam kitab Bhagawad Gita kemudian terlantun dari manusia jelmaan Batara Wisnu ini. Jelas Kresna, bahwa perang ini memang terjadi karena Pandawa sedang menuntut hak-hak mereka.
Akan tetapi, betapa setiap tuntutan terhadap hak ternyata tidak pernah berdiri sendirian. Di belakangnya, menyertai puluhan ribuan bahkan mungkin tak bisa terhitung alasan yang menuntut pula untuk dikabulkan. Karena alasan tidak pernah berdiri tunggal. Bahwa hak ternyata hanyalah salah satu ujung tombak dari sekian konsekuensi dan akibat yang harus dipenuhi. Dan ketika hak menuntut untuk dituntaskan, pengorbanan dan mengkorbankan adalah salah satu konsekuensinya.
Seolah-olah, atas Arjuna, Kresna telah menjadi Khidir terhadap Musa.
Dan Bharatayuda bukanlah sekedar pertempuran Pandawa untuk memperoleh kembali hak-haknya atas Indraprasta dan tahta Pandudewanata, tapi telah menjadi perang milik sang kesucian yang berdiri di antara kebenaran dan kebatilan. Sehingga dalam perang ini, siapapun, termasuk juga Pandawa bersaudara, akan terkena tuah akibat ketidaksuciannya.
Siapapun yang tak berlindung dengan kesucian, meskipun dia berbuat benar, maka karma akan menyentuhnya. Apalagi, pelaku kesalahan.
*** *** ***
Padang Kurusetra kemudian menyaksikan kembalinya Arjuna sebagai senapati perang Pandawa. Spirit yang ditanamkan Kresna, membuat gendewa keramatnya dengan sekuat tenaga menghabisi manusia-manusia yang ia yakini telah tertanami oleh benih angkara dalam diri mereka. Meski untuk itu, ia harus abaikan kenyataan bahwa setiap korban panahnya adalah suami, anak, ayah, adik dan kakak bagi orang-orang lain yang sesungguhnya menunggu kepulangan mereka dengan selamat. Kelak, pengabaiannya itu harus membuat ia menangisi kematian anaknya, Abimanyu.
Namun, seterusnya, Kurusetra telah menjadi saksi yang bercerita tentang aksi kebrutalan Bima –kesatria yang dianggap paling kesatria– ketika membunuh Dursasana dan Suyudana dengan sadis. Kurusetra melihat ketidakjujuran (bukan kebohongan) Yudhistira –satria Pandawa yang dikenal paling budiman– ketika mengabarkan kematian Aswatama kepada Resi Durna.
Kurusetra mencatat kelicikan-kelicikan Kresna –titisan Dewa Wisnu yang dianggap luhur– merekayasa kematian Gatotkaca, Antareja, Durna dan juga kematian Jayadrata sang pembunuh Abimanyu; dan, Kurusetra meyaksikan sendiri keberpihakan para dewa-dewa untuk saling melindungi ‘anak’ mereka masing-masing.
Padang nan luas ini adalah saksi atas kontradiksi diri manusia. Yang dianggap sebagai manusia yang terbaik pun ternyata mempunyai kegelapan di sisinya yang lain. Seperti gading yang tidak pernah luput dari keretakan di permukaannya. Seperti matahari yang menyembunyikan permukaan gelapnya di sisinya yang lain.
Sebab khilaf memang manusiawi. Kendati tidak lantas menjadi benar untuk bertahan selamanya menempati sisi gelap itu.
*** *** ***
Lebih dari itu, Kurusetra adalah tempat pengganjaran atas perbuatan-perbuatan di masa silam. Tidak perduli siapa yang melakukannya. Tak perduli motif dan niatan perbuatan itu. Selalu akan ada ganjaran bagi perbuatan sekecil apapun.
Suatu di Padang itu, senjata Kunta dilempar oleh Adipati Karna untuk membunuh Gatotkaca. Putra Bima ini segera melesat terbang menghindar, keluar dari jangkauan Tombak Kunta. Tapi senjata Kunta ternyata tidak terlempar ke angkasa sendirian. Bersamanya, turut arwah si Kalagruja yang membantu menancapkan Kunta ke dalam sarungnya yang tertinggal di dalam ari-ari Gatotkaca.
Konon, ketika Gatotkaca lahir, tidak ada satupun pisau yang sanggup memotong ari-arinya, kecuali dengan senjata Kunta milik Batara Indra. Usaha Arjuna mencari Kunta pun gagal, selain hanya membawa sarungnya saja. Adapun Tombak Kunta akhirnya berada di tangan Karna. Akhirnya, ari-ari bayi Gatotkaca itu pun terputus juga oleh sarung senjata Kunta. Namun, aneh, sarung senjata itu justru masuk ke dalam ari-ari bocah putra Bima tersebut, dan bersemayam di dalamnya.
Dan Kalagruja adalah seorang pelayan di Istana Pringgadani yang dipukul mati oleh Gatotkaca karena tanpa sengaja ia membocorkan perselingkuhan Abimanyu kepada Siti Sundari, istri Abimanyu. Tatkala menjelang ajal, Kalagruja merapal dendam kesumat kepada Gatotkaca.
