Heri Setiyono • Jan 23 2026 • 193 Dilihat

Sekian puluh tahun silam, di Bulan Ramadhan, kuingat Bapak mengajariku bermain catur untuk pertama kali. Awalnya, kuingat aku ogah. Mengapa susah-susah mikir kayu? Tapi Bapak tidak mau tahu alasanku. Digelarnya kotak catur dan disuruhnya aku menata bidak-bidak hitam sesuai dengan bidak-bidak putih yang telah ditatanya. Lantas, lisan dan tangannya bergerak sinergis menerangkan ilmu catur. Seperti penari yang melantunkan tembangnya sekaligus. Seperti Pendekar Syair Berdarah, yang dengan Pedang Bulan Sabit Kembar, melawan musuhnya dengan menyanyikan syair-syair kemenangan.
Tentang pendekar, aku ingat betapa Bapak ingin mengajariku karate dulu. Dia memang pemegang sabuk hitam karate. Banyak foto-fotonya yang bercerita mengenai beberapa kejuaraan karate yang pernah diikutinya. Kebanyakan foto-foto itu sudah buram, seburam kegagalannya untuk mengajariku karate. Aku cuman malas saja ketika itu. Lagipula, aku merasa tidak punya musuh. Untuk apa belajar ilmu bela diri jika tidak punya musuh? Dan ternyata aku memang salah.
Bapak juga seorang pelatih tenis. Tapi, olahraga itu dilakukannya untuk mencari nafkah. Semasa masih menjadi tenaga honorer di Pemda (sekarang Pemkot) Surabaya, Bapak kerap diminta melatih pejabat-pejabat yang ingin cakap bermain tenis. Syamsul Hadi Siswoyo, mantan Bupati Jember yang sekarang dipenjara, adalah salah satu murid tenisnya. Akupun ingin dijadikannya sebagai pemain tenis, tapi kutolak. Tapi, belakangan ini aku menyesal menolak diajari Bapak tenis. Andaikata waktu itu aku bersedia diajari tenis, pasti aku sudah kenal baik dengan Maria Sharapova sekarang ini.
Tapi aku tidak menolak ketika Bapak mengajariku tentang Wayang dan kisah semua tokoh didalamnya. Aku ingat, seringkali malam-malam kami berdua duduk di teras rumah. No nikotin dan no kafein untukku saat itu. Bapak? Pasti sebungkus Djisamsoe dan segelas kopi menjadi temannya diskusi selain aku. Semua dia hafal dan paham betul semua cerita wayang, dan malam-malam itu seolah dia kucurkan semuanya padaku. Kadang, cerita-cerita itu dilantunkannya sambil mengajariku bermain catur.
Wayang dan catur, aku jadi teringat Kresna. Raja lemah lembut, bijak dan welas asih itu berubah licik, culas dan kejam ketika memihak Pandawa melawan Kurawa dalam peperangan Bharatayudha. Itu yang masih kuingat dari Bapak: “Awakmu harus welas asih dan jadi pengayom teman-teman dan saudara-saudaramu. Tetapi ketika berhadapan dengan musuh, jangan ciutkan hati. Hadapi mereka tanpa perlu merasa kasihan.”
Ketika sudah agak besar, aku baru sadar bahwa kalimat itu adalah mantra Aji Lembu Sekilan…
(rindu)
Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...
Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...
Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...
Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...
Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...
Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Belum ada komentar.