Heri Setiyono • Jan 23 2026 • 123 Dilihat

Minggu-minggu ini, jika sampeyan sempat berkunjung ke Averroes di Mojolangu, sampeyan akan dapati banyak sekali alpukat. Ada yang sudah berupa kulitnya saja, ada juga yang masih utuh. Ada juga yang sudah berupa noda-noda hijau di gelas-gelas di tempat cucian dapur. Pemandangan yang sama juga akan sampeyan lihat di sekretariat Sekolah Demokrasi 2010 Kota Batu.
Lantas, kenapa?
Inilah pertanyaan yang saya tunggu. Sangat tidak penting untuk menanyakan siapa saja yang telah merasakan kenikmatan alpukat-alpukat itu. Sebab, semua orang di Averroes dan Sekolah Demokrasi pasti pernah merasainya. Tidak penting juga untuk menanyakan bagaimana cara alpukat-alpukat itu diolah. Sebab, meski Averroes tidak punya blender, cara lama yang diajarkan oleh orang-orang tua masih sangat efektif. Yakni, belah alpukat, buang bijinya, ambil dagingnya, masukkan ke dalam sebuah gelas, beri gula secukupnya, aduk, lantas dimakan dengan pelan-pelan. Dan tidak penting juga untuk menanyakan apa akibat dari ‘hujan alpukat’ tersebut, meski LR harus rela bobot tubuhnya naik 8 kg pada minggu-minggu ini.
Yang menarik, setidaknya menurut saya, adalah bagaimana cara alpukat-alpukat itu datang. (Setting : The Last Samurai MODE ON. Yakni ketika Kaisar Meiji bertanya kepada Nathan Algren mengenai bagaimana kematian Katsumoto, yang dijawab dengan dahsyat dan memukau oleh Nathan dengan : I will tell you how he lived…!)
Kembali ke alpukat-alpukat tadi. Tentunya mereka tidak bisa datang sendiri ke Averroes. Tentunya, ada yang mengantar. Tentunya juga, ada hal-hal yang menyebabkan si pengantar mengantarkan alpukat-alpukat itu ke Averroes.
Sekitar sebulan yang lalu, seorang teman, DH (tidak ada kaitannya dengan walikota Surabaya dan calon bupati Malang) mengaku sedang memanen alpukat dari kebunnya. Sebagai orang desa, sudah lazim untuk membagikan hasil panenan kepada orang-orang yang dikehendaki dan disayangi. Misalnya, kepada saudara, tetangga, sahabat, teman dan lain-lain. Ada juga, yang membagikan panenan untuk tujuan tertentu, semisal lobi jabatan (dengan membawa sekian hasil panenan kepada sang bos), untuk lobi pernikahan (dengan membawa hasil panenan ke rumah calon mertua), dan lain-lain. Demikian pula halnya, dengan DH. Maksud hati untuk melestarikan tradisi masyarakat desa, dibawalah hasil panenan alpukatnya ke Averroes. Dan, karena ada beberapa hasrat dan kepentingan tertentu, dikirim jugalah beberapa buah alpukat ke sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dengan TK Al-Ghaffaar yang dikelola oleh Ustadz Muhammad Romdhon.
Selesai? Ternyata belum, karena masih ada cerita selanjutnya sehingga alpukat-alpukat masih berdatangan ke Averroes.
Maka, beberapa hari yang lalu, terjadi saya dan beberapa teman (LR, AK, SA, KA, AR, IKW, RR, DTM) berkesempatan berkunjung ke rumah DH. Desa tempat asal DH memang tidak bisa lagi disebut desa pinggiran, melainkan lebih luar dari desa pinggiran. Jalan kecil dan rusak di sana sini, bau kotoran sapi di perjalanan, parit-parit kecil di kiri kanan jalan, beberapa portal sumbangan pembangunan masjid, dan khas daerah luar pinggiran kami jumpai di sepanjang perjalanan. Bahkan, AR yang terkenal sebagai driver handalpun sempat tersesat. Juga, di sepanjang perjalanan dari pusat kecamatan sampai dengan desa DH, tidak ada seorangpun bunga desa yang sedap dipandang. Anak-anak desapun, kelihatan terkesima melihat Fitri (F13).
