Ronall J Warsa • Feb 02 2026 • 92 Dilihat

“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go far. If you do it right, you’ll love where you are. Just know, wherever you go. You can alwasy come home,” lantunan suara Jason Mraz, dengan lagunya 93 Million Miles. Mengiringi laju mobil, yang dikendarai pria bertubuh tinggi besar pada pagi itu.
Beberapa tahun lalu, Herman berhasil melakukan ritual yang sangat membanggakan Bundanya. Ia menjadi lulusan terbaik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), di Universitas Indonesia, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,85.
Prestasi tersebut mengantarkannya, bekerja di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Selain itu, jejaringnya dengan tokoh-tokoh besar negeri ini, turut memudahkan langkah pemuda tersebut.
Tetapi yang patut diakui semua orang. Kemampuan multitalenta Hermanlah, yang membuat salah seorang politisi di Senayan. Menunjuknya sebagai staf ahli, di Komisi III dari sebuah partai pengusung Presiden.
Delapan tahun lebih, Herman bergerak dan mengedar di Ibukota Jakarta. Membuatnya makin berpengalaman, atas langkah-langkah politik praktis di negeri ini. Sehingga makin hari, semakin nampak kedewasaan pada wajah lelaki dengan tulang pipi menojol itu.
“Tugas yang kamu kerjakan pada hari ini begitu luar biasa. Tidak percuma aku merekrutmu sejauh ini,” ungkap Mugeni, sembari menepuk punggung Herman. Ia tidak terpengaruh, pada pujian yang dilayangkan pimpinannya itu.
Herman membalasnya dengan senyum lebar. “Apakah ada hal yang perlu saya kerjakan lagi Pak? Kalau tidak saya hendak pamit undur diri dulu. Kebetulan saya ada janji dengan seorang kawan,” ucapnya sembari memasukkan laptop, ke dalam tas ranselnya.
“Pergi saja tidak mengapa, apalagi ini sudah memasuki akhir pekan. Nikmatilah waktu luangmu untuk bersenang-senang”, balas lelaki tua dengan uban, yang perlahan tapi pasti memojokkan riuh warna hitam rambutnya.
***
Vietnamese drip coffee hadir pada meja bundar, berteman nasi goreng jawa yang tersisa setengah. Menjadi ramai bersama jari-jemari yang menari pada gadget. Herman sibuk menjawab berbagai pertanyaan dengan lawan bicara di dunia maya.
“Kemungkinan minggu depan aku sudah meluncur ke Bangkok, ada pertemuan dengan anggota NGO di sana. Sebaiknya jika ada waktu, kamu dapat ikut serta,” ketik Herman pada touchscreen HPnya.
“Iya sayang aku pasti ikut, tapi ada yang buat aku gusar. Kenapa tidak kita beritahu saja Bunda jika aku adalah calon istrimu. Biar dapat restu Bundamu,” tulis seorang gadis menjawab di tempat lain.
“Tenang sayang, aku padamu. Secepatnya aku akan mengenalkanmu pada Bunda. Akhir tahun aku akan ajak beliau ke Jakarta, sekalian kita buat acara pertemuan keluarga,” balas Herman.
“Oke aku tunggu janjimu, aku mau ngelanjutin Midnight Shopping di Senayan City. ATM mu aku pake yaaaa,” tungkas gadis itu membalas manja.
Herman lantas melanjutkan aktifitasnya, yakni bercengkrama dengan buku Family Happiness karangan Leo Tolstoy. Membuat malam panjangya, jadi lebih berwarna serta berisi.
Bunyi dering handphone di pagi buta membangungkan Herman, yang terlelap diatas kasur empuk berseprai putih di apartemennya. Siapa menelpon sepagi ini, baru saja masuk dalam surga mimpi sudah terbangun saja gara-gara panggilan sialan itu, ucapnya dalam hati.
Nampak sebuah nama muncul pada layar Handphone, tertulis Bunda Tersayang. Kontan saja membuat Herman cepat-cepat, menekan tombol terhubung pada panggilan yang belum terjawab.
***
Hari terakhir di Bangkok, Herman masih sibuk bertukar ide bersama Rabindrad Reungprach. Pria tersebut merupakan, salah seorang Ketua NGO Sattachorn Foundation di Bangkok, Thailand.
Pembicaraan mereka terkait ide-ide pemerataan pembangunan untuk kaum urban di daerah pinggiran di berbagai belahan dunia serta membahas isu mengenai pengungsi Rohingya.
