Ronall J Warsa • Feb 10 2026 • 57 Dilihat

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak tepat di telinga kiri dan kanannya, secara bergantian.
“Tangi kowe! Lek ora tangi, mesisan kowe keturon. Mingat awak! Amun ndik mingat, tetidur selalu awak,” ucap keduanya*.
Kontan saja itu membuat lelaki muda tersebut, segera tersadar dari pingsannya. Diliriknya arloji, waktu telah menunjukkan pukul 02.12 malam. Sembari menahan rasa nyeri di kepala, ia memaksakan diri untuk bangkit.
Sebelumnya, Niero tengah sibuk menyelesaikan sebuah rancangan proyek yang akan dipresentasikan pada hari Senin depan. Maka ia memilih bertahan di kantor, walau hari telah memasuki liburan akhir pekan.
Ketika hendak berdiri mengambil berkas. Tiba-tiba tubuhnya terasa oleng, kepalanya membentur ujung meja kerja. Disitulah ia kemudian jatuh tersungkur pingsan di lantai.
Usai mengambil napas panjang, lalu meneguk sebotol penuh air mineral. Niero terpikir kembali, pada dua sosok lelaki tua yang membangungkannya dalam mimpi.
Wajah mereka, begitu familiar sekali dalam ingatan. Pernah terlihat dalam ruang perpustakaan pribadi keluarga. Walau tak pernah bertemu secara langsung. Ia mengetahui keberadaan mereka dari kepingan-kepingan ingatan yang dikisahkan orang terdekat.
Pertama melalui kedua neneknya, dari pihak ayah dan ibu. Kedua, lewat kedua orang tuanya. Itupun, hanya sedikit sekali informasi yang dapat diterimanya. Digambarkan sosok kakek dari pihak ayah, berwatak keras dengan tubuh kekar. Sementara sosok kakek dari pihak ibu, berwatak lembut dengan tubuh kurus tinggi.
Tetapi pada dasarnya, sedikit sekali kedalaman keberadaan kedua lelaki tersebut untuk dapat diketahui cucunya. Terlebih kepingan pertama, tersampaikan melalui orang yang kondisinya telah sepuh. Adapun kepingan kedua, hanya memiliki ingatan sebatas memori kebersamaan takkala kecil.
Tak ayal, kenangan mengenai sosok keduanya jauh tak terjangkau. Baik itu dalam kedekatan ruang dan waktu. Namun kedalaman rasa itu begitu aneh, memunculkan sensasi kerinduan yang menggebu-gebu.
Alarm di arlojinya berbunyi, menandakan waktu telah beranjak ke pukul 05.00 pagi. Bergegas Niero menuju toilet kantor. Shower lantas mengalirkan deras kucuran air, membasahi dan membuat segar tubuh pria tersebuf. Dipejamkannya mata, terlintas dipikirnya andai dapat berkomunkasi dengan kedua sosok itu.
Tentu akan banyak pertanyaan yang hendak diajukan. Mulai kisah perjalanan para pendahulunya, kultur budaya, peristiwa masa lalu, hingga pandangan politik yang berpendar dari akal pikir mereka. Sehingga ia berharap mampu meretas, detail asam deoksiribonukleat keduanya. Menurut kabar tipis yang didengarnya, mereka sosok tangguh, humanis, serta sangat ideologis.
Mengingat pada masa kini, perihal tersebut tak melekat dan menurun kuat ke anak cucunya. Kemampuan akar tunggang keteguhan, berubah menjadi akar serabut. Sisi ideologis lagi humanis itu tercerabut secara biologis. Tergerus oleh deras laju zaman. Serta pudar oleh sifat iri dengki, serakah, serta haus kekuasaan. (Bersambung)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...
Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...
Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tem...
“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go ...
Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...

Belum ada komentar.