Dan saat Bharatayuda itu juga, saat Gatotkaca harus berperang melawan Karna, dendam Kalagruja terbalaskan. Arwahnya ikut mendorong senjata Kunta ke dalam sarungnya yang bersemayam di perut Gatotkaca.
Senjata Kunta dan sarungnya telah bersatu kembali. Tubuh sakti Gatotkaca terjatuh mati. Dendam Kalagruja terlampiaskan. Suratan Pandawa menjadi kenyataan.
Di Kurustra itu juga, Resi Bisma yang perkasa ternyata harus tumbang di tangan perempuan bernama Srikandi. Karena ruh Dewi Amba menuntut balas atas perlakuan Bisma terhadapnya.
Dewi Amba adalah putri Kerajaan Kasi yang diculik Bisma untuk dinikahkan dengan Wicitrawirya, kakak Bisma. Bisma tidak tahu satu hal, bahwa Dewi Amba sesungguhnya telah mengikat pertunangan dengan Prabu Salwa. Begitu mengetahui hal itu, Bisma segera mengembalikan Dewi Amba ke Prabu Salwa.
Tetapi, sebagaimana juga Prabu Ramawijaya pernah meragukan kesucian Shinta setelah diculik Rahwana, Prabu Salwa menolak pengembalian itu. Maka, antara malu bercampur sedih, Dewi Amba menuntut tanggung jawab Bisma untuk menikahinya, yang tentu saja Bisma tak dapat memenuhi permintaan itu karena ia telah memutuskan untuk tidak menikah selamanya.
Dewi Amba pun ngotot minta dinikahi Bisma. Bisma merentang panahnya demi menakut-nakuti Amba agar mengurungkan kengototannya itu. Malangnya, tali busur itu tak sengaja terlepas dan anak panah pun melesat mengenai Dewi Amba. Sebelum matinya, dalam kecewa, marah dan dendam, Dewi Amba menuntut doa kepada Yang Kuasa agar dirinya dapat membalas perlakuan Bisma.
Padahal, Bisma melakukannya tanpa sengaja…
Dan dendam Dewi Amba kemudian terbalas melalui Srikandi. Ratusan panah Srikandi menembusi tubuh tinggi besar Bisma, menyangga tubuh itu hingga tidak terkena kotoran tanah Kurusetra. Panah-panah Srikandi laksana alas, menyangga tubuh seorang satria yang kalah di medan perang, menunggu saat-saat yang paling baik untuk memilih sendiri waktu kematiannya.
*** *** ***
Maka, jika Kurusetra adalah cerita, ia sebenarnya adalah metafora dari dunia nyata. Jika Arjuna adalah sekedar tokoh dalam dongeng, maka di kesungguhan hidup ini ada sekian banyak ‘Arjuna-Arjuna’ lain yang sering galau dan risau memandang perjalanan dunianya. Sebab realitas kasat hidup adalah susah benar untuk dimengerti dengan separo nurani. Sehingga memerlukan ‘Kresna-Kresna’ yang akan menggenapi penjelasan-penjelasan yang diperlukan di separuh nurani yang lain.
Untungnya, dunia juga akan selalu memiliki Kresna-Kresna itu, dan juga fungsi-fungsinya masing-masing –serta kepandaian dalam manuver, strategi, taktik dan rekayasanya. Sebab kalau tidak, ke mana para pencari jati diri semacam Arjuna mesti bertanya? Sebab kalau tidak melalui lisan Kresna, lisan siapa lagi yang pantas melantunkan pesan suci semacam Bhagawad Gita? Sebab kepada siapa lagi Arjuna mesti percaya?
Dan yang pasti, dunia juga penuh dengan manusia-manusia seperti Kalagruja dan Dewi Amba. Mereka adalah manusia yang mengalami penganiayaan dalam hidup yang sebentar ini. Kondisi teraniaya yang membuat doa, sumpah dan kutuk mereka pasti akan menjadi kenyataan.
Meskipun, apakah hanya kutuk dan caci yang harus mereka keluarkan untuk merespon ketidakadilan yang mereka alami dan rasakan? Tidakkah maaf dan doa kebaikan lebih utama dirasakan manfaatnya bagi semua?
Maka, sosok-sosok manusia seperti Gatotkaca dan Bisma, juga Suyudana, Dursasana, dan yang lain-lain yang konsisten mengumbar perilaku jahatnya harus bersiap-siap untuk menerima pembalasan atas bibit angkara yang mereka taburkan.
Sebab sekecil apapun kejahatan yang pernah diperbuat, pasti akan membawakan kejahatan pula kepada pelakunya, kelak.
Padahal, setiap hari, baik sadar maupun tidak, kita senantiasa menjadi penebar bibit-bibit jahat itu…
Hesti
Catatan Purba
“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go ...
Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...
Konon, pertandingan ketangkasan antar murid-murid Durna akan diakhiri dengan pertunjukan kepandaian ...
Mengangkat Derajat Alam, Manusia, Hingga Mempertahankan Warisan Budaya Dunia Kesadaran melestarikan ...
Sepak bola dimasa anak-anak kadang menjadi keasikan sendiri bagi dunia mereka, namun tidak bagi seba...
Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

Mantap ketua
Mantap ketua,