AveSticker

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Datang Tepat Waktu

Jun 06 202611 Dilihat

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala Dunia adalah undangan resmi untuk itu.

Menjelang turnamen, banyak hal berubah dengan kecepatan yang mencurigakan. Jersey yang setahun tidak disentuh tiba-tiba muat lagi. Bendera yang entah disimpan di mana mendadak ditemukan. Timeline yang kemarin isinya promo diskon sekarang penuh analisis taktik. Orang yang minggu lalu masih bertanya “offside itu apa?” kini sudah nyaman menyebut “high press” sambil mengangguk serius.

Sepak bola internasional memang punya kemampuan unik: membuat semua orang terlihat paham, minimal selama tidak ada yang meminta penjelasan lebih dari dua kalimat.

Masalahnya sederhana. Negara kita tidak benar-benar ikut di dalamnya. Piala Dunia selalu dekat sebagai tontonan, tapi tetap jauh sebagai keikutsertaan. Harapan itu ada, tapi biasanya disimpan di tempat yang sama dengan resolusi tahun baru—dibuka, dibaca, lalu dilipat lagi dengan rapi. Di Indonesia peristiwa ini masyhur dengan, Tragedi Natal 2024.

Akhirnya, seperti biasa, kita melakukan hal paling logis: memilih negara lain.

Pilihan ini jarang dimulai dari sesuatu yang serius. Kadang karena suka warna jerseynya. Kadang karena satu pemain yang sering muncul di highlight. Kadang karena teman sebelah sudah pilih duluan dan tidak enak kalau beda sendiri. Tapi setelah pilihan dibuat, narasinya langsung dinaikkan levelnya.

Tiba-tiba semua jadi personal.

Di titik ini, lahirlah kalimat sakral yang hampir tidak pernah absen:

“Gue dukung Inggris dari dulu.”
atau
“Argentina itu udah lama banget, bro.”

Masalahnya, “dari dulu” ini sering kali punya arti yang sangat kreatif. Bisa berarti sejak kecil, bisa juga berarti sejak fase grup diumumkan beberapa waktu lalu. Tidak masalah. Yang penting terdengar konsisten.

Ini bukan kebohongan. Ini strategi.

Dalam sepak bola internasional, loyalitas sering kali datang lebih cepat daripada ingatan. Orang tidak benar-benar butuh sejarah panjang, cukup butuh satu alasan yang terdengar cukup meyakinkan untuk tidak terlihat baru datang.

Dan memang, tidak ada yang mau terlihat seperti penonton dadakan—meski kenyataannya semua orang datang hampir bersamaan.

Yang lebih menarik, begitu pilihan dibuat, emosi langsung ikut paket lengkap. Gol dirayakan seperti hasil investasi jangka panjang. Kekalahan disesalkan seperti ada kontribusi pribadi di dalamnya. Komentar jadi lebih tajam, debat jadi lebih serius, dan rasa memiliki muncul tanpa perlu proses adaptasi.

Seolah-olah paspor bisa berubah mengikuti performa tim.

Di sisi lain, algoritma ikut berperan sebagai penguat suasana. Timeline berubah jadi arena diskusi yang tidak pernah sepi. Semua orang punya opini, dan semua opini terasa penting. Bahkan orang yang tidak nonton full match tetap punya pendapat yang cukup panjang—biasanya berdasarkan highlight tiga menit dan satu thread Twitter.

Semakin sedikit yang ditonton, semakin percaya diri kesimpulannya.

Lalu muncullah fenomena yang tidak kalah menarik: nasionalisme yang fleksibel. Ketika tim pilihan menang, kalimatnya berubah jadi “kita”. Ketika kalah, tiba-tiba jadi “mereka”. Pergeseran ini terjadi begitu halus sampai tidak terasa aneh lagi.

“Kita mainnya bagus tadi.”
“Mereka kurang fokus di babak kedua.”
Peralihan satu kata, tanggung jawab ikut berpindah.

Tentu saja, semua ini bisa dilihat sebagai sesuatu yang konyol. Tapi jujur saja, juga cukup manusiawi. Karena pada akhirnya, yang dicari bukan sekadar pertandingan, tapi rasa menjadi bagian dari sesuatu—meski itu hanya berlangsung 90 menit dan tidak benar-benar milik sendiri.

Sepak bola memberi izin untuk itu. Untuk memilih, untuk merasa, untuk ikut larut tanpa harus punya hubungan yang sah secara administratif.

Dan ketika turnamen selesai, semuanya kembali seperti semula. Jersey masuk lemari lagi. Timeline kembali ke topik lama. Nama-nama pemain yang kemarin terasa dekat perlahan menghilang dari percakapan.

Tapi satu hal biasanya tetap bertahan: keyakinan bahwa dukungan tadi bukan sesuatu yang baru. Bahwa sejak dulu, pilihan itu sudah ada. Sudah jelas. Sudah konsisten. Meski, kalau dipikir-pikir lagi, “sejak dulu” itu mungkin dimulai tepat setelah undian grup diumumkan.

Share to

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Topik Terkait

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top