AveSticker

Pancasila dan Soekarno

Nov 08 2010362 Dilihat

Pancasila sebagai ideologi sedang mengalami tantangan yang berat. Paham baru muncul, ideologi dipertentangkan, wacana diperdebatkan. Masihkah kita berprinsip pada pancasila? Euforia reformasi membuka wacana-wacana baru dalam proses berpikir manusia. Salah satu mazhab paling massiv yang sedang dihadapi manusia Indonesia adalah globalisasi. Dengan paham free market dan liberalismenya paham ini berusaha memasuki relung dan segi kehidupan manusia dengan aturan homogenisasi dan standarisasi. Belum lagi paradigma individualisme dan sikap oportunis yang acap kali membuat kita lupa tentang arti nasionalisme, pancasila, kerakyatan dan persatuan. Globalisasi sebagai wujud budaya baru niscaya akan mengkikis paradigma nasional kita, pancasila.
Keniscayaan tentang ideologi murni dalam negara kita memang sulit untuk dicari. Namun setidaknya pikiran nenek moyang pendahulu kita dalam membentuk konsep negara sungguh manakjubkan. Penyatuan pemuda intelektual menghasilkan rasa nasionalisme yang tinggi. Bahkan Soekarno berhasil menelaah apa itu kolonialisme, imperialisme  dan mengapa kita harus antikolonialisme seta mengapa penting untuk kita membuat ideologi sendiri. Dalam pidato Indonesia Mengggugat dikatakan: “Tetapi apa arti imperialisme? Imperialime juga suatu faham, imperialime juga suatu pengrrtian. Ia bukan sebagai yang dituduhkan pada kami itu. Ia bukan ambtenaar binnenlandsch bestuur (pegawai pamong praja pemerintahan Belanda) bukan pemerintah, bukan gezag (kekuasaan), bukan badan apapun juga. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri. Suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negari bangsa lain”.
Soekarno berhasil mewacanakan apa itu imperialis dan mengapa kita harus menolak imperialis. Penting juga kita menolak paham tersebut dengan paham lain. Paham yang berasal dari hakikat manusia Indonesia, merupakan substansi dari kehidupan ras, agama, budaya yang plural, merupakan paham yang mengikat pada persatuan, rakyat yang adil, merupakan paham pada berkeTuhanan dan berkemanusiaan serta berkerakyatan. Melebur menjadi asaz PANCASILA.

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang. Pernah bekerja par time di Komunitas Averroes.

Topik Terkait

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Mei, Libur dan Kewajiban untuk Terlihat ...

by May 02 2026

Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top