Tentang Manusia dan Tuhannya

Penerbit              : Jalasutra

Penulis                 : Leo Tolstoy

Tebal                     : 399 hal

Leo Tolstoy merupakan  sastrawan klasik Rusia terbesar yang berpengaruh luas dalam pembentukan perkembangan sastra dunia modern. Dia juga seorang pemikir sosial dan moral terkemuka. Karyanya bercorak realis dan bernuansa religius sarat renungan moral dan filsafat. Selain menulis dua buah masterpiece yang membuat namanya terus hadir dalam ingatan setiap pembaca sastra, yakni War and Peace dan Anna Karenina. Sejumlah ceritanya pun abadi, dibaca sepanjang masa dari generasi ke generasi. Karya sastra yang oleh ahli kritik dianggap merupakan salah satu masterpiece aliran realism psikologis. Kita bisa mendapatkan banyak hal dari membaca buku ini, baik implisit maupun eksplisit. Setidaknya karena Tolstoy adalah contoh terbaik karya klasik.

Dalam buku kumpulan cerita ini ada sebelas cerita yang berkaitan dengan perjalanan spiritual. Bukan sekedar spiritual-agama, melainkan apapun kisah yang menjadi inspirasi renungan hidup. Melalui eksplorasi psikologis, Tolstoy memaparkan makna yang lebih dalam tentang suatu hal yang terlihat sederhana. Dari karya-karyanya yang bercorak realis, bernuansa religius, renungan moral, dan filsafat, Tolstoy terbukti sebagai seorang pemikir sosial dan moral. Gagasan yang kontroversial dan tidak lazim di masa itu membuatnya dicap sebagai anarkis.

Kumpulan cerita yang dipilih dalam buku ini boleh disebut sebagai kumpulan cerita terbaiknya. Di antara cerita yang sudah sangat legendaris adalah “Ilyas”, ”Alyosha”, “Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?”, “Ziarah”, “Tuhan dan Manusia”, dan juga “Matinya Ivan Ilyich”.

Di antara beberapa cerita tersebut, dipilih cerita Matinya Ivan Ilyich untuk diulas dalam tulisan ini. Ivan Ilyich seorang birokrat sejati, yang dengan keluwesan dan kepintaran berpura-pura mampu menjadi orang penting di sebuah Provinsi. Dia diberitakan mati karena sakit yang tak dapat disembuhkan. Di tengah siksa sakit itu, ternyata dia masih merasakan ketulusan. Dan pada akhirnya menerima takdir sebagai makhluk, justru dari seorang jongos bernama Gerasim. Bagaimana di ujung hidupnya yang mengenaskan, harus menghadapi kematian dengan rasa sakit. Justru Ilyich perlahan-lahan terpengaruh oleh pemikiran sederhana pembantunya yang ikhlas; bhawa mati itu alamiah, niscaya. Interaksinya dengan Gerasim mampu mengakhiri hidupnya dalam damai.

Satu cerita tersebut menunjukkan ide religius Tolstoy yang mengajarkan gerakan moral dengan bersikap zuhud, hidup sederhana, dan hidup dengan upaya sendiri. Memaparkan cerita dengan aliran humanisme universal yang bisa dipahami dan berlaku bagi semua kalangan pembaca. Meski sangat kental dengan penceritaan religius, cerita yang ditulis Tolstoy tidak mengajarkan satupun agama yang menjadi keyakinannya. Membacanya adalah cerita tentang manusia dengan tuhannya, Tuhan semua manusia semua agama. Sehingga, buku ini layak dibaca oleh siapapun dengan keyakinan Tuhannya masing-masing.