AveSticker

Kunci Utama Pengembangan Pertanian 4.0

Oct 14 2021131 Dilihat

Industri 4.0 ditandai dengan banyaknya sektor industri yang menerapkan sistem otomatisasi mesin, penggunaan robot, internet of things, dan kecerdasan buatan (artificial inteligence). Namun berbeda dengan konsep industri 4.0, revolusi pertanian 4.0 dalam gagasan ini menerapkan sinergitas antara multi-aktor yang terlibat di dalam sektor pertanian mulai dari aspek hulu sampai ke hilir.

Konsep ini mengundang keterlibatan stakeholder pertanian seperti pemerintah (baik di tingkat pusat sampai ke tingkat desa), pelaku bisnis, penyedia jasa, hingga para petani. Keterlibatan pemuda juga perlu untuk memunculkan kepedulian terhadap pertanian Indonesia melalui startup-startup baru di bidang pertanian. Terobosan dalam mengintegrasikan antara aspek pertanian dengan teknologi dapat menjadi modal dalam menyiapkan diri menghadapi era yang serba digital.

Peran pemuda dalam pertanian 4.0 via Jurnalagro

Keterlibatan multi aktor ini akan dibungkus dalam wadah kesukarelawanan dengan menyempatkan perhatian mereka untuk memecahkan masalah-masalah seputar pertanian dengan mengambil peran masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Konsep kesukarelawanan ini tentunya sudah tidak asing lagi di Indonesia. Peristiwa yang membutuhkan banyak bantuan seperti di Gaza, Palestina, lalu bencana yang terjadi di Lombok, NTB, konsep crowd funding seperti kitabisa.com yang mempertemukan antara penerima dan pemberi donor lebih mudah dan praktis, serta agenda penyuksesan ajang olahraga terbesar se-Asia yaitu Asian Games 2018 juga melibatkan banyak sukarelawan. Oleh karena hal tersebut, Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah relawan terbesar nomor dua di dunia.

Charities Aid Foundation World Giving Index 2017 merilis daftar negara-negara dengan masyarakat yang paling dermawan dari seluruh dunia. Penilaian yang dilakukan oleh CAF sendiri berdasarkan pada tingkat intensitas para masyarakat yang berada di suatu negara dalam menolong orang lain, mendonasikan uang serta banyaknya masyarakat suatu negara menjadi relawan. Dengan angka 79% dalam hal berdonasi serta jumlah 55% masyarakat Indonesia yang menjadi relawan membuat Indonesia sukses mengalahkan negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan Belanda dengan total poin 60 hasil dari akumulasi tingkat kepekaan menolong orang lain (idntimes.com).

Seiring dengan berkembangnya zaman, masih banyak masyarakat Indonesia khususnya pada golongan muda yang masih peduli dengan nasib pertanian negaranya. Kita lihat saja dengan semakin banyakya startup-startup yang muncul di Indonesia, terdapat lebih dari 15 startup yang bergerak di bidang pertanian. Sebut saja iGrow, Tanihub, RegoPantes, Kecipir, Investree, Eragano, 8Villages, SayurBox, Simbah, Pantau Harga, Karsa, Lima Kilo, SiKumis, Crowde, CI-Agriculture, Habibi Garden, dan PanenID, Semua startup tersebut mengambil peran masing-masing untuk memberikan harga yang pantas bagi petani, memotong panjangnya rantai distribusi dari petani ke konsumen, memberikan modal pinjaman dalam bentuk investasi per tanaman, rekomendasi masa tanam sesuai jenis lahan dan cuaca, serta konsultasi seputar masalah pertanian dengan para pakar. Bahkan salah satu satu startup yaitu CI-Agriculture (Collective Intelligence-Agriculture) sudah menerapkan sistem internet of things yang banyak diterapkan dalam konsep industri 4.0.

Digitalisasi dan Industri 4.O di bidang pertanian via Pse Litbang Pertanian

Pertanian 4.0 akan berisi orang-orang yang dengan sukarela memberikan bantuan sesuai dengan kapasitasnya untuk memajukan pertanian di Indonesia. Konsep gotong-royong yang banyak digaungkan sebagai ciri khas negara ini akan menjadi suksesor utama dalam terciptanya pertanian 4.0. Sinergitas antara petani, investor atau pemodal, pakar di bidang pertanian, pakar di bidang teknologi, penyedia jasa serta pemerintah dibutuhkan dalam mewujudkan pertanian yang terintegrasi dengan teknologi sehingga dapat dikerjakan dengan lebih praktis, efektif dan efisien. Pengintegrasian antara pengetahuan pertanian dengan teknologi juga akan menjadi modal Indonesia dalam menghadapi era digital, borderless era, industry 4.0.

Penulis; Dimas Maulana

Share to

Topik Terkait

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Mei, Libur dan Kewajiban untuk Terlihat ...

by May 02 2026

Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top