Sebagai makhluk ekonomi, memiliki banyak uang adalah harapan semua manusia. Apalagi pola kehidupan yang kian hari kian meningkat dan harga kebutuhan pokok yang semakin mahal. Namun, hal tersebut tak lantas menutup mata bagi orang-orang kaya untuk saling berbagi.

Berbagi kepada sesama manusia membuktikan kedermawanan seseorang. Terdapat tradisi unik ketika momentum Bulan Ramadhan tiba. Para penguasa uang, membagi-bagikan kekayaannya kepada mereka yang minus dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka mengharap kedermawanan seseorang agar dapat mengeluarkan hartanya.

“Pak, nyuwun zakate.” Celetuk pria setengah baya yang tengah berdiri di depan pagar kokoh. Ia berharap agar mendapatkan kenikmatan Tuhan yang dititipkan melalui pemilik pagar rumah. Dengan memasang ekspresi wajah memelas pria paruh baya tersebut seolah ingin menujukkan bahwa ia pantas menerima zakat.

Setelah menunggu beberapa menit, seorang anak kecil mendekati ke pria paruh baya tersebut. “Besok saja kata kakek,” celetuk anak kecil tersebut. Pria paruh baya tersebut kemudian pergi.

Keesokan harinya, pria tersebut datang kembali untuk menagih janji. Oleh pemilik rumah, ia dipersilakan masuk ke dalam rumah. Pria tersebut kemudian menjelaskan kepada pemilik rumah bahwa ia adalah seorang tukang becak dan bermaksud meminta zakat.

Terjadi diskusi panjang antara keduanya tentang arti zakat. Ia menceritakan tentang zakat dan shodaqoh, bahwa zakat merupakan kewajiban seorang muslim untuk memenuhi rukun Islam. Zakat juga bisa diberikan kepada siapapun tanpa memandang status sosial. Shodaqoh juga kebutuhan seseorang untuk mengungkapkan rasa syukur atas yang diberikan allah kepadanya.

Setelah terjadi perbincangan yang panjang, si pemilik rumah bercerita bahwa ia dulunya adalah seorang pembantu nelayan. Ia biasanya mengantarkan ikan dari kapal ke tempat pelelangan. Ia berkeinginan untuk menjadi seorang tengkulak ikan yang kaya. Atas keinginannya tersebut, ia bekerja keras.

Ketika mendapatkan bayaran, tak lupa ia menyisihkan hasil kerja kerasnya. Biasanya, ia menngambil 5% dair total bayarannya untuk disodaqohkan kepada para janda dan anak yatim disekitar kampung pesisirnya. Hal tersebut ia maksudkan untuk membuktikan rasa syukur atas nikmat yang ia terima.

Sebagai seorang pemula, pendapatan yang ia terima masih kalah dibandingkan dengan temannya. Apalagi temannya memiliki kapal sediri. Namun, keduanya tetaplah berbeda. Mereka berdua sangat berbeda dalam mensyukuri nikmat. Jika ia biasanya bershodaqoh kepada anak yatim dan janda, temannya lebih gemar bershodaqoh di meja judi.

Suatu ketika, keadaan berbalik arah, kapal temannya mengalami kerusakan. Alam, ikan dan kenaikan harga bbm sedang tidak bersahabat dengan pemilik kapal. Sehingga lebih menguntungkan seorang tengkulak karena ia bisa menaikkan harga ikan. Para nelayan mengalami resiko dan kerugian. Sedangkan, tengkulak bisa untung lebih besar.

Dengan ketekunannya, perkembangan usahanya semakin meningkat. Ia memiliki banyak mitra untuk memasarkan ikan. Sedangkan, temannya kembali ke pekerjaan semula, menjadi nelayan yang menumpang ke kapal orang.

“Apakah becak yang sampean gunakan itu punya sendiri?”
“Iya, itu punya saya sendiri, warisan ayah saya yang sudah meninggal.”
“Seharusnya kamu bisa jadi juragan becak, karena sampean sudah memiliki. Apalagi itu warisan, jadi sudah paham cara mengatur bagaimana bisa menjadikan juragan becak.”
“Apakah sampean tidak malu, pemilik becak meminta zakat kepada pelayan pengantar ikan?”

Sebelum pertanyaan dijawab, terdengar suara adzan yang menandakan peringatan sholat dzuhur. Sang pemilik rumah mengakhiri pembicaraan. Sebelum masuk untuk mengambil sembako, ia berpesan bahwa kelancaran perekonomian itu tergantung bagaimana cara kita meluapkan rasa syukur yang telah diberikan kepada Tuhan. Kekayaan yang hakiki bukan pada kepemilikan jumlah uang atau tanah yang banyak. Namun pada jumlah syukur dan ikhlas yang kita panjatkan tiap detiknya.

 

Sumber gambar: http://pondoktremas.com/wp-content/uploads/2016/04/Jangan-Lupa-untuk-Saling-Berbagi.jpg