Walau sesungguhnya, hati Herman tidak kalah kalutnya dengan keputusan Emily. Pacarnya itu nemilih memutuskan hubungan mereka. Padahal dua hari sebelumnya, keduanya amat menikmati keindahan negeri Gajah Putih itu.
Putusnya jalinan kasih itu, tidak lain tidak bukan. Disebabkan pembicaraan Herman dengan Bundanya beberapa waktu lalu. Isi pembicaraan terkait perihal perjodohan.
Bundanya tetap bersikukuh, agar pria dewasa itu mengikuti keinginannya. Ini terkait janji Bunda dengan Ayah dari gadis yang akan jadi calon istri Herman.
“Aku tidak terima keputusan Bundamu, di jaman seperti ini tidak ada lagi kisah Siti Nurbaya. Bulshit! Prosesi jaman purba itu dibawa-bawa sampai sekarang, apakah Bundamu mahluk goa?,” tandas Emily geram. Herman berusaha menenangkan pujaan hatinya, tapi apa daya amarah sudah teramat menguasi kepala gadis itu.
***
Mobil double cabin terus melaju kencang, diantara perjalanan menuju ke kampung halaman. Sekitar setengah jam kemudian, disimpang Km 5, diantara Sungai Jawi dan Sungai Bangkok.
Herman memilih membelokkan mobilnya, untuk tidak menuju tujuan awal yakni pulang ke rumah. Di sebuah sajadah, jidat-jidat orang dewasa bertaut datar. Terlihat jelas urat-urat kain yang membentuk pola gambar Ka’bah dengan titik-titik kepala manusia memutarinya untuk tawaf.
Ditengah derai-derai keramaian manusia, usai melaksanakan sholat di masjid. Nampak Herman di pojokan. Ia hanya bisa bersimpuh pasrah, dengan air mata terurai deras.
Ia teringat, pernah melakukan sujud syukur atas keberhasilannya menyelesakan studi. Hal yang erat, dengan rasa syukur mendalam pada Allah SWT. Terlebih itu bertaut pula, dengan kegigihan seorang wanita tua.
Dimana menempatkan pendidikan, di atas kebanggaan-kebanggaan mewah lainnya di dunia. Wanita itu terlanjur berjanji, pada Almarhum suaminya. Sehingga itu menjadi amanah sekaligus pusaka baginya.
“Engkau boleh habiskan seluruh hartaku, namun itu untuk pendidikan anak kita,” ucap pria belahan jiwanya. Yang tak lama kemudian, menghembuskan nafas terakhirnya di pembaringan.
“Ya Allah! Jangan turutkan aku pada nafsuku semata, pada kebutaan hatiku atas cinta yang seharusnya lebih besar cintaku pada Mu. Sekiranya aku mengikuti nafsu, maka luruskanlah aku dengan cara berbakti pada seorang perempuan yang mencintai diriku ini melebihi cinta pada dirinya,” doa Herman, sembari kemudian beristigfar mengingat perjalannya bersama Bunda sejauh ini.
Tiada lama usai melakukan sujud syukur. Seorang lelaki dengan wajah yang tak asing, memandang Herman dengan penuh keterkejutan. Lelaki itu, adalah Johan. kawan lamanya, sejak dibangku Sekolah Dasar.
Kawan seperjuangan, yang hidup dengan kesederhanaan luar biasa. Namun nampak kebahagiaan, tak terhingga atas sikap hidupnya. Pria itu lantas bertanya dengan lantang, pada Herman. “Dapat Orang Mana?”.
Herman diantara bingung serta malu atas pertanyaan itu. Sembari mengucap Basmallah, didalam hati. Lalu keluarlah kalimat tanpa beban dari mulutnya. “Dapat tetangga kampung sendiri, orang kita juga. Tentu kau kenal,” ucapnya yakin. (Selesai)
NB: Telah terbit di Surat Kabar Harian (SKH) Kaltim Post, medio 2016.
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tem...
Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...
Konon, pertandingan ketangkasan antar murid-murid Durna akan diakhiri dengan pertunjukan kepandaian ...
Mengangkat Derajat Alam, Manusia, Hingga Mempertahankan Warisan Budaya Dunia Kesadaran melestarikan ...
Sepak bola dimasa anak-anak kadang menjadi keasikan sendiri bagi dunia mereka, namun tidak bagi seba...
Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

Belum ada komentar.