Judul: The Gigolo
Sutradara: Au Cheuk-man
Pemain: Dominic Ho, Candy Yuen, Jeana Ho, Hazel Tong, Pal Sinn, Elena Kong
Produksi: Cameron Entertainment See Movie
Tahun: 2015

Keberhasilan The Gigolo tergolong sangat fantastis. Dalam jangka waktu 20 tahun terakhir, tidak ada film kategori 3 (softcore/ parental guide) yang meraup keuntungan sebesar film ini. Dengan biaya produksi sebesar US$ 1 Juta, film ini mendapat keuntungan US$ 4 juta dalam waktu 4 hari dan US$10 juta dalam kurun waktu seminggu.

Kesuksesan dan besarnya pendapatan tidak selalu paralel dengan kualitas film. Termasuk film ini, Alasan di balik kesuksesannya adalah banyaknya adegan telanjang dan hal-hal kontroversial. Diberitakan bahwa scene telanjang Candy Yuen (salah satu pemeran yang juga merupakan mantan Miss Hong Kong) telah bocor sebelum pemutaran perdana film ini. Tentu hal ini menimbulkan perbincangan hangat masyarakat kemudian mendorong rasa penasaran mereka untuk menonton.

The Gigolo dibuka dengan sekilas gambar penis berukuran besar, jadi jelas bahwa film ini bukan tujuan anda jika yang anda niatkan adalah kualitas karya seni. Apalagi jika anda sedang mencari referensi mengenai fenomena prostitusi laki-laki.

Ho Kui-Fung (diperankan oleh Dominic Ho), seorang pemuda baik-baik memulai bekerja di klub malam milik sepupunya Hung (diperankan oleh Elena Kong) sebagai seorang cleaning service. Pekerjaan itu ia lakukan secara terpaksa setelah dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi dengan kawannya. Secara tidak sengaja ia kemudian menjadi gigolo favorit bagi para pelanggan tetap klub, termasuk Yoyo (Hazel Tong) dan Michelle (Candy Yuen).

Suatu hari Michel mengajak Fung ke kapal pesiar pribadinya untuk melayani banyak ibu rumah tangga. Atas kejadian itu Fung merasa direndahkan kemudian meminta pelatihan dari Abson, seorang mantan gigolo terbaik sepanjang masa. Segera ia menjadi seorang gigolo terbaik mewarisi kemampuan Abson. Michelle kemudian menginginkan Fung melayaninya secara eksklusif sesuai permintaannya.

Titik balik kemampuan Fung tidak hanya karena peningkatan keterampilan pelayanan tetapi ada kemampuan pengendalian psikologis bagi dirinya maupun para pelanggannya. Pelajaran terpenting yang diperolehnya dari Abson adalah “Menangkan hati seorang wanita dan kau akan memenangkan dunia.” Pengendalian atas pikiran dapat memunculkan kekuatan penguasaan yang tak terbatas atas perempuan.

Film ini juga menyajikan cerita percintaan yang cukup serius dalam sosok Chloe (diperankan oleh Jeana Ho). Seorang sutradara dalam film Raja Gigolo. Chloe yang tidak mengetahui Fung adalah benar-benar seorang gigolo menyeretnya ke dalam dunia perfilman. Inilah titik mula babak film yang dipenuhi dengan plot dan scene melodrama.

Sayangnya, kisah cinta antara Fung dan Chloe jauh dari kriteria menarik. Skenario garapan Au Cheuk-Man hanya menawarkan emosi asal-asalan, dan lebih banyak menawarkan lelucon seksualitas, seperti pelatihan Fung dalam “seni gigolo” (seperti yang ditunjukkan dalam scene analogi bermain wanita seperti bermain piano), Adegan kematian ayah Fung di pertengahan film yang semestinya menjadi tangga tanjakan menuju titik klimaks justru diperankan dengan serampangan, baik Fung maupun ayahnya tidak sedikit pun meneteskan air mata. Beberapa scene lelucon nampak jelas, tapi di beberapa sisi sulit diketahui maksud sutradara untuk tujuan keseriusan atau sindiran.

Sekali lagi, banyaknya kekurangan dalam film ini menjadi kewajaran karena dibuat untuk sekadar memuaskan fantasi seksual pasar.

 

Baca Juga : Resensi Film The Gigolo 2

3 COMMENTS