Suatu ketika Subur ngambek. Entah apa alasannya, ia marah pada emak bapaknya. Sudah 3 hari ini ia tak pulang. “Aku minggat,” begitu katanya sambil menenteng buntelan sarung berisi gombal. Jangankan minggat, mati pun ia berani, cuma 1 hal yang ia takuti, lapar.

Itulah mengapa ia tak berani minggat terlalu jauh. Yang penting tak pulang, begitu pikirnya. Numpang tidur di mushola desa sebelah adalah pilihan paling menguntungkan baginya. Semua marbot penghuni mushola ia minta untuk bungkam. Asal bapak ibunya tak tahu, bersembunyi di mushola pun sudah terhitung minggat. Toh tak ada bedanya minggat ke Jakarta atau di mushola desa tetangga, kalau sama-sama tak ada yang tahu ia sedang di mana.

Hari pertama keminggatannya, ia jalani dengan sukses, Pak Heru ketua RT berbaik hati membawakan tahu goreng seusai berjamaah sholat magrib. Hari kedua ia mulai risau, tak ada makanan yang disumbangkan. Hari ketiga ia pun kelaparan. Dalam keminggatan dan keputusasaan ia memanjatkan doa di sepertiga malam terakhir, “Ya Allah, kulo nyuwun wareg” (Ya Allah, saya minta rasa kenyang). Hari ke empat, ia pun tak kuat. Ia terpaksa berdamai dengan kemarahannya sendiri dan pulang ke rumah orang tuanya.

Begitulah sepenggal cerita tentang doa Subur. Di tempat dan waktu yang suci pun, Allah tak mengabulkan permohonan hamba-Nya.

Subur hidup di zaman kegondrongan Rhoma Irama. Masa di saat peradaban manusia belum mengenal Facebook Twitter dan Instagram. Belakangan muncul fenomena doa yang serupa tapi tak sama. Antitesis terhadap konsep doa permohonan rasa kenyang versi Subur.

Di zaman Prof. Rhoma Irama yang baru saja mencalonkan presiden, sering kita temui bermacam doa yang dimohonkan manusia lewat facebook, twitter, instagram dan sebagainya. Seseorang yang sedang makan di restoran misalnya, memfoto makanannya kemudian mengunggah di Instagram seraya berkata, “Alhamdulillah, semoga esok dapat makan gratis yang lebih enak”. Para jomblo pun tak kalah, update status di Facebook, “Ya Allah jika ia memang jodohku, lancarkanlah. Jika bukan, maka Jodohkanlah. Aamiin”.

Bagi para penganut paham sinisme, berdoa di media sosial adalah perbuatan sia-sia. Dianggap alay atau hobi pamer. “Doa ya di masjid bukan di twitter”, “Kalau semua amal kau catat di media sosial, lantas malaikat harus mencatat apa?”. Bagi saya, pendapat semacam ini ada benarnya tapi lebih banyak salahnya.

Menyimlifikasi tempat berdoa hanya di masjid atau mushola adalah doa besar. Mengingkari sifat-sifat Allah. Apa kau kira Allah itu gaptek lantas ndak bisa ngakses Twitter dan Facebook. Allah itu Al-Alim. Memiliki pengetahuan yang sempurna, pengetahuan yang tak ada sedikitpun cacatnya.

Doa manusia kepada tuhannya tak terikat ruang dan waktu. Kalau Allah berkehendak, mau doanya dikirim lewat Twitter, Facebook, atau Friendster sekalipun, ya bakal tetap dikabulkan. Yang terpenting bukan soal tempat atau medianya, tapi soal seberapa ikhlas doa dan seberapa keras ikhtiarnya. Kalau saja Subur minggat ke Masjidil Haram misalnya, trus berdoa mohon wareg tanpa diikuti usaha dan kerja, mbok sujud sampai meloncot jidatnya yo gak bakal nambah isi perutnya.