Ronall J Warsa • Feb 05 2026 • 266 Dilihat

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan
Suatu pagi. seusai pelaksanaan natal tepatnya pada Minggu (27/12/15). Nampak kaki-kaki tegap melangkah seirama sehingga menghasilkan debu tanah yang naik ke udara sebagai pengiring. Tangan-tangan kekar mengusung perahu naga, yang memiliki panjang hingga 10 meter lebih menuju pinggiran Sungai Wahau Kecamatan Kongbeng, Kalimantan Timur.
Terlihat wajah-wajah penuh kebanggaan para pria, dari tiap-tiap Rukun Tetangga (RT). Belasan perahu diturunkan secara bergotong-royong. Guna mengikuti lomba perahu naga, yang dilaksanakan satu tahun sekali di penghujung tahun.
Lomba ini merupakan salah-satu lomba, yang dilakukan secara serempak dilakukan dalam satu agenda besar adat Dayak Kayan di Miau Baru. Beriringan dengan kegiatan natal dan tahun baru. Momentum yang luar biasa, bagi warga penganut agama nasrani maupun penganut agama lain.
Kegiatan ini ialah murni, untuk menjaga tradisi nenek moyang mereka. Sebagaimana kisah awal kedatangan suku dayak, yang menempati daerah pedalaman Kalimantan Timur hingga Kalimantan Tengah.
Sungai Wahau adalah urat nadi warga sejak lama. Selain menjadi sarana perpindahan, manusia sejak ratusan tahun lalu untuj mengisi tiap daratan di Kalimantan. Sungai tersebut menjelma bak seorang Dewi. Keberadaanya selain menjadi jalur transportasi, juga mengerakkan laju perkembangan peradaban hingga derajat hidup masyarakat setempat.
Walau pada kenyataan di masa sekarang, perubahan besar telah terjadi. Dimana jalur transportasi darat, telah merubah arus laju urat nadi mobilitas warga pedalaman. Selain dinilai lebih lebih ekonomis, dimana mampu memotong jarak tempuh dengan hitungan jam bukan lagi hitungan hari. Hal tersebut beriringan dengan makin merebaknya percepatan tumbuh sektor perkebunan kelapa sawit, maupun sektor-sektor lainnya di Kabupaten Kutai Timur.
Suku Kayan yang mendiami Miau Baru diyakini masih memiliki hubungan dengan rumpun Apo Kayan, Kenyah dan Bahau yang berasal dari Serawak, Malaysia.
Dalam migrasi yang melibatkan ratusan manusia itu, dilakukan oleh Rumpun Apo Kayan dengan waktu mendiami wilayah Kaltim dan Kalteng pada 300 tahun lalu, dimana anak keterunannya juga masuk ke Muara Wahau. Adapun penduduk Miau Baru sendiri masuk dibawa oleh para tetua adat membuka ladang dan bermukim di tempat tersebut, antara tahun 1964 – 1965.

BERSIHKAN: Nampak perahu dibersihkan oleh salah-satu kelompok pendayung pada pagi hari, untuk kemudian dipergunakan pada sore harinya.
“Warga menurunkan perahu naga dari tiap-tiap RT, dengan berbagai macam motif ukiran. Perahu naga tidak saja melambangkan kekuatan para pendayung pria tetapi juga mengisahkan bagaimana kesetiaan nenek moyang kami pada alat transportasi yang menjadi alat penyebaran Suku Apo Kayan menyebar ke berbagai daerah pedalaman di Kaltim,”ungkap Arang Djau, salah-satu tetua dan panitia acara.
Dijelaskannya, pada pagi hari masyarakat ramai ke gereja untuk melaksanakan kebaktian. Sore harinya, baru seluruh warga turun ke sungai. Menyaksikan seluruh perwakilan mereka baik itu lelaki dan perempuan, yang mengikuti lomba dayung dari arah hulu sungai hingga hilir sungai.
Kongbeng adalah salah-satu kecamatan di Kutim, yang merupakan pecahan dari kecamatan Muara Wahau. Sudah barang tentu, ada banyak hal yang menarik untuk dijadikan faktor pendukung pengembangan pariwisata di pedalaman.
Hingga sekarang banyak orang hanya mengenal Muara Wahau, dengan Suku Dayak Wehea-nya sebagai sebuah entitas atau pusat budaya warga dayak. Ternyata disebelah utara kecamatan tersebut, ada entitas lain yang tidak kalah menarik dari suku dayak Wehea itu sendiri.
Bayangkan beragam kebudayaan itu dijadikan sumber-sumber keragaman antropologis, yang membuat wisatawan asing maupun dalam negeri tertarik berkunjung ke Kutim. Kutai Timur kaya akan sejarah, seni budaya serta keindahan alamnya.
Potensi besar tersebut memang belum digarap secara maksimal, namun tidak menutup kemungkinan ke depan saat destinasi wisata laut maupun perkotaan menjadi sebuah kebosanan. Maka wisata entitas warga pedalaman akan menyeruak masuk sebagai alternatif luar biasa untuk paket wisata, pundi-pundi baru bagi pemasukkan kas daerah.
Ketika terik matahari masih terasa sombong untuk menantang penduduk bumi beraktifitas, tepatnya pukul 13.00 Wita. Perahu-perahu yang berjajar di pinggiran sungai, mulai terisi oleh para pendayung tangguh baik itu untuk kelompok pria maupun wanita.
Pelan-pelan sisi sungai dipenuhi oleh manusia yang histeris melihat kemampuan tiap kelompok pendayung yang mengarahkan laju perahu naga ke arah hilir sungai.
“Tontonan yang tidak membosankan, karena perlombaan ini membuat seluruh desa bagai berperang dalam arus deras untuk memacu Sang Naga tiba di garis finish. Yang ditandai oleh bentangan tali merah dari pinggiran kampung Miau Baru hingga ke seberang sungai. Konsep kegiatan yang berlangsung sejak puluhan tahun lalu, digarap menarik oleh warga setempat yang dengan suka rela dan gotong royong mengadakan kegiatan disela-sela acara natal hingga tahun baru,” ungkap Irsandi Setiawan salah-seorang penikmat kegiatan budaya asal Bontang. (BERSAMBUNG)
NB; Telah terbit di Surat Kabar Harian (SKH) Bontang Post medio 2015.
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...
Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tem...
“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go ...
Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...

Belum ada komentar.