AveSticker

Komedi Bedhes, Seberapa Miripkah Kita?

Sep 05 2010856 Dilihat

Mungkin saja benar Darwin yang bilang manusia ada kaitan erat sama monyet, khususnya dalam hal ini monyet dalam sirkus topeng monyet. Si kera mungil itu bukanlah lakon. Ia yang ditertawakan anak-anak kecil dan orang dewasa yang berkeliling sekitar arena itu sekedar obyek. Subyeknya adalah orang yang memberi titah, si empunya komedi topeng monyet.

Komedi bedhes, topeng monyet, tandhak bedhes, sirkus monyet, begitu orang sering menyebut.

Sore ini saya keluar rumah dan mendapati tukang komedi monyet menawarkan jasanya di depan rumah. Mengingat lebaran yang makin dekat dan berkeinginan untuk membahagiakannya (baik monyet, pemiliknya, saya sendiri, dan tentu anak-anak saya) saya membooking-nya untuk sekalimain. Tarifnya Rp. 10.000,-

Sepanjang monyet beraksi, saya tak henti berpikir, begitulah nasib kita orang miskin. Selalu dianiaya oleh mereka yang merasa kaya dan memiliki kendali lebih atas segala sesuatu. Kita patuh terhadap semua keinginan dan perintah orang-orang asing, dengan argumentasi sangat sederhana: Kita butuh makan.

Kita korbankan harga diri di hadapan Malaysia. Kita gadaikan semua milik kita kepada bangsa-bangsa maju. Kita tahu kita ditipu, tapi kita tidak bisa menolak, karena sekali menolak kita diancam tidak diberi makan. Mau mampus kalau nggak mau ikut skenario? Begitulah kita. Setidaknya umumnya tauladan yang dipertunjukkan para punggawa negeri ini.

Bila kini kita semua menyadari kalau sumber alam kita sudah hampir habis, mungkin jawabannya seperti juga alur drama komedi bedhes ini. Ada kemiripan skenario. Ialah sang monyet diajari naik sepeda, diberi nama Juminten, diajari dan diperintah pergi ke pasar, diajari cara membeli, dan setelah itu semua berakhir, sang monyet kembali masuk kandang.

Di akhir pertunjukan, saya meyakinkan, setidaknya diri saya sendiri, sedang melakoni sebuah pertunjukan topeng monyet. Berpura-pura bisa segalanya sesuai titah, dan tanpa sadar sebetulnya kita dimasukkan ke kandang juga oleh mereka.

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top