Didominasi Intrik Politik, Dibumbui dengan Cerita Asmara

Gajahmada, Bergelut dalam Takhta dan Angkara

DUKA menyaput seluruh warga Majapahit pada 1328 M. Raja Majapahit Jayanegara tewas setelah diracun Ra Tanca, seorang tabib mayshur Majapahit. Junjungan para kawula Majapahit tersebut terbunuh Ra Tanca dengan modus mengobati Jayanegara yang sedang sakit parah.

Tanpa banyak cakap, Patih Majapahit Gajah Mada yang mengundang Ra Tanca untuk mengobati Jayanegara langsung menikam tepat di ulu hati. Ra Tanca yang siap dengan apapun yang terjadi langsung tergolek tak bernyawa. Dalam keadaan sakaratul maut itu, dia mengucap sebuah kata penting. Bukan syahadat atau penegasan atas kesiapan mati. Tapi sebuah kata sandi yang penting saat pemberontakan Ra Kuti bergolak. “Bagaskara manjer kawuryan (Matahari terang benderang, red),” kata Tanca lantas menghela napas terakhirnya di dunia.

Potret kematian Prabu Jayanegara itu memang ada pada bagian terakhir Buku Gajah Mada terbitan pertama. Kata kunci yang diucapkan Ra Tanca tersebut cukup membelalakkan mata. Sebab, sandi tersebut kerap digunakan Ra Tanca yang berdiri di belakang Ra Kuti untuk memberi petunjuk eksklusif kepada Gajahmada. Hal itu yang membuat Gajah Mada sangat percaya kepada Ra Tanca untuk mengobati Jayanegara.

Namun, kesempatan itu dinodai Tanca untuk membalas dendam tujuh Dharmaputra Winehsuka, termasuk dirinya. Beberapa keterangan dalam buku ini menyebut Ra Tanca melakukan hal itu karena Tanca pernah diludahi oleh Jayanegara. Sebab, Tanca mengaku kepada Jayanegara bahwa dia mempunyai perasaan cinta kepada Sekar Kedaton alias adik Jayanegara sendiri, Prabu Putri Dyah Wiyat.

Terang saja, dua dendam lama Ra Tanca itu terbalas sudah meski harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Tapi, buku kedua Langit Kresna Hariadi yang berjudul “Gajahmada, Bergelut dalam Takhta dan Angkara” ini tidak sedang menceritakan hal itu secara detail. Buku setebal 508 halaman terbitan Tiga Serangkai Solo pada 2006 itu dengan rinci menceritakan keadaan Majapahit sepeninggal Jayanegara. LKH melalui potongan sejarah berdasar riset lapangan kecil-kecilan merangkai sebuah cerita yang tragedik, dramatik, sekaligus roman.

Penulis kelahiran Banyuwangi 52 tahun lalu itu memulai goresan ceritanya dengan setting pemakaman Jayanegara. Berdasar perintah para ratu, Jayanegara akan diperabukan dan dicandikan di dalam pura di Silapetak, Bubat dan di Sukhalila.

Sebagaimana umat budha kebanyakan, pemakaman Jayanegara ditandai dengan arca Dewa Wisnu sebagai perwujudannya pada dua candi pertama. Sedangkan di Sukhalila, Jayanegara diarcakan dengan arca Amoghasidhi. Pekerjaan yang berat itu ditugaskan kepada Gajah Enggon alias Gajah Pradamba sebagai plt kepala Pasukan Bhayangkara menggantikan Gajahmada. Gajahmada sendiri saat itu menjadi Patih Daha mendampingi Prabu Putri Sri Gitarja.

Bukan cerita pemakaman itu yang menjadi fokus cerita LKH. Justru momen pergantian kepemimpinan seperti itu yang menarik disimak karena sangat rawan dengan tindakan makar. Jangankan perpindahan kekuasaan akibat raja yang mangkat, perpindahan kekuasaan karena raja mengundurkan diri secara biasa saja mengundang banyak aksi makar karena ketidakpuasan golongan tertentu. Sekali lagi, status quo pemerintahan Majapahit saat itu langsung berada di bawah kendali Patih Gajahmada di bawah supervisi Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri.

Istri keempat Raden Wijaya sekaligus ibu kandung tiga bersaudara, Jayanegara-Sri Gitarja-Dyah Wiyat, itu didapuk mengisi kekosongan kekuasaan Majapahit atas kesepakatan Ngarso Dalem atau para ratu. Empat dari lima istri Raden Wijaya yang masih hidup itu adalah Ratu Tribhuaneswari, Ratu Narendraduhita, Ratu Pradnya Paramita dan Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri sendiri. Dia dinilai mempunyai hati yang bersih untuk dipilih mengisi kekosongan dampar kencana (singgasana, red). Sebab, satu dekade sebelum musibah itu terjadi, Gayatri memilih menjauhi urusan dunia dengan menjadi rohaniwan. Mata hati ratu Biksuni dinilai paling jernih diantara empat ratu.

