AveSticker

Pancasila dan Soekarno

Nov 08 2010310 Dilihat

Pancasila sebagai ideologi sedang mengalami tantangan yang berat. Paham baru muncul, ideologi dipertentangkan, wacana diperdebatkan. Masihkah kita berprinsip pada pancasila? Euforia reformasi membuka wacana-wacana baru dalam proses berpikir manusia. Salah satu mazhab paling massiv yang sedang dihadapi manusia Indonesia adalah globalisasi. Dengan paham free market dan liberalismenya paham ini berusaha memasuki relung dan segi kehidupan manusia dengan aturan homogenisasi dan standarisasi. Belum lagi paradigma individualisme dan sikap oportunis yang acap kali membuat kita lupa tentang arti nasionalisme, pancasila, kerakyatan dan persatuan. Globalisasi sebagai wujud budaya baru niscaya akan mengkikis paradigma nasional kita, pancasila.
Keniscayaan tentang ideologi murni dalam negara kita memang sulit untuk dicari. Namun setidaknya pikiran nenek moyang pendahulu kita dalam membentuk konsep negara sungguh manakjubkan. Penyatuan pemuda intelektual menghasilkan rasa nasionalisme yang tinggi. Bahkan Soekarno berhasil menelaah apa itu kolonialisme, imperialisme  dan mengapa kita harus antikolonialisme seta mengapa penting untuk kita membuat ideologi sendiri. Dalam pidato Indonesia Mengggugat dikatakan: “Tetapi apa arti imperialisme? Imperialime juga suatu faham, imperialime juga suatu pengrrtian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan pada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnenlandsch bestuur (pegawai pamong praja pemerintahan Belanda) bukan pemerintah, bukan gezag (kekuasaan), bukan badan apapun juga. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri. Suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negari bangsa lain”.
Soekarno berhasil mewacanakan apa itu imperialis dan mengapa kita harus menolak imperialis. Penting juga kita menolak paham tersebut dengan paham lain. Paham yang berasal dari hakikat manusia Indonesia, merupakan substansi dari kehidupan ras, agama, budaya yang plural, merupakan paham yang mengikat pada persatuan, rakyat yang adil, merupakan paham pada berkeTuhanan dan berkemanusiaan serta berkerakyatan. Melebur menjadi asaz PANCASILA.

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang. Pernah bekerja par time di Komunitas Averroes.

Topik Terkait

Kisah Nabi Sulaiman dan Program MBG Prab...

by Mar 10 2026

Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam yang dianugerahi kekayaan melimpah oleh Allah SWT merupakan kisah i...

John Herdman dan Harapan Baru Garuda

by Mar 07 2026

Indonesia selalu haus akan arah. Bukan sekadar kemenangan instan. Bukan sekadar trofi yang datang da...

Beberapa Hal yang Harus Dilakukan Jika P...

by Feb 28 2026

Marahnya perempuan bukan sekadar emosi. Ia adalah event. Bisa muncul tiba-tiba, bertahan lama, dan m...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Nelangsa Si Palu

by Feb 23 2026

Suatu ketika si Palu atau bahasa Jawanya disebut “petil atau amer”sedang merenung akan nasibnya....

Rokok Non Cukai dan Celah yang Terbuka

by Feb 22 2026

Di balik etalase warung, di bawah meja kayu yang catnya sudah mengelupas, bertumpuk bungkus rokok ta...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top