AveSticker

Lailat al Qodr: Maleman dan Tradisi Weweh

Sep 06 20101.119 Dilihat

Selepas Maghrib tadi, seorang sahabat lama mengirimkan sms yang bunyinya, “Yan, ono berita, engko bengi wayahe lailat al qodr. Menurut Imam Al Ghozali, jika awal Ramadhan jatuh pada hari Rabu kemungkinan besar lailat al Qodar jatuh pada malam 29. Sing tak beritakno iki mau berita soko alam ghaib. Kemungkinan besar Ramadhan kali ini jatuh pada malam 27”. Sahabat lama yang kini bermukim  di Paciran, Lamongan tersebut memang kukenal sebagai sosok yang alim dan ahli ibadah. Kabar seperti ini tentu cukup menggembirakan dan bisa memacu semangat bagi orang awam seperti saya yang menjalani hari-hari di bulan suci dengan kualitas ibadah pas-pasan dan keistiqomahan  yang payah. Dengan adanya lailat al qodr, memburu keberkahan dan rahmat di bulan ini masih terbuka amat luas dengan cara mengoptimalkan “karya” di hari yang tepat.

Lailat al Qodr atau malam kemulian adalah hari istimewa yang dinanti kaum muslimin di Bulan Ramadhan. Dalam satu bulan, lailat al Qodar hanya datang sekali dan kemuliayaannya lebih utama dari seribu bulan (Q.S Al Qodr:2). Tanggalnyapun selalu menjadi misteri karena datangnya tidak dapat diterka dengan pasti tiap tahunnya. Dalam berbagai referensi Kitab Hadits dan  aqwal ulama’, lailat al qodr ditengarai datang pada malam ganjil di 10 hari terakhir bulan ramadhan. Meski demikian, misteri lailat al qodr ini juga merangsang Imam Al Ghozali untuk niteni. Kalau tidak salah, dalam salah satu kitabnya I’anat ath tholibin, Imam Al Ghozali membuat rumus untuk meramalkan lailat al qodr berdasarkan hari jatuhnya awal Ramadhan. Berdasarkan Kitab tersebut, seperti tahun ini, karena ramadhan jatuh pada hari Rabu, maka lailat al qodr akan jatuh pada malam 29 (Rabu malam, 8 September 2010) besok, meskipun  ada saja khabar minor yang berbeda dengan rumus Al Gozali yang salah satunya dari sms sahabat yang sempat saya ungkap di atas.

Keutamaan lailat al qodr telah mendorong para pemburunya untuk menjemput malam penuh door prise ini dengan ritual yang dalam hazanah budaya Jawa-Islam dikenal dengan maleman. Ritus maleman ini umumnya dilakukan dengan memperbanyak tadarrus al Quran, i’tikaf, qiyaam al lail dan sebagainya. Dalam beberapa kultur budaya, maleman juga disambut dengan berbagai ritual khusus contohnya ritual Sesaji Maleman yang tiap tahun digelar oleh Keraton Kesepuhan Cirebon. Kabarnya, di Keraton Jogja momentum ini juga dipapak melalui ritual serupa yang disebut dengan Posoan Selikuran. Dengan ritual khusus tersebut, “upacara penyambutan” lailat al Qodr nampak lebih guyub karena dilakukan secara kumunal (berjamaah).

Selain menggenjot hal-hal yang sifatnya transenden, maleman juga disambut oleh kalangan muslim di Jawa dengan tradisi weweh atau dalam bahasa Jawa Timur Mataraman lebih dikenal dengan istilah ater-ater. Tradisi ini dilakukan dengan cara membagikan masakan siap santap untuk berbuka puasa kepada tetangga atau kerabat dalam wadah rantangan. Rantangan ini biasanya terdiri atas empat rantang. Rantang paling bawah yang biasanta  ukuranna lebih besar diisi dengan nasi, sementara tiga rantang diatasnya diisi dengan lauk. Lauk yang lazim mengisi ketiga rantang tersebut adalah sambel goreng kentang ati, asem-asem buncis, mie goreng Jawa dan kari atau bali yang berisi telor, tahu atau ayam. Biasanya momentum ater-ater ini dipaskan dengan tanggal ganjil, sepuluh terakhir bulan ramadhan. Sayang, tahun ini awal bulan ramadhan antara NU dan Muhammadiyah serempak. Jika tidak (selisih satu hari), menurut pengalaman di masa kecil dulu, tiap hari pasti ada saja yang memberikan ater-ater ke keluarga kami. Sehingga, Ibunda tidak perlu menyiapkan buka puasa, bahkan juga makan sahur, selama sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Banyak cara nampaknya kaum muslimin di negeri ini dalam menyambut lailat al Qodr. Nuansa budaya yang mengiringnya membawa kekhasan tersendiri. Hal ini menjadikan lailat al Qodr tidak hanya membawa dimensi spiritual yang bersifat privat. Akan tetapi juga terartikulasikan secara sosial. Malam lailat al Qodr tidak saja dijemput dengan semangat tadarrus dan sholat malam semata, namun juga gerakan untuk berbagi, bersedekah dan membangun komunikasi dan ruang sosial bersama.

Share to

Alumnus jurusan Matematika Universitas Brawijaya Malang. Menekuni ilmu statistik, matematik dan politik.

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top