Mulailah drama, tragedi, dan pernak-pernik yang menjadi inti penting buku ini. Apalagi kalau bukan seputar kudeta merangkak seputar orang dalam istana. Sesuai garis keturunan, Majapahit mempunyai dua pewaris tahta yang merupakan adik Jayanegara. Sayang, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat merupakan seorang perempuan. Meski belum ada aktivis dan isu kesetaraan gender, Majapahit saat itu berani mengangkat raja perempuan. Jauh sebelumnya, buku tersebut menyebut Putri Shima, yang lebih dulu menjadi raja negeri antah berantah, menginspirasi kedua putri untuk siap menjadi raja.

Nah, masalahnya, dua kakak beradik sekar kedaton yang mulai menginjak dewasa tersebut sama-sama mempunyai kans menjadi raja. Keduanya juga hampir bersamaan melepas lajang untuk dinikahkan dengan dua bangsawan Majapahit. Sri Gitarja dengan pilihan Raden Cakradara, sedangkan Dyah Wiyat dengan kekasih Raden Kudamerta. Setelah pemakaman Jayanegara usai, upacara perkawinan kedua sekar kedaton dengan kekasihnya itu pun digelar. Di sinilah upaya kudeta merangkak itu dimulai.

Lalu siapa aktor utama upaya merebut kekuasaan itu? Ada beberapa tokoh yang ditampilkan LKH dalam buku ini. Namun, itu tidak terlepas dari dua wajah baru penghuni istana. Siapa lagi kalau bukan Raden Cakradara dan Kudamerta. Raden Cakradara dengan pembisik utama Pakering Suramurda alias Rangsang Kumuda yang merupakan paman kandungnya sendiri. Dia menyamar sebagai pekatik perawat kuda. Sementara, di belakang Raden Kudamerta ada Panji Wiradapa alias Brama Ratbumi, aktor utama sohib Mahapati atau Ramapati dalam pemberontakan Lumajang.

Sepanjang hari menjelang pemakaman Jayanegara, Majapahit diguncang dengan pembunuhan-pembunuhan misterius. Penulis berusaha mengajak rasa penasaran pembaca melalui misteri pembunuhan ini. Satu sama lain jelas saling terkait dan bertautan. Beberapa petunjuk informasi setiap peristiwa kematian itu terus digali keterkaitannya. Persis dengan upaya orde baru menciptakan stabilitas masyarakat di era 1980-an yang dikenal dengan petrus atau penembak misterius. Para sampah masyarakat diberangus habis dengan mayat dibiarkan di lokasi kejadian. Tapi, yang ini jelas bermotif memuluskan jalan salah satu suami dua sekar kedaton itu untuk menjadi raja.

Usut punya usut, seluruh sekuel pembunuhan yang terjadi pada masa transisi tersebut sangat merugikan Raden Kudamerta. Sebab, seluruh orang dekat Kudamerta dibabat habis, termasuk Panji Wiradapa sendiri. Bahkan, Kudamerta sendiri menjadi incaran seorang pembunuh bayaran hingga dadanya tertusuk lemparan pisau saat upacara pemakaman. Nyawanya nyaris melayang.

Isu yang beredar, semua setting pembunuhan tersebut diotaki oleh Raden Cakradara bersama Rangsang Kumuda alias Pakering Suramurda. Namun, sepertinya setting opini ala potong bebek angsa itu cukup membuat nama Kudamerta melambung. Nama Cakradara tercoreng akibat opini publik yang beredar tersebut.

Di bagian lain, nama Kudamerta melambung dan kian mendapat simpati publik setelah rentetan peristiwa pembunuhan itu. Namun, lagi-lagi kudamerta bukanlah pilihan terbaik dari yang terburuk. Pewaris tahta Pamotan itu juga mempunyai cacat yang hampir sama dengan Cakradara. Malah lebih fatal karena menyangkut harga diri sebagai laki-laki.

Kudamerta, seperti diceritakan LKH, ternyata telah beristri dan mempunyai seorang anak laki-laki. Jadi, perkawinan yang terlanjur terjadi dengan Dyah Wiyat itu merupakan perkawinan keduanya tanpa memutus ikatan pertama. Putri kandidat raja mana yang mau dijadikan istri kedua? Bisa jadi, Ratu Elizabeth II dari Inggris atau Ratu Wilhemina dari Belanda kompak menjawab emoh dengan pilihan itu. “Ih, najis tralala-lala deh,” kata keduanya dalam obrolan suara hati.

Yang jelas, cerita ini dipenuhi dengan intrik politik dan tragedi kemanusiaan perebutan kekuasaan. Misteri-misteri yang ditampilkan melalui 44 bagian tulisan mengundang rasa penasaran yang tidak ada habisnya. Kemampuan terbaik LKH melalui studi sosiologis, historis dan antropologis juga tertuang dalam buku ini. Tidak ada ruginya bila anda baca habis buku ini. (*)

3 COMMENTS

  1. Tahukan anda, sebuah penerbitan Yogya pernah menolak novel ini.Bahkan meremehkan..
    Saat novel ini lamat-lamat menjadi bestseller, sang penerbit pelan-pelan malah mati..