Meskipun demikian, dengan penuh perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke rumah DH. Eh, bukan, ternyata rumah kakak DH. Ternyata, rumah DH masih jauh masuk ke dalam lagi. (Kiranya, beruntunglah DH mengenal dan bergabung dengan Averroes, sehingga dapat menikmati fasilitas perkotaan yang barangkali hanya menjadi impian bagi sebagian pemuda seusianya di desanya).
Sambutan keluarga DH ternyata luar biasa, hampir menyerupai sambutan terhadap menantu. (Hanya, minus terop karena arisan terop yang digagas oleh EWK belum berjalan). Ibu, ayah, kakak, keponakan dan saudara-saudara DH yang lain menerima kami dengan penuh keramahan khas desa. Ternyata, mereka menyembelih 2 ekor ayam kampung besar untuk menjamu kami. Tentu saja, disertai sayur lalapan dan sambel. Pisang desa yang manis menjadi pelengkap makan kami. (Jadi ingat Dwi Ratna dengan Sambel Kemangi-nya) . Kelapa muda yang segar adalah pelepas dahaga yang luar biasa. Hidangan yang segera disambar habis oleh kami, terutama para cewek. Keramahan yang disajikan tersebut seiring dengan keramahan khas Averroes, gojlok dan sindir serta ‘pembantaian’ harga diri.
Nah, di saat keramahan khas Averroes tersebut sedang berlangsung, pembicaraan mengenai alpukat mengemuka. AK (dan ortunya), yang sempat menerima kiriman sedikit alpukat, menanyakan kebun alpukat DH. Mungkin dalam bayangan AK, DH memiliki perkebunan alpukat berhektar-hektar. Memang, tentunya akan menyenangkan bila berjalan-jalan di tengah perkebunan alpukat. Sambil memetik buahnya yang sudah ranum. Barangkali, itu juga yang dibayangkan oleh AK ketika DH memberitahunya mengenai kerbau di rumahnya. Bayangan AK, barangkali, adalah puluhan kerbau yang sedang merumput di padang rumput yang luas, yang dapat dinaiki sambil meniup seruling dan menyanyikan lagu ala anak gembala.
Tapi, bukan DH namanya kalau tidak segera bersiasat. Demi menerima pertanyaan AK, plus bumbu gojlokan kami, otak DH langsung berputar untuk menjawab pertanyaan (dan permintaan) AK. Sambil mengajak RR, AR dan LR, DH membawa sekarung penuh alpukat. Tentu saja, pertanyaan tentang kebun alpukat DH sudah tidak lagi penting bagi AK (dan bagi kami semua waktu itu). Maka, singkat cerita, kami pun pulang dengan membawa oleh-oleh sekarung alpukat, sekarung kelapa muda dan beberapa sisir pisang. Namun, sempat dibuat kesepakatan tidak tertulis bahwa sekarung besar alpukat tersebut akan diantarkan langsung ke Perumahan Dosen UM di dekat TK Al-Ghaffaar. Entah sebagai bentuk keramahtamahan khas desa, atau bagian dari lobi, kiranya saya tidak kuasa menjelaskannya. Biarlah para alpukat itu yang menjadi saksinya.
Terimakasih DH. Saya tidak tahu persis, apakah para alpukat itu akan menjadi ALat PUKAT sehingga dapat menjadi ALasan PerempUan terpiKAT, atau justru yang lain…
hesty
Batu, 9 Februari 2010
18.17
(sambil menghabiskan segelas alpukat kocok)
Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...
Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...
Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...
Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...
Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...
Mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) mungkin terbersit bayangan yang cukup rumit, melelahkan, mahal, ...

Belum ada komentar.