AveSticker

Era Berakhirnya Setan

Dec 13 2016883 Dilihat

takut setan

Anda tahu pocong? kuntilanak? gandaruwo?
Kalian yang termasuk generasi Y pasti tahu, entah kalo generasi Z.

Nah kalau Wewegombel? Jangkonet? Wedon? Banaspati?
Hmmm sepertinya nama-nama setan seperti ini sudah tidak femes lagi, apalagi buat generasi Y.

Nama-nama setan yang Sange (red: sangat nge-hits) seperti pocong, kuntilanak, dan ganderuwo sudah kehilangan substansi kengeriannya. Hal ini disebabkan oleh para ‘bakul’ film yang menjual nama-nama hits mereka dengan mendiferensiasi seenakudelnya dalam membuat judul film. Seperti Pocong Insaf, Kuntilanak Ngesot, Ganderuwo Sunat dan sebagainya. Inilah kurang ajarnya para bakul film, selain itu mereka juga tak pernah membayar royalti atas penjualannya. Eh jangankan bayar, izin aja sepertinya tidak pernah.

Padahal dahulu, setan-setan tersebut punya jasa besar dalam membentuk akhlak anak-anak dan remaja. Para setan tersebut bersatu untuk menakut-nakuti ketika malam agar anak tidak berani keluar larut malam. Menakut-nakuti agar anak bersikap jujur dalam sehari-hari, jika tidak maka akan dibawa ganderuwo ke atas pohon bambu. Kalau sekarang malah kebalikannya, orang sering keluar larut malam, kalau siang malah takut. Ga percaya? Liat saja di Songgoriti, ramenya pasti malam hari.

Nilai inilah yang sering ditanamkan oleh mbah-mbah kita terdahulu, setan digambarkan sebagai sosok menakutkan guna memberi batasan kita agar selalu was-was dan hati-hati dalam setiap tindak-tanduk. Bukan hanya sebatas seram-seraman belaka, tapi ada nilai yang terkandung di dalamnya. Sayangnya para bakul film tak peduli akan hal itu, yang penting adalah pemasukan, dampak terhadap masyarakat mah belakangan.

Hilangnya ‘image’ serem para setan juga diperparah oleh era teknologi yang semakin menggila, remaja masa kini lebih takut jika kehabisan kuota atau kehilangan follower di media sosialnya, dari pada kehilangan nyali ketika lewat kuburan atau tempat menyeramkan lainnya.

Kini, doktrin seramnya setan hanya dianggap sebatas mitos, kuno, dan tidak modern. Sehingga masalah mistis hanya sebagai obrolan pengisi kekosongan belaka, substansi kengeriannya sudah punah bersama nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya. So, dengan berani saya menyimpulkan bahwa era setanisme sudah berakhir.

Terakhir, untuk para bakul film, youtuber, kreator film pendek, berhentilah kalian membuat film yang semakin mendiskreditkan nama-nama seram setan menjadi humor tanpa makna hanya demi kantong belaka. Saya berharap jangan ada lagi judul film horor seperti Kegalauan Pocong Perawan, Kuntilanak Mencari Jodoh, Ganderuwo Nyalon DPR, Tuyul Ingin Disunat dan sebagainya.

Netizens yang terhormat, mari kita kembalikan esensi nama setan seperti sedia kala, jangan malah turut mendisfungsikan mereka.

Sekian, selamat malam.

 

 

Sumber gambar: setipe.com

Share to

Alumni Unibraw Malang, relawan dari beberapa LSM. Sekarang menempuh studi di luar negeri.

Topik Terkait

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top