AveSticker

Komedi Bedhes, Seberapa Miripkah Kita?

Sep 05 2010912 Dilihat

Mungkin saja benar Darwin yang bilang manusia ada kaitan erat sama monyet, khususnya dalam hal ini monyet dalam sirkus topeng monyet. Si kera mungil itu bukanlah lakon. Ia yang ditertawakan anak-anak kecil dan orang dewasa yang berkeliling sekitar arena itu sekedar obyek. Subyeknya adalah orang yang memberi titah, si empunya komedi topeng monyet.

Komedi bedhes, topeng monyet, tandhak bedhes, sirkus monyet, begitu orang sering menyebut.

Sore ini saya keluar rumah dan mendapati tukang komedi monyet menawarkan jasanya di depan rumah. Mengingat lebaran yang makin dekat dan berkeinginan untuk membahagiakannya (baik monyet, pemiliknya, saya sendiri, dan tentu anak-anak saya) saya membooking-nya untuk sekalimain. Tarifnya Rp. 10.000,-

Sepanjang monyet beraksi, saya tak henti berpikir, begitulah nasib kita orang miskin. Selalu dianiaya oleh mereka yang merasa kaya dan memiliki kendali lebih atas segala sesuatu. Kita patuh terhadap semua keinginan dan perintah orang-orang asing, dengan argumentasi sangat sederhana: Kita butuh makan.

Kita korbankan harga diri di hadapan Malaysia. Kita gadaikan semua milik kita kepada bangsa-bangsa maju. Kita tahu kita ditipu, tapi kita tidak bisa menolak, karena sekali menolak kita diancam tidak diberi makan. Mau mampus kalau nggak mau ikut skenario? Begitulah kita. Setidaknya umumnya tauladan yang dipertunjukkan para punggawa negeri ini.

Bila kini kita semua menyadari kalau sumber alam kita sudah hampir habis, mungkin jawabannya seperti juga alur drama komedi bedhes ini. Ada kemiripan skenario. Ialah sang monyet diajari naik sepeda, diberi nama Juminten, diajari dan diperintah pergi ke pasar, diajari cara membeli, dan setelah itu semua berakhir, sang monyet kembali masuk kandang.

Di akhir pertunjukan, saya meyakinkan, setidaknya diri saya sendiri, sedang melakoni sebuah pertunjukan topeng monyet. Berpura-pura bisa segalanya sesuai titah, dan tanpa sadar sebetulnya kita dimasukkan ke kandang juga oleh mereka.

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Menakar Electoral Threshold dalam Rancan...

by Jul 09 2026

Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...

Asia Datang Beramai-Ramai, Pulang Bersam...

by Jul 05 2026

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...

Afrika Tidak Kehilangan Bakat, Afrika Ke...

by Jun 28 2026

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang beran...

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top