Judul: Vox Populi Vox Dei
Penulis: Benny Susetyo
Pengantar: Franz Magnis-Suseno
Penerbit: Averroes Press
Tahun: 2004
Tebal: 194
ISBN: 9799711622

Benny Susetyo, atau Rama Beny sebagaimana ia dikenal akrab untuk pertama kali muncul di depan publik sesudah “peristiwa Situbondo”. Di mana pada satu hari di bulan Oktober 1996 semua 25 gereja di Situbondo dan sekitarnya dihancurkan secara amat sistematik dan terorganisasi oleh sebuah mob massa yang sebagian diketahui diangkat dengan truk-truk dari daerah yang lebih dari seratus kilometer jauhnya. Sebuah pengalaman yang traumatik bagi umat kristiani Indonesia. Seperti di puluhan peristiwa serupa kemudian –yang paling mengerikan dan jahat perencanaannya di antaranya tentu peristiwa tanggal 12 sampai 15 Mei 1998- tak ada seorang pun ditarik ke pengadilan dalam kaitan dengan peristiwa Situbondo. Malahan kemungkinan besar, para perencana dan dalang peristiwa-peristiwa itu –bajingan-bajingan kriminal yang seharusnya sudah lama berada di balik terali penjara– sekarang menikmati kehidupan terhormat dalam lingkungan elit di negara ini, diundang ke resepsi-resepsi dan duduk di baris-baris pertama reuni-reuni. Zaman édan!

Itulah sepenggal komentar dari Frans Magnis-Suseno saat mengantarkan buku ini. Buku ini merupakan kumpulan refleksi karya Romo Benny, yang pernah dan belum dimuat di media massa. Pernah suatu kali kami bertanya, apa guna menerbitkan tulisan-tulisan yang sudah pernah dimuat di media massa, dan dengan demikian sudah pernah dibaca banyak orang? Pertanyaan itu kami lanjutkan, apa guna menerbitkan suatu tulisan refleksi? Pertanyaan itu dijawab bahwa urgensi mempublikasikan ulang suatu karya, bagaimanapun sederhananya, tetap penting di tengah perilaku bangsa, terutama para pejabatnya, yang tak kunjung membaik, bahkan semakin memburuk.

Kumpulan Refleksi

Refleksi atas suatu kasus, baik yang sudah dipetieskan ataupun yang sedarng direncanakan untuk dipetieskan, bagi kami sangat dan teramat penting sebagai proses perekaman. Tidak saja bermanfaat bagi kita sekarang yang sedang hidup menyaksikan tabiat para pejabat yang semakin korup, melainkan yang penting adalah untuk memberitahukan kepada generasi mendatang, bahwa mereka pernah dikuasai oleh para pejabat yang sebagian besar bermental korup. Mereka perlu diajari bahwa tidak mudah mengurus bangsa yang plural dan yang memiliki sumberdaya alam melimpah. Perkara “tidak mudah” itu berkaitan lazimnya dengan proses berpikir para penguasa despot, “Kepada siapa ini akan saya berikan dan manfaatkan?”, “Kepada saya sendiri atau partai saya?”.

Refleksi ke belakang mungkin bagi banyak orang tidak penting, melankolis. Bagi kami tidak, ia sangat penting sebagai proses perekaman sejarah agar ia tidak diselewengkan oleh penguasa berikutnya. Sejarah perlu dicatat oleh semua masyarakat kita, agar ia tidak putus di tengah jalan, sebagaimana kita saksikan dalam perjalanan sejarah Indonesia dari masa Orla ke Orba ke Orde Reformasi. Sejarah akhirnya hanya menjadi miliki jenderal pemenang perang. Ia-lah satu-satunya pihak yang berhak menyatakan kebenaran.

Sudah saatnya para elit politik berani mempergunakan kekuatan untuk membuka mata hatinya. Mengapa mata hatinya dibiarkan buta, mengapa kekuatan dan kekuasaannya tidak dijadikan sebagai alat untuk membuka dan mendobrak mata hatinya? Akhirnya dengan buku ini semoga para elit mau menggunakan indera-inderanya secara sempurna untuk mengetahui apa yang sebenarnya dialami rakyat. Diharapkan mereka menjadi sadar bahwa fasilitas yang terbaik bukan semata-mata untuk memperkaya diri sendiri tetapi untuk bekerja keras dan mengabdi.