Heri Setiyono • Jan 26 2026 • 48 Dilihat

Pagi itu, Rabu 30 Juni 2010, jam digital di atas jarum speedometer Fitri menunjukkan angka 03:15. Melintas tepat di depan Dapur Kota Jalan Soekarno Hatta, jempol kiriku memencet keypad Nokia 9300i dan kucari nama “Bapak’ di phone book. Kusentuh gambar telpon hijau. Tangan kananku menjaga stabilitas laju Fitri yang berlari masih di kisaran 60 km/h.
Ketika panggilan tersambung, hanya percakapan singkat yang terjadi. Intinya kuminta doa dan barokah restu beliau dan ibu atas perjuangan Aira yang akan menyaksikan dunia.
Sebetulnya, ingin kupencet lebih banyak nama seperti Mas Robikin, Abi, Mas Romdlon, Mas Andry, Mas Fauzan, Pak Ketua, Saipul dan teman-teman lain. Tapi apa daya, keinginan untuk segera sampai di tempat praktek Bidan Rohmah memaksa kakiku untuk menginjak pedal gas Fitri lebih dalam. Yang dengan demikian, mengharuskan kedua tangan dan konsentrasiku untuk lebih intens memerhatikan keadaan jalan di sekitar Fitri. Keadaan yang berbeda dengan 3 tahun lalu pada saat menjelang kelahiran Asa. Saat itu, Pak Pa’i yang memacu Si Kijang ditemani Ronal yang duduk di sebelah sopir. Aku sendiri waktu itu duduk di jok tengah sambil mengajak berjaga para senior untuk berdoa bagi Asa dan ibunya.
Pagi dini hari itu, Rabu 30 Juni 2010, yang ada hanyalah keinginan untuk segera menemani kekasih hatiku berjuang demi kelahiran putri kedua kami.
Pagi itu, sang kantuk yang biasanya menemani mataku pada jam-jam itu enggan untuk datang. Entah kalah bersaing dengan niat hati, ataukah karena sudah terlampiaskan sore tadi. Ya, setelah maghrib aku tertidur dan baru terjaga pada saat babak perpanjangan waktu pertandingan Jepang – Uruguay. Padahal, tidak biasanya begitu. Beberapa minggu sebelumnya, mataku baru bisa terpejam menjelang atau sesudah adzan subuh. Namun, senja itu, aku langsung tertidur ketika kurebahkan kepalaku di atas bantal baru yang dibelikan Hepi seminggu sebelumnya. Mungkin saja, mataku langsung ‘down’ ketika telingaku mendengar keberatan Rian saat ia kuajak membeli karpet untuk kegiatan diskusi Reboan di Batu keesokan harinya. Padahal, tidak biasanya Rian begitu. Ternyata, ia punya alasan: mantan calon kekasihnya datang berkunjung malam itu.
Meskipun demikian, harus kuakui, kedua ketidakbiasaan tersebut (tidur sore dan penolakan Rian) amat membantuku untuk dapat sampai di Blitar sesaat setelah adzan Subuh berkumandang.
Pagi dini hari itu, Rabu 30 Juni 2010, memang kupacu Fitri tidak seperti perjalananku biasanya. Dan harus kuakui, Fitri memang tunggangan yang sangat tangguh. Minimal, jika dibandingkan dengan tunggangan lain yang seumuran dengannya, yakni 16 tahun. Maka, salam hormat pantas kusematkan kepada Mas Hadi yang membantuku menemukannya di halaman parkir seorang pedagang keturunan Arab di kawasan Mergan 3 tahun yang lalu. Ketelatenan Mas Hadi dalam membimbingku menemukan mobil idaman, pengetahuannya tentang mobil seken, dan terutama pengetahuannya tentang kemampuan kantongku, adalah jasa yang luar biasa dalam upayaku mendapatkan Fitri. Dan tentu saja, yang sangat layak untuk kusebut adalah peran Pak Pa’i yang sangat besar dalam merawat Fitri. Tanpa sentuhan tangan Pak Pa’i, hampir mustahil Fitri dapat kupacu kencang membelah jalan Malang – Blitar pagi itu.
Pagi dini hari itu, Rabu 30 Juni 2010, ketika aku datang, istriku sedang meringis-ringis menahan nyeri di bagian perutnya. Segera kugenggam erat tangannya, sambil memberinya kecupan di kening. Kubisikkan di telinganya: “Sholawat jangan putus, Nda”, yang dijawabnya dengan pandangan mata dan anggukan kepala. Mukanya terlihat pucat. Ah, kekasih hatiku, sebenarnya ingin kuterima beban rasa sakit itu. Kuambil sebutir telor ayam kampung setengah matang, kukupas perlahan. Sedikit demi sedikit kusuapkan ke mulut yang selalu berbicara lembut itu. Kuberharap, ada cukup energi untuknya demi meladeni kontraksi di perutnya.
Ah, aku jadi teringat lekuk liku perjalanan hidupku bersamanya. Di sebuah forum diskusi PMII kami bertemu. Di sebuah rumah kontrakan putri di Jalan Kerto Rahayu kami biasa berbincang. Melalui sebuah masalah kami justru didekatkan. Hingga, di sebuah malam yang indah, 20 Juli 2004 di Pare Kediri, kami dipertemukan untuk mengikat janji berumah tangga.
Ah, Nda (demikian aku biasa memanggilnya) kau tentu masih ingat bahwa pertemuan malam itu atas permintaanmu. Memang, kau tidak memintaku langsung. Tetapi, pinta itu kau bisikkan kepada Gusti kita, yang kemudian segera Dia sampaikan ke perasaanku. Maka, aku ingat bahwa aku segera bergegas menuju Pare, meskipun harus menjumpai pemogokan sopir dan awak bus jurusan Malang-Kediri. Meskipun dengan uang seadanya, yang hanya cukup untuk perjalanan pergi dan pulang saja. Sehingga momen penting itu hanya bisa kami lakukan di beranda kostnya, berseberangan jalan dengan masjid. Dan hanya ditemani suguhan segelas teh hangat buatannya.
Dan hari-hari berikutnya adalah hari yang penuh perjuangan untuk mempertahankan ikatan janji itu. Godaan, rintangan dan hambatan terus menghadang seolah tiada henti. Perjuangan yang memang sangat melelahkan. Dan, syukurlah, kami dapat saling menguatkan ketika salah satu dari kami sedang lemah dan lelah.
Maka, pagi menjelang siang pada 4 Juli 2006 adalah awal dari perjalanan baru bagi kami. Di masjid kecil di depan rumahnya, pernikahan dapat kami lalui bersama. Ada senyum, ada isak tangis. Ada napas lega. Ada janji. Ada ikatan, serta kebebasan. Juga ada mas kawin yang kuserahkan. Ada juga Mas Romdlon yang memegang punggungku sesaat sebelum akdun-nikah. Ada teman-teman seperjuangan di Candi Sewu 5A. Ada juga, kedua guru spiritual istriku, yang kusempatkan untuk mencium tangan mereka sebagai tanda bahwa kami ingin terus memperoleh bimbingan dari mereka berdua.
Dan pada pagi hari itu, pukul 05.35 Rabu 30 Juni 2010, istriku berhasil melahirkan putri kami yang kedua. Sebuah kelahiran yang baru kali ini kusaksikan secara langsung. Memang ketika itu aku tidak berada di sampingnya persis. Ketika seorang bidan berada di depan pintu kelahiran, dan seorang bidan lagi membantu mendorong dari arah perut, aku bergeser di belakang bidan pertama.
Dan aku menyaksikan kepala anakku, yang berambut lebat, mendesak ingin keluar. Mungkin sekitar semenit proses keluarnya kepala anakku itu. Kulihat istriku sangat kepayahan. Maka kudesak bidan kedua yang berada di samping istriku. Kupegang tangan istriku untuk sekedar menunjukkan kepadanya bahwa aku ada bersamanya. Antara berbisik dan berteriak, kuminta istriku tetap bersholawat di tengah upayanya.
Hingga beberapa saat kemudian, kudengar tangis keras anakku. Kulihat mata istriku terpejam. Nafasnya halus satu satu. Ada raut lega di sisi atas matanya. Segera kusambut anakku yang diletakkan bidan di atas perut ibunya. Kubisikkan salam sambil kusentuh pelan tangannya. Tangisnya belum berhenti. Sebuah tangis yang menandakan bahwa ia sehat.
Sebuah tangis yang kini sedang kurindukan.
Batu, 060710. 15.29
Drama China banyak mendapatkan banyak penonton di Indonesia, fenomena ini berangkat dari kemudahan a...
Sosok Khidr dalam sejarah spiritualitas Islam memang sangat unik. Kisah-kisah mengenainya termaktub ...
Ada masa ketika tawa diproduksi oleh sistem. Lampu studio menyala, kamera mengarah ke panggung, dan ...
Sekian puluh tahun silam, di Bulan Ramadhan, kuingat Bapak mengajariku bermain catur untuk pertama k...
Aku ingat, beberapa saat setelah memiliki laptop seken baru, Rian kutanya, “Di mana kau simpan...
Menurut beberapa teman, instingku hebat. Alasan mereka, karena aku bisa tahu buah mangga di depan Av...

Belum ada komentar.