Judul: Testament of Youth
Sutradara: James Kent
Pemain: Alicia Vikander,Kit Harington, Colin Morgan, Emily Watson, Hayley Atwell, Dominic West, Miranda Richardson
Produksi: BBC Films
Tahun: 2014

Film biografi yang diangkat dari kisah nyata kehidupan seseorang seolah memiliki daya magis untuk ditonton. Biasanya, penonton mendapatkan inspirasi segar dari film tersebut. Tidak terkecuali Film Testement of Youth yang juga merupakan sebuah novel autobiografi.

Dalam Film Teastement of Youth, perempuan muda bernama Vera Brittain adalah sosok yang inspratif bagi penontonnya. Vera berjuang hidup di tengah keputus asaan tentang cinta. Beberapa orang yang ia cintai, meninggalkannya akibat Perang Dunia I. Akan tetapi, Vera tetap berjuang untuk diri dan lingkungannya. Vera tetap menulis, bersamaan juga dengan aksi sosialnya menjadi tim medis untuk korban perang dunia.

Kehidupan ditengah Kehancuran

Vera dilahirkan dari keluarga kaya di Inggris dan memiliki seorang adik laki-laki bernama Edward. Awalnya, Vera dilarang untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi oleh ayahnya. Sebab, ayahnya berfikir bahwa tidak ada gunanya seorang perempuan bersekolah tinggi dan menjadi sarjana. Namun Edward membantu, dengan meyakinakan Ayahnya agar Vera dapat menapatkan izin sekolah di Somerville College Oxford. Izin itupun didapatkan dan Vera berangkat ke Oxford.

Sebelum berangkat, Vera terlebih dahulu menaruh hati dengan Roland Leighton. Hati Vera bagaikan bunga bermekaran di musim semi setelah Roland memberikan puisi romantis lewat sela-sela bawah pintu kamarnya. Hingga beberapa kali mereka saling berbalas surat dan puisi romantis.

Kalimat cinta dari Roland yang mesra dan menusuk seringkali membuat Vera tidak mudah untuk cepat tidur. Sayang, Vera harus berhubungan jarak jauh dengan Roland. Ketika Roland memutuskan untuk masuk pasukan militer Inggris. Di saat itulah bunga itu sedikit demi sedikit dihempas angin.

Selain Roland, beberapa kerabat laki-laki, termasuk saudaranya, juga meniggalkannya untuk berperang. Ini membuat kuliahnya tidak tenang. Beberapa surat kabar mengabarkan kehancuran dan kematian. Tetapi Vera terus menulis, termasuk surat untuk Roland, meski tak berbalas. Vera mulai sering menyimak berita duka perang di salah satu halaman koran. Berharap agar tinta tidak menggoreskan nama Roland, Edward, dan kerabatnya.

Pada saat Roland pulang dalam beberapa hari, Vera dijanjikan sebuah pernikahan yang tidak akan lama lagi. Seolah harapan adalah embun yang menetes di waktu fajar, Vera menyambut ajakan Roland dengan hati yang berbinar-binar. Sayang, harapan ini akhirnya kandas karena suatu alasan.

Vera tidak larut dalam kesedihan. Dengan pendirian yang kuat Vera kemudian mendaftar menjadi perawat bagi korban perang di Voluntary Aid Detachment. Hatinya merasa terpanggil untuk turut berjuang dalam perang, meski tidak dalam barisan terdepan. Kabar kemudian datang tentang kematian adiknya dan beberapa kerabatnya.  Bisnis orang tuanya mulai bangkrut setelah perang tak berkesudahan.

Vera yang Inspiratif

Kegigihannya dalam menggapai cita-cita kuliah di Oxford menjadi inspirasi bagi kita. Ia harus berjuang untuk menaklukkan hati ayahnya yang memiliki anggapan sama dengan kebanyakan orang tua lain di Inggris waktu itu. Tidak sampai di situ, Vera juga harus berpikir keras untuk dapat bersaing dengan peserta tes masuk Oxford lainnya. Keberaniannya untuk menjadi bagian dari perang adalah sebuah pengambilan keputusan dalam hidup yang tidak mudah.

Vera terpaksa harus memberanikan diri melihat darah secara langsung yang terus mengalir dari tubuh korban-korban perang. Pasca perang beberapa orang berkumpul dalam dialog terbuka, melontarkan aspirasi terkait kehancuran perang yang harus dibalas. Vera dengan idealisme yang tinggi, berbicara di depan umum agar perang untuk tidak dimulai lagi sebab telah banyak membuat duka daripada kemenangan. Vera menjunjung tinggi perdamaian dengan sejuta arti tentang hakikat kemanusiaan.

Keberanian, aksi sosial, dan Idealismenya, membuat ia juga termasuk dalam salah tokoh feminisme yang turut dikaji hingga hari ini. Sampai hari ini Vera tetap abadi, karena ia menulis.