Alim Mustofa • Mar 10 2026 • 289 Dilihat

Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam yang dianugerahi kekayaan melimpah oleh Allah SWT merupakan kisah inspiratif yang layak menjadi pembelajaran bagi umat Islam khususnya dan seluruh manusia pada umumnya.
Kedermawanan Nabi Sulaiman terhadap rakyatnya dan seluruh makhluk di bumi sudah tidak diragukan lagi keikhlasannya. Bahkan konon setiap hari beliau selalu menyediakan makanan gratis bagi seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya dengan menyembelih ribuan unta, ribuan kambing, dan ribuan sapi.
Hingga pada suatu hari Nabi Sulaiman berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberikan izin untuk memberi makan seluruh makhluk yang ada di bumi. Akan tetapi Allah SWT tidak langsung mengabulkan doa Nabi Sulaiman seraya menjawab, “Sungguh, engkau Sulaiman tidak akan mampu.”
Nabi Sulaiman tidak menyerah begitu saja. Beliau kembali memohon agar diizinkan memberi makan seluruh makhluk di bumi. Kemudian Allah SWT mengabulkan doa Nabi Sulaiman tersebut.
Selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan seluruh pasukannya, baik dari bangsa manusia maupun dari bangsa jin, untuk menyediakan makanan yang konon lebarnya sejauh satu bulan perjalanan, begitu pula panjangnya satu bulan perjalanan.
Allah SWT kemudian bertanya kepada Sulaiman, “Lalu makhluk manakah yang akan memulai memakan hidangan yang kamu sediakan?”
Nabi Sulaiman menjawab, “Mereka yang ada di darat dan di laut.”
Singkat cerita, Allah SWT memerintahkan salah satu makhluk besar dari golongan ikan untuk memakan sajian Nabi Sulaiman. Alangkah terkejutnya Nabi Sulaiman ketika semua makanan yang disajikan dilahap habis, dan makhluk tersebut berkata, “Wahai Sulaiman, perutku masih lapar.”
Sepenggal kisah ini lantas mengingatkan penulis pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan saat ini. Program yang digagas oleh pasangan Prabowo–Gibran pada Pilpres 2024 merupakan tujuan mulia dari seorang pemimpin dalam keinginannya melayani masyarakat, dalam rangka menyiapkan generasi unggul dengan menyediakan makanan bergizi yang dapat langsung dinikmati oleh siswa SD, SMP, dan SMA/SMK.
Pemerintah menyadari pentingnya menciptakan generasi unggul yang memiliki daya saing, dimulai dari bagaimana negara hadir merawat setiap generasi sejak dini. Tanpa asupan gizi yang cukup tentu akan memengaruhi tumbuh kembang fisik, mental, dan perkembangan otak generasi bangsa ini.
Demi mewujudkan program ini, pemerintah tentu memerlukan dukungan anggaran yang besar hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Hal ini tidak mudah, bagaimana anggaran tersebut dapat digali dan disediakan untuk mendukung program MBG.
Menurut beberapa sumber, kebutuhan anggaran untuk 82,9 juta penerima manfaat mengharuskan pemerintah menyiapkan hampir Rp420 triliun selama satu tahun (CNBC Indonesia, 6/1/2025).
Besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk mendukung program MBG mendorong pemerintah untuk memutar otak agar kebutuhan dana tersebut dapat dipenuhi. Di antaranya mungkin dengan melakukan efisiensi anggaran di semua kementerian dan di berbagai pos anggaran demi menyukseskan program tersebut.
Efisiensi anggaran memang cukup baik sepanjang tidak mengganggu program strategis lainnya.
• Jangan sampai efisiensi anggaran kemudian berdampak pada kualitas layanan pemerintah kepada masyarakat.
• Jangan sampai efisiensi anggaran kemudian menghilangkan hak-hak publik lainnya, seperti kelangkaan LPG 3 kg bagi masyarakat menengah ke bawah.
• Jangan sampai efisiensi anggaran kemudian berdampak pada PHK pegawai.
• Jangan sampai efisiensi anggaran menyebabkan kenaikan BBM bersubsidi bagi kalangan bawah.
• Jangan sampai efisiensi anggaran kemudian menyebabkan melemahnya lembaga peradilan (MK, KPK, MA, Kejaksaan, dan lain-lain).
• Jangan sampai efisiensi anggaran kemudian menyebabkan tergerusnya program strategis di bidang pendidikan.
Pertanyaannya, mampukah pemerintah melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama periode lima tahun ke depan? Adakah alternatif lain untuk program pemenuhan gizi bagi anak usia sekolah?
MBG sebagai program ambisius perlu dicarikan kembali formulanya, mengingat program pemenuhan gizi bagi siswa ini juga rawan kebocoran dan monopoli dalam pengadaannya. Jangan sampai program ambisius ini justru memunculkan kartel korupsi yang tersistematis dan dikelola oleh kepentingan politik, yang pada akhirnya merugikan kepentingan yang lebih besar.
Jika Nabi Sulaiman pernah memohon kepada Allah SWT untuk memberi makan seluruh makhluk, namun kemudian menyadari bahwa hal tersebut sangat ambisius, maka tidak ada salahnya jika pemerintah kembali memformulasikan program MBG dalam bentuk lain yang lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran, serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap program strategis nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Alumni S-2 FIA Univ. Brawijaya Malang. Berorganisasi di KOMDEK Malang, Averoes Community, Lakpesdam NU Kota Malang s/d GP ANSOR Jawa Timur. Pernah bekerja di Panwaslu Kecamatan 2008, Pimred Pandanwangi Newsletter 2010, Jurnalis NIMD Belanda & KID Jakarta, Komisioner KPU Kota Malang 2009-2014, Dewan Riset Daerah Kota Malang dll
Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...
Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...
Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...
Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...
Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...
Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Belum ada